Selalu Ada Masker di Laci Kantor

Corporate Communication Analyst Astra Motor Yogyakarta, Christa Adhi Dharma. - Ist
19 Januari 2021 09:07 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pandemi Covid-19 membuat seseorang harus patuh terhadap protokol kesehatan. Selain menggunakan masker, masyarakat harus mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga jarak agar tidak terpapar penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 tersebut.

Kebiasaan baru yang riwil tersebut terkadang membuat orang bosan. Selain merepotkan, juga dipandang tidak praktis. Namun tidak bagi Christa Adhi Dharma atau Dida. Pria yang menjabat sebagai Corporate Communication Analyst Astra Motor Yogyakarta itu justru sudah terhanyut menikmati kebiasaan baru dalam hidupnya.

Baginya, bepergian tanpa menggunakan masker hanya akan membuat hati tak tenang. Terlebih jika melihat orang yang berinterkasi dengannya lalai akan protokol kesehatan itu. “Rasanya saat orang yang didekat kita tidak pakai masker, mereka ngobrol terlalu dekat, bikin kita jadi enggak nyaman sendiri,” tuturnya kepada Harianjogja.com, Senin (18/1/2021).

Pria yang lahir di Gunungkidul 32 tahun yang lalu itu juga tidak merasa kerepotan saat kemana-mana harus membawa hand sanitizer. “Saya justru akan merasa terganggu saat tak ada hand sanitizer di tas saya. Makanya di semua tas selalu ada [hand sanitizer]. Mau tas kerja, tas selempang, atau tas olahraga,” tuturnya.

Begitu juga dengan masker yang selalu ada di laci kerja maupun di laci mobilnya. “Meski satu plasik isi lima [masker] pasti ada [masker],” kata pria yang suka makan nasi goreng dan sate kambing ini.

Bagi Dida, keberhasilan penerapan protokol kesehatan ada pada diri masing-masing. Menurutnya percuma jika seseorang gencar melakukan sosialisasi terkait protokol kesehatan tetapi dirinya sendiri terkadang membuka masker saat berbicara dengan orang lain. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk memulai tertib prokes dan membiasakannya dalam setiap kegiatan sehari-hari.

“Bagi saya, teladan lebih baik dari seribu nasehat. Prokes ini enggak bisa diomongin tapi harus dipraktekkan,” tutur dia.

Dida menganggap pandemi Covid-19 ini membuatnya menemukan alternatif kegiatan yang paling masuk akal. Salah satunya dalam hal berolahraga.

Ia termasuk penyuka olahraga basket, badminton, dan fitnes. Namun karena olahraga itu mengharuskan bertemu dengan banyak orang dan juga dilakukan di ruang tertutup yang rawan penularan virus Covid-19, ia pun mencari alternatif olahraga yang aman.

“Saya pilih sepeda sekarang. Kalau sepedaan, kita bisa menentukan rutenya yang sepi. Mau istirahat juga cari warung yang nggak banyak orang, jadi kita bisa kontrol sendiri,” tuturnya.