Mengarah ke Barat, BPPTKG Paparkan Seberapa Besar Kemungkinan Erupsi Eksplosif Merapi

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
19 Januari 2021 21:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida didampingi Plt. Assek Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman Joko Supriyanto memaparkan perkembangan terkini kondisi Gunung Merapi dalam jumpa pers yang dilaksanakan di Pendopo Parasamya, Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman pada Selasa, (19/1/2021).

Hanik memaparkan Gunung Merapi sudah erupsi sejak 4 Januari 2021. Aktivitas erupsi tersebut berupa guguran lava pijar dan awan panas sejauh maksimal 1.800 meter yang disebut dengan erupsi efusif. “Sampai dengan saat ini terjadi 10 kali awan panas yaitu pada tanggal 7 [4 kali] , 9, 13, 16 [2 kali], 18, dan 19 Januari 2021, dominasi luncuran sekitar 500 meter,” ujar Hanik pada Selasa (19/1/2021).

Ia menyatakan potensi dan daerah bahaya erupsi Gunung Merapi sudah berubah mengingat erupsi yang cenderung bersifat efusif serta memperhatikan arah erupsi yang mengarah ke barat. “Per 15 Januari 2020, distribusi probabilitas erupsi dominan ke arah erupsi efusif 40 persen dan eksplosif 21 persen, sehingga potensi erupsi eksplosif dan kubah-dalam menurun signifikan,” ungkapnya.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer. Sedangkan, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau sejauh maksimal tiga kilometer dari puncak. “Jarak awan panas maksimal 1,8 km. Masih cukup jauh dari pemukiman yang berjarak 6,5 km,” ungkapnya.