Dinkes Sleman dan RS Intermediate Bahas Soal Bed

Petugas medis melakukan rapid tes antigen COVID-19 kepada calon penumpang Kereta Api (KA) di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Senin (21/12/2020). - ANTARA FOTO/Galih Pradipta
20 Januari 2021 08:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dinas Kesehatan dan 14 rumah sakit intermediate di Sleman akan membahas soal tindak lanjut penambahan bed bagi pasien Covid-19 Rabu (20/1/2021) ini.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan ada sejumlah upaya yang akan dilakukan oleh Dinkes untuk mengatasi kapasitas tempat tidur bagi pasien Covid-19. "Besok [hari ini] kami akan membahasnya dengan rumah-rumah sakit intermediate," kata Joko saat dihubungi Harian Jogja, Selasa (19/1/2021).

Menurut Joko, Dinkes sebelumnya telah mengedarkan surat edaran agar rumah-rumah sakit rujukan Covid-19 di Sleman dapat menambah kapasitas ruang isolasi minimal 30% dari kapasitas total bed yang dimiliki. Surat edaran tersebut sesuai arahan Menteri Kesehatan. Sejauh ini, lanjut Joko, ada tiga rumah sakit yang menambah kapasitas bed yang bisa digunakan pasien Covid-19, meliputi RSUP Sardjito, RSA UGM, dan RSUD Sleman.

Baca juga: Pertumbuhan Kubah Lava Merapi Rendah, Hanya 8.000 Meter Kubik per Hari

"RSUD Sleman sebelumnya hanya memiliki 22 kamar non kritikal dan satu kamar kritikal. Saat ini jumlahnya ditambah menjadi 30 kamar non kritikal dan dua kamar kritikal," katanya.

Dinkes juga akan mendorong percepatan pengoperasian rumah sakit lapangan darurat Covid yang rencananya akan dibangun di Kapanewon Moyudan. RS tersebut dibangun laiknya RS kelas D yang dapat melakukan persalinan dengan Covid-19, normal maupun dengan penyulit lainnya.

"Rumah sakit lapangan darurat Covid-19 ini, khusus menangani persalinan dengan Covid. Itu recananya dan masih tahap pematangan terutama terkait pembiayaan," kata Joko.

Dinkes Sleman juga mendorong beberapa Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar) untuk mengalokasikan bed bagi persalinan ibu hamil dengan Covid-19. Dari 25 Puskesmas di Sleman, jelas Joko, yang berstatus Puskesmas PONED dengan fasilitas rawat inap hanya 10. "Jadi kami meminta Puskesmas yang 10 itu untuk mengalokasikan minimal satu bed utk persalinan dengan Covid," ujar Joko.

Selain masalah pembiayaan, hal yang dihadapi saat ini adalah sumber daya manusianya. Dinkes, kata Joko, akan memberdayakan CPNS yang baru bergabung sesuai profesinya di mana saat ini terdapat tambahan dokter umum sebanyak 22 orang, bidan (21 orang), perawat (17 orang), analis lab (11 orang) dan sanitarian (4 orang).

Baca juga: Zona Merah Covid-19 di Sleman Kembali Membara

Rencana penambahan bed khusus pasien Covid-19 di Puskesmas PONED pun ditanggapi oleh Kepala Puskesmas Mlati 2 Veronica Evita Setianingrum. Meskipun masih usulan dan belum merupakan kebijakan, penyediaan bed untuk pasien Covid-19 di Puskesmas PONED sulit diterapkan. Alasannya, selain kekurangan SDM keberadaan Puskesmas yang bertujuan sebagai sarana promotif preventif dapat terganggu.

"Ini juga perlu dipikirkan. Terutama masalah SDM. Kami punya pengalaman menangani persalinan saat itu pasiennya reaktif. Namun untuk berjaga-jaga, setelah penanganan, seluruh blok dilakukan dekontaminasi dan layanan tutup sementara," papar Evita.

Selain alasan tersebut, lanjut dia, ada tugas utama yang dilakukan SDM Puskesmas di mana mereka memantau para pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Jika satu pasien positif isolasi di rumah, maka seluruh keluarganya juga ikut diisolasi. "Di sini ada 60 pasien positif yang di bawah pantauan kami. Dengan tetap memberikan pelayanan dasar kesehatan kepada masyarakat, tentu sangat sulit menambah bed khusus pasien Covid-19," katanya.