Pertumbuhan Kubah Lava Merapi Rendah, Hanya 8.000 Meter Kubik per Hari

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
19 Januari 2021 19:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan penurunan seismisitas Gunung Merapi dikarenakan magma yang berasal dari tubuh Merapi telah menuju ke permukaan.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan penurunan seismisitas Gunung Merapi berdampak pada tidak adanya tekanan dari dalam yang mendorong tubuh Gunung Merapi.

"Untuk fenomena turunnya seismisitas artinya magma sudah menuju ke permukaan, berarti sudah tidak ada lagi tekanan yang mendorong tubuh Gunung Merapi," ujar Hanik saat dikonfirmasi di Kompleks Sekretariat daerah Kabupaten Sleman pada Selasa (19/1/2021).

Lebih lanjut, pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi juga masih dalam kategori rendah sejak memasuki fase erupsi di tahun 2021. Hanik Humaida menjelaskan setelah memasuki fase erupsi, Merapi kemudian membentuk kubah lava. Lokasinya berada di sisi barat yakni di lava 1997.

Saat ini, laju pertumbuhan kubah lava mencapai 8.000 meter kubik per hari. Menurutnya, pertumbuhan kubah lava Merapi masih tergolong rendah.

“Kalau erupsi 2018 sekitar tiga ribu, ini adalah pertumbuhan kubah lava yang termasuk rendah walaupun ada [magma] yang langsung gugur. Kubah lava yang sekarang ini pertumbuhan rata-rata delapan ribu meter kubik per hari,” ungkap Hanik.

Berdasarkan catatan dari BPPTKG, rata-rata pertumbuhan kubah lava di gunung yang wilayahnya mencakup empat kabupaten ini bisa mencapai puluhan ribu meter kubik per hari. Bahkan, bisa sampai ratusan ribu meter kubik per hari.

“Sekarang ini kecil delapan ribu meter kubik per hari. Seperti 2006 mencapai 70.000 meter kubik per hari. Bahkan, setelah gempa [Bantul] bisa sampai lebih dari 120 ribu meter kubik per hari," sambung Hanik.

BPPTKG, lanjut Hanik, sampai saat ini masih mempertahankan status Merapi di tingkat Siaga (Level III). Adapun, potensi bahaya saat ini berupa lontaran material vulkanik yang mana bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Sedangkan, guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal lima kilometer.