Omzet Jualan Anjlok, Pengusaha Malioboro Tolak Perpanjangan Kebijakan Pembatasan

Sejumlah pengunjung berjalan di kawasan Malioboro pada saat uji coba Malioboro bebas kendaraan bermotor, Rabu (11/11/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
22 Januari 2021 19:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) yang diterapkan di DIY dianggap berdampak ke beberapa pengusaha tak terkecuali pengusaha di kawasan Malioboro. Omzet pertokoan di Malioboro disebutkan anjlok selama PTKM

Ketua Perkumpulan Pengusaha Malioboro Ahmad Yani (PPMAY), Sadana Mulyono menguraikan ada tiga faktor yang saling berkaitan penyebab anjloknya omzet para pengusaha. Pemberlakuan PTKM ditambah dengan diberlalukannya Malioboro bebas kendaraan pukul 18.00-21.00 WIB masih diperparah dengan musim hujan, membuat omzet pertokoan Malioboro anjlok sampai 50 persen.

"Ini [omzet] mungkin drop antara kurang lebih 30-50 persen dengan [Jl. Malioboro] ditutup di malam hari terus, di antaranya itu sudah turun. Terus dibatasi dengan Pukul 19.00 WIB lebih parah lagi. Kemudian juga terjadi karena musim penghujan, kalau musim penghujan kan pasti sepi tidak ada orang yang lewat," jelas Sadana Jumat (22/1)/2021.

BACA JUGA: 2 Hari Berutur-turut Pecah Rekor, Jogja Tambahn 478 Kasus Covid-19 dalam 24 Jam

Jangankan diperpanjang, PTKM yang saat ini diterapkan saat ini menurut Sadana belum terbukti mampu turunkan jumlah kasus Covid-19. "Perpanjangan PTKM tidak ada fungsinya. Saran saya ya dibatalkan saja enggak usah PTKM. Diperpanjang ngapain, orang tidak signifikan. Tetap aja perdagangan sepi, gejala covidnya juga tidak turun. Justru saran kami harus diketati dengan [pengawasan] kerumunan, itu yang ada kerumunan itu langsung ada petugas khusus yang mengingatkan dan kalau ada pengunjung atau wisatawan masuk ke Jogja itu diperketat. Apakah membawa surat, baik untuk antigen untuk bebas, negatif. Kalau enggak gitu ya sama saja," ujarnya.

Sadana menolak diperpanjangnya PTKM. Dia menilai penularan kasus saat ini malah justru terjadi di keluarga, bukan di mal-mal. "Penularan bukan berarti di mal-mal terus orang kerumunan terus ketularan. Buktinya sekarang dengan diberlakukannya PTKM juga seperti itu, [kasus] tidak turun. Efeknya [PTKM] enggak ada. Ya menolak untuk diperpanjang, soalnya dampak tidak signifikan, artinya dilarang terus [kasus] drop gitu boleh. Kalau itu [kasus] enggak drop ngapain, diperpanjang juga gitu lagi nanti," ujarnya.

Disebutkan Sadana, para pengusaha berharap untuk penerapan Malipboro bebas kendaraan ditiadakan terlebih dahulu salama masa pandemi. "Kalau ini ada pandemi terus pengunjung dilarang, tambah habis. Berat Kami sebagai pengusaha-pengusaha di Malioboro Ahmad Yani," ungkapnya.

Meski alami penurunan omzet, dari 220 anggota PPMAY belum ada pertokoan yang sampai tutup. "Kalau tutup sih tidak ,tetapi yang jelas dampak PTKM itu omzet drop, memang turun. Kemudian yang sangat saya herankan itu PTKM juga tidak ada dampak pengaruhnya, Jogja tetap covidnya meningkat. Jadi bukan berarti mal-mal ditutup langsung dampaknya besar, tidak. Justru saya pikir dampak yanh besar itu keluar masuk antara Jogja sekitarnya penjagaannya tidak ketat," tuturnya.

"Pokoknya intinya begini, pesan kami di pengusaha di PPMAY itu jangan lah diadakan PTKM lagi. Ini sudah jatuh tertimpa tangga," pungkas Sadana.