Diprotes Pengunjung dan Viral, Breksi Ubah Kebijakan Soal Kotak Sumbangan Sukarela

Ratusan pengunjung memadati kawasan Tebing Breksi, Minggu (30/12/2018) - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
03 Februari 2021 08:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Taman Wisata Tebing Breksi di Kapanewon Prambanan sempat menjadi pembicaraan warganet dalam beberapa hari terakhir. Penyebabnya, salah seorang pengunjung mengaku kecewa dengan adanya kotak sukarela bagi pengunjung yang ingin berfoto di sejumlah spot Taman Wisata Tebing Breksi.

Keberadaan kotak uang sukarela di spot tersebut dinilai oleh pemilik akun Facebook Endah Hayati sangat mengecewakan. Ternyata, tulis dia, tidak ada yang gratis kalau mau foto di spot foto nya. Pengunjung tulisnya, masih harus membayar per orang dan semua spot foto ada penjaganya. "Ada beberapa spot foto yang tidak ada penjaganya, saya dan teman-teman mau foto langsung penjaga nya datang nungguin kotak uang nya sambil mau membantu fotoin pakai hp kami," katanya.

Lantaran tidak memiliki uang, ia dan teman-temannya pindah ke spot foto yang tidak dijaga tetapi diikutin dan ditungu sama penjaga spot. "Benar-benar tidak nyaman bayar di spot foto kata penjaganya sukarela tetapi di setiap spot foto (kotak) dikasih uang Rp10.000. Saran saya tolong di pintu masuk dibuatkan tulisan besar, tiket masuk per org tidak termasuk foto-foto dispot. Terimaksih pengelola tebing Breksi," tulisnya.

BACA JUGA: Sempat Batuk dan Diare, Anak Bupati Sleman Positif Covid-19

Kegundahan Endah yang ditulis di sebuah group Facebook tersebut pun viral. Keluh kesahnya mendapat 33.000 komentar dari warganet dengan jumlah like 17.000 dan dibagikan lebih dari 200 kali. Ada warganet yang pro ada juga yang kontra dengan tulisan tersebut.

Terkait hal itu, pengelola wisata Tebing Breksi pun mengambil sejumlah kebijakan. Pengelola meniadakan keberadaan kotak sukarela transparan. Jika pemilik spot masih menyediakan, maka diminta untuk tidak menggunakan kotak transparan. "Kotak sukarela ditutup yang pada intinya tidak boleh ada uang yang kelihatan," kata Ketua Pengelola Wisata Tebing Breksi Khaliq Widiyanto, Selasa (2/2/2021).

Pengelola juga melarang karyawan untuk menguntit pengunjung atau menawarkan jasa foto karena membuat karyawan tidak nyaman. Karyawan juga diminta untuk menanyakan pengembalian uang yang diberikan pengunjung. "Karyawan juga tidak boleh menunjukkan gestur tidak puas ketika pengunjung memberikan uang sukarela apalagi berkata kasar kepada pengunjung," ujarnya.

Untuk kenaikan tiket dari awalnya sukarela menjadi Rp10.000 per orang, hal itu sudah sesuai dengan retribusi yang ditentukan oleh Pemkab. Khaliq sudah memprediksi sebelumnya jika penerapan tiket tersebut akan mendatangkan protes dan menjadi viral. "Selama pandemi, kami tentu memikirkan (biaya) operasional yang sesuai dengan protokol kesehatan. Agar pengunjung bisa tetap menerapkan protokol kesehatan dan menjaga jarak, maka salah satu untuk memfilter pengunjung ya dengan menaikan harga tiket," katanya.

Para karyawan juga diminta untuk tetap menjunjung Sapta Pesona Pariwisata agar wisatawan yang datang memiliki kenangan manis. Selama beroperasi secara terbatas, pengelola menambah sarana dan prasarana protokol kesehatan agar pengunjung aman dan nyaman. "Yang jelas atas nama pengelola kami tidak anti kritik apa yang menjadi keluhan pengunjung sudah coba kami siasati. Yang jelas kami terus berbenah untuk wisata dan masa depan yang lebik baik," ujarnya.