Warga Dua Dusun di Pakem Sudah Bersiap Menghadapi Lahar Hujan Merapi

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
05 Februari 2021 17:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menyatakan warga Dusun Turgo maupun Dusun Kemiri, Purwobinangun, Pakem, Sleman, sudah siap menghadapi ancaman bahaya lahar hujan Gunung Merapi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono mengatakan Dusun Turgo dan Kemiri masuk dalam Desa Purwobinangun yang telah dinobatkan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana) utama.

"Dengan adanya desa tangguh bencana [Destana] utama di Purwobinangun, harapannya semua dusun sudah bisa dan paham betul terkait dengan program Destana tersebut. Kalau di program Destana, otomatis warga diajak untuk memahami ancaman. Kalau di Turgo itu kan ancaman erupsi Merapi, termasuk banjir lahar hujan," ujar Joko saat dikonfirmasi pada Jumat (5/2/2021).

Lebih lanjut, sejak jauh-jauh hari pihaknya sudah mengajak masyarakat untuk menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang berkaitan dengan penanggulangan bencana di masing-masing dusun. Masyarakat di wilayah Turgo dinilai Joko siap dalam menghadapi ancaman bahaya lahar hujan. Terlebih, tim siaga bencana juga sudah disiapkan baik di Purwobinangun maupun Candibinangun.

"Kebetulan di Turgo itu ada penjaga early warning system (EWS). Dengan kehadiran relawan yang setiap saat melakukan pemantauan Gunung Merapi di Turgo, masyarakat siap untuk mengantisipasi ancaman yang mungkin ada. Banjir lahar pada Rabu (3/2/2021) ini sudah masuk ke wilayah Turgo, tapi baru pasirnya lah belum besar," ungkap Joko.

Berdasarkan catatan dari BPBD Kabupaten Sleman, permukiman yang paling dekat dengan bantaran Kali Boyong berada di wilayah Kemiri dan dusun Pulowatu, Candibinangun, Pakem, Sleman. Pasalnya, tebing kali tidak terlalu tinggi. Sehingga, lahar hujan bisa mengancam keselamatan warga.

"Untuk pemukiman terdekat itu setelah masuk ke wilayah Kemiri, dari wilayah Kemiri ke bawah sampai di Pulowatu itu tebingnya tidak terlalu tinggi. Candibinangun juga sudah berstatus Destana ya. Tim siaga bencana di Candibinangun juga sudah minta jalur evakuasi untuk dipasang di sana. Petugas siaga bencana juga sudah melakukan pemantauan di Kali Boyong," jelas Joko.

Masyarakat, pinta Joko, untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan. Terlebih, Februari masih masuk dalam musim hujan. Hujan dengan intensitas sedang sampai tinggi masih kerap terjadi di Februari ini.

"Dari Posko Pusdalops yang ada di Pakem selalu update pengumuman dari BMKG tentang kemungkinan curah hujan yang ada di atas (Gunung Merapi). Apabila kemungkinan ada hujan deras nanti akan langsung diumumkan ke teman-teman relawan," sambung Joko.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pelaksana Harian Unitlak Desa Purwobinangun Nurhadi mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya mitigasi terhadap ancaman lahar hujan Gunung Merapi yang sewaktu-waktu bisa terjadi di Kali Boyong.

"Kesiapsiagaan kami, khususnya warga RT 4 dan RT 3 yang dekat dengan sungai masih seperti kemarin ya dengan menjauh dari sungai. Karena, ancamannya kan hampir mirip. Kalau lahar meski kemarin sudah ada aliran lahar hujan tetapi masih relatif aman. Alirannya juga belum besar. Alirannya masih kecil dipantau sama warga. Masih relatif aman kalau ancaman lahar hujan," terang Nurhadi.