GKR Hemas: Kearifan Lokal Jogja Mengandung Nilai Luhur Sejalan Pancasila

Sosialisasi Pancasila secara terbatas di Kraton Kilen Ngayogyakarta, Sabtu (6/2/2021). - Ist/DPD RI.
06 Februari 2021 17:47 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Senator atau anggota DPD RI, GKR Hemas mengatakan nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Belakangan ini, kasus radikalisme dan intoleransi kembali muncul. Hemas berharap kasus-kasus semacam itu tidak pernah ada di Jogja.

"Pada dasarnya, semua agama selalu mengajarkan kebaikan, semua agama selalu mengembangkan semangat toleransi. Hanya saja masih banyak oknum-oknum yang selalu merasa paling benar, atau merasa paling pintar, sehingga terjerumus ke dalam penerapan agama yang keliru," kata Hemas saat Sosialisasi Pancasila secara terbatas di Kraton Kilen Ngayogyakarta, Sabtu (6/2/2021).

BACA JUGA : GKR Hemas: Sudahi Perdebatan Soal Pancasila

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, kata Hemas berlaku untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk ajaran agama tertentu. Pemahaman terhadap Sila ini, katanya, harus betul-betul komprehensif sehingga tidak akan tejadi benturan antara umat beragama.

"Tentunya semuanya juga harus dikaitkan dengan pemahaman atas Sila Persatuan Indonesia dan juga Prinsip Bhinneka Tunggal Ika," ujar permaisuri Sultan HB X ini.

Prinsip Kemanusiaan dalam Sila Kedua, lanjutnya, semua sudah dijalankan dengan baik. Di saat ada status waspada, status siaga hingga mungkin status awas Merapi, semua bekerja keras menolong sesama umat manusia. Di kala terjadi bencana, semua muncul menjadi pahlawan yang mungkin nanti luput dari pemberitaan. Budaya dan kearifan lokal Jogja, kata Hemas sudah menerapkan prinsip kebersamaan dengan baik. Ada garis imajiner yang menyimbolkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam.

BACA JUGA : Ratu Kraton Jogja GKR Hemas soal Tambang: Aku Anyel

Hemas mengatakan, budaya dan kearifan lokal Jogja banyak mengajarkan nilai-nilai luhur, yang juga sangat sesuai dengan Pancasila. Dia meminta masyarakat untuk tidak pernah lelah mempelajari budaya dan filosofi Jogja. Jogja, lanjut Hemas, menunjukkan sila pertama pada Blangkon yang digunakan di kepalanya. Sila kedua dalam gamelan dan tarian, yang selalu melambangkan kemanusiaan, keadilan dan peradaban.

Sila ketiga dalam filosofi garis imajiner Merapi-Tugu-Kraton-Panggung Krapyak dan Pantai Selatan. Sila keempat dalam pemerintahan Kraton yang berlandaskan Tahta Untuk Rakyat. Dan sila kelima dalam budaya perayaan sekaten.

"Garis imajiner itu juga merupakan simbol dari bersatunya pemimpin dengan rakyat. Dengan kebersamaan itu saya yakin semua kebijakan pemerintah bisa diterapkan dengan baik dan efektif. Dengan itu pula saya yakin kita semua bisa keluar dari Pandemi Corona ini," katanya.

Hingga kini, masyarakat belum bisa keluar darinya pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir setahun lamanya. Dukungan dari Tim Rescue, Tim Penyelamat dan Tim Kesehatan tentunya, kata Hemas tetap dibutuhkan. Angka penderita Corona di Indonesia telah mencapai angka psikologis satu juta orang. Di Jogja sudah mencapai 23.000 orang, sementara yang meninggal sudah menembus angka 500 orang, dan masih terus bertambah.

BACA JUGA : Bertemu Kustini, GKR Hemas Apresiasi Produk Kerajinan

"Padahal saat penerapan New Normal Juni tahun lalu, angka kematian di Jogja masih berhenti di angka 10 orang," katanya.

Tingginya kasus Covid-19 di Jogja, kata Hemas merupakan risiko yang harus dihadapi karena besarnya dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh Pandemi. Apalagi, lanjutnya, Jogja adalah tempat pariwisata, sehingga banyak sekali mengundang mobilitas manusia. Selain itu, masih cukup banyak oknum yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

"Di tengah upaya keluar dari Pandemi ini, marilah kita selalu menerapkan protokol Kesehatan. Semoga program pemberian vaksin bisa dilakukan dengan lebih cepat, sehingga semuanya bisa segera normal kembali, meskipun harus tetap dengan protokol Kesehatan," ujarnya.