PTKM Mikro, Satu RT di Sleman Bisa Di-lockdown

Sejumlah warga di dusun Besi, Sardonoharjo, Ngaglik Sleman saat menutup akses masuk ke wilayahnya, Jumat (27/3/2020) untuk antisipasi penyebaran Covdi-19.-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
08 Februari 2021 21:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Penerapan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) berskala mikro 9-22 Februari 2021 masih dimatangkan. Dengan kebijakan ini maka RT yang berstatus zona merah dapat dikarantina atau di-lockdown.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan saat ini Dinkes masih memetakan epidemiologi kasus Covid-19. Pemetaan dilakukan hingga tingkat Rukun Tetangga (RT). Data epidemologi sampai level RT ini disiapkan untuk menindaklanjuti kebijakan PTKM skala Mikro. Hanya saja, kata Joko, ada perbedaan yang ditentukan oleh Pusat dengan apa yang akan dilakukan oleh Pemkab.

"Kalau arahan dari pusat, RT zona merah jika jumlah kasus positif Covid-19 nya di atas 10 rumah, maka di Sleman berbeda. Kami akan memperkecil lingkup zonasi. Suatu RT dikategorikan zona merah, jika jumlah kasus positif Covid-19 yang ditemukan lebih dari 5 rumah," kata Senin (8/2/2021).

Dia melanjutkan, RT yang masuk zona merah akan diberlakukan pembatasan kegiatan, karantina atau lockdown lokal. Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari akan disuplai oleh Satgas Covid Kalurahan. Selama berlangsung PTKM Mikro, posko Covid-19 tingkat kalurahan dan kapanewon akan diefektifkan.

BACA JUGA: Update Covid-19 DIY: 206 Positif, 255 Sembuh, 13 Meninggal Dunia

"Posko kapanewon melibatkan panewu, kapolsek, danramil, dan puskesmas. Adapun posko kalurahan terdiri dari unsur lurah, bhabinsa, bhabinkamtibmas, dan bidan desa," jelas Joko.

Tenaga kontak tracer di masing-masing Puskesmas juga akan dikerahkan untuk membantu posko kalurahan. Saat ini, lanjut dia, terdapat 113 tracer yang tersebar di 86 desa. Sesuai ketentuan, setiap puskesmas dibatasi maksimal memiliki 5 orang tenaga tracer. Artinya keberadaan tracer di 25 puskesmas di Sleman sudah memadai. "Para tracer ini akan dilibatkan untuk mengawasi pelaksanaan PTKM Mikro dan membantu kinerja posko Covid di tingkat kalurahan," ujar Joko.

Dia berharap, PTKM Mikro akan semakin efektif untuk menekan kasus Covid-19. Sebab, katanya, pemberlakuan PTKM pertama pada 11-25 Januari 2021 sudah mulai terlihat hasilnya. Hal ini dibuktikan dengan menurunnya jumlah kasus baru Covid sejak 31 Januari. "Jumlah kasus harian cenderung turun. Kalau biasanya di kisaran 100 bahkan sampai di atas 150. Namun sejak 31 Januari hingga 7 Februari, tambahan kasus turun menjadi kisaran 21-104 per hari. Angkanya tidak mengerikan lagi," katanya.