Hari Raya Imlek, Ibadah di Kelenteng Gondomanan Sepi karena Dibatasi

Umat memanjatkan doa menyambut Imlek, di Kelenteng Fuk Ling Miau di Gondomanan, Kamis (11/2/2021). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
12 Februari 2021 11:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perayaan Tahun Baru Imlek yang masih berada di tengah pandemi Covid-19, terasa berbeda. Imlek yang biasa disambut meriah, tahun ini cenderung sepi.

Seperti pantauan di Kelenteng Fuk Ling Miau di Gondomanan hanya segelintir umat yang datang secara bergantian, jelang malam pergantian tahun baru Imlek, Kamis (11/2/2021). Penyesuaian penerapan protokol pencegahan Covid-19 juga menjadi perhatian di Kelenteng ini.

Ketua Yayasan Kelenteng Fuk Ling Miau, Angling Widjaya mengatakan pada tahun ini perayaan Imlek memang sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Umat yang datang atau masuk di dalam Kelenteng dilakukan pembatasan, agar tidak terjadi kerumunan di dalam.

Baca juga: Tahun Baru Imlek, 32 Napi Beragama Konghucu Terima Remisi

“Tahun ini memang sedikit yang datang karena Covid-19 ini, jadi pada takut [ke kelenteng]. Tapi kalau memang takut [Covid-19] kaya gitu kan lebih baik toh. Kami juga terapkan prokes dengan ketat, seperti hanya boleh 25 orang yang masuk Kelenteng untuk sembahyang, jadi sistemnya bergantian,” kata Angling.

Salah satu umat yang sembahyang, Sisil Wijaya yang merupakan warga Medan, Sumatera Utara mengatakan baru pertama kali merayakan Imlek di Jogja. “TIdak bisa pulang ke Medan, jadi merayakan Imlek di Jogja. Tahun ini terasa sepi, semoga tahun depan sudah normal,” ucap Sisil.

Terpisah, Cici Jogja 2020, Catherine Presilia Gunawan turut merasakan Imlek tahun ini yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski begitu, Dia mengatakan tetap merayakan Imlek dengan keluarga terdekat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan tidak mendatangkan keramaian.

Baca juga: Libur Imlek, Arus Mudik Tak Mengalami Lonjakan Signifikan

“Yang terpenting adalah bagaimana cara saya secara pribadi dengan keluarga untuk memaknai arti Imlek tersebut, walaupun ada pandemi Covid-19 budaya harus tetap dilestarikan dengan catatan juga patuh pada peraturan pemerintah,” ucap Catherine.

Dia berharap pada Imlek tahun ini semua bisa diberi kesehatan dan semangat untuk melewati masa sulit. “Semoga tambah sejahtera dan diberkahi rezeki yang semakin melimpah dari tahun-tahun sebelumnya serta tetap dapat terus membangun hubungan harmonis dengan sanak saudara,” ucapnya.

Koko Jogja 2020, Alfincent Aprilino merasa Imlek tahun ini mengajarkan banyak hal. “Kita diajarkan untuk bersabar dan menahan ego untuk tidak terlebih dahulu saling mengunjungi seperti tahun-tahun sebelumnya dengan harapan kita dapat segera pulih seperti sedia kala. Saya pribadi sangat sedih karena Imlek tahun ini menjadi sangat spesial dalam tanda kutip dan harus menerapkan segala protokol serta berpikir yang lebih panjang, tapi saya yakin, masyarakat pasti sudah punya kesadaran sehingga kita mampu berjuang bersama,” ucapnya.

Dia berharap momen Imlek kali ini tetap bisa menyebarkan kebahagiaan Imlek kepada sanak saudara walaupun sedang berada di masa seperti ini. Kemeriahan imlek masih bisa dirasakan karena esensi utama Budaya Tionghoa adalah keharmonisan dan kekeluargaan, sehingga selama bisa bersilaturahmi satu sama lain, menurutnya kemeriahan imlek tidak akan luntur.

“Teknologi sekarang juga sudah sangat mumpuni, kita bisa bersilaturahmi secara efektif tetapi tetap aman dengan berbagai platform yang ada. Saya sungguh berharap masyarakat bisa memaksimalkan media sosial yang ada sebagai sarana silaturahmi,” ujarnya.