Libur Imlek, 2.300 Penumpang KA Tiba di Jogja

GKR Bendara berbincang dengan Kepala Stasiun Tugu Ade Iskandar di Stasiun Tugu pada Kamis (11/2 - 2021)./Harian Jogja / Sirojul Khafid
13 Februari 2021 12:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Sebanyak 2.300 penumpang kereta api jarak jauh tiba di Daerah Operasional Kereta Api Indonesia (DAOP KAI) 6 Jogja pada hari libur Imlek hari ini, Jumat (12/2/2021).

Menurut Manager Humas DAOP KAI 6 Jogja Supriyanto, jumlah ini masih tergolong normal. “Masih normal. Tidak ada kereta api tambahan. Sama dengan weekend biasa,” kata Supriyanto saat dihubungi secara daring pada Jumat (12/2/2021).

Begitupun dengan keberangkatan dari DAOP 6 Jogja. Supriyanto menyatakan jumlah penumpang masih terpantau normal. “Belum banyak kereta api yang jalan,” katanya.

BACA JUGA : Ribuan Orang Datang ke Jogja Libur Imlek, GKR Bendara

Sehari sebelumnya, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara melakukan kunjungan ke Stasiun Tugu. Dia memantau pengecekan penumpang mengenakan GeNose sebagai syarat perjalanan.

GKR Bendara berharap tes Covid-19 menggunakan GeNose bisa ringankan beban penumpang, termasuk wisawatan. GKR Bendara menyatakan keberadaan GeNose sangat penting. Terlebih saat ini sudah terlihat adanya peningkatan wisatawan yang datang ke Jogja, terutama sejak Bulan Desember 2020 lalu.

“Lalu ada keputusan untuk pakai [swab] antigen. Langsung terlihat lagi, dengan antigen wisatawan turun, banyak yang men-cancel [datang ke Jogja],” kata GKR Bendara saat ditemui para wartawan di Stasiun Tugu pada Kamis (11/2).

BACA JUGA : Ini Masa Berlaku Tes Covid-19 Pengguna Transportasi Darat

Adanya hasil swab antigen sebagai syarat perjalanan cukup memberatkan penumpang, termasuk yang bepergian secara kelompok. GKR Bendara menyatakan, apabila dalam satu keluarga ada empat anggota, maka biaya untuk swab antigen mencapai Rp1 juta.

“Pakai GeNose masih di bawah Rp100.000 meski berempat. Saya berharap GeNose bisa produksi lebih cepat, agar bisa dipakai di semua stasiun kereta api. Hasilnya juga bisa menjadi standarisasi pengganti swab antigen di semua objek wasata,” kata GKR Bendara.

Di situasai pandemi Covid-19 dengan jumlah korban yang semakin bertembah, GKR Bendara sadar beberapa orang mempertanyakan mengapa wisata terus digenjot. Salah satu alasannya lantaran banyak orang yang pendapatannya berasal dari sektor wisata. Tidak hanya pelaku wisata secara langsung, tapi juga pelaku usaha kecil menengah menggantungkan ekonominya di sektor wisata.

BACA JUGA : Hari Raya Imlek, Ibadah di Kelenteng Gondomanan Sepi

Di masa pandemi ini, banyak pelaku pariwisata yang tidak bisa bertahan. “Harus ketemu titik tengahnya. Jangan sampai terlalu ketat [syarat masuk ke wilayah wisata], jangan sampai terlalu longgar juga,” katanya.

Memasuki masa libur panjang Imlek, GKR Bendara mempersilahkan wisawatan yang hendak ke Jogja. “Kami siap, protokol kami juga cukup bagus. Kami tidak bisa mengatur semua orang yang ke Jogja, [tapi] wisatawan itu sendiri yang bisa mengatur. Monggo datang ke Jogja, kami siap, tapi mohon taat [aturan dan prokes],” kata GKR Bendara.