Gawat! Sawah di Poncosari Bantul Rawan Terkena Banjir

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
20 Februari 2021 07:27 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Prediksi BMKG soal fase La Nina yang bakal mendera Indonesia hingga April ini dikhawatirkan dapat berdampak pada sektor pertanian Indonesia. Durasi hujan yang lama selama La Nina membuat sejumlah lahan sawah di Bantul terendam banjir.

Salah satu wilayah yang terdampak hujan deras adalah Kapanewon Srandakan. Kepala UPTD Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Bantul, Marjaka menyebutkan berdasarkan pantauan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pada 11 Februari 2020, total luasan sawah yang terendam air mencapai 64 hektare.

"Perkembangan tanaman padi yang terendam air Dusun Kuwaru 30 hektare, Dusun Ngentak enam hektare, Dusun Karang 25 hektare, dan Dusun Cangkring tiga hektare," jelasnya pada Jumat (19/2/2021).

Baca juga: Kapolri Beri Penghargaan kepada Dua Anggota Polda DIY

Marjaka melanjutkan pantauan di wilayah terus dilakukan oleh PPL masing-masing Kalurahan jika terjadi hujan deras dengan durasi yang cukup lama. Kendati demikian dari guyuran hujan beberapa pekan terakhir, hanya sejumlah Kapanewon Srandakan yang dilaporkan adanya sawah di beberapa titik yang terendam banjir.

Disebutkan Marjaka wilayah Kalurahan Poncosari lokasi sawah yang terendam merupakan langgangan banjir. Pasalnya lokasi merupakan pertemuan Kali Progo yang akan bermuara ke laut. "Sudah rutin terjadi banjir, terlebih wilayah Poncosari ada sungai masuk ke laut. Kalau karakter ombak besar pembuangan [saluran air sekitar sawah] terganggu," jelasnya.

Padahal saluran air yang ada Poncosari menurut pengamatan Marjaka terbilang sudah cukup baik. Antisipasi rutin pun telah dilakukan petani dengan melakukan pembersihan rutin saluran selokan di Poncosari. Namun banjir tetap saja terjadi, oleh karena itu warga menanam tanaman padi yang tahan banjir.

Tanaman padi yang terendam di Srandakan berumur 45-60 Hari Setelah Tanam (HST). Pada usia tersebut, Marjaka menerangkan padi akan tetap bisa tumbuh dan panen asal tidak terendam selama sepekan. Tanam ulang hanya dilakukan jika padi yang terendam berusia 0-40 HST. "Dari perkembangan beberapa tahun terakhir ini untuk wilayah-wilayah Srandakan bisa panen itu menggunakan varietas unggul. Meskipun banjir tahunan selalu dihadapi tetap berhasil panen, tapi tergantung intensitas curah hujannya kalau terlalu parah ada pengurangan panen," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Bantul, Yus Warseno menerangkan jika dampak cuaca hujan deras terhadap pertanian memang sebagian titik terkena dampak luapan air, namun hanya wilayah tertentu. Akan tetapi tanaman padi tidak terendam lama atau bisa cepat surut.

Baca juga: GeNose Bisa Dongkrak Prariwisata Jogja

Beberapa upaya asuransi sebenarnya telah dilakukan DPPKP Bantul seperti melalukan pemantauan langsung dan tidak langsung melalui PPL dan Kelompok Tani. "Intinya kita selalu mengingatkan, menjalin komunikasi dan sosialisasi antisipasi musim hujan," jelasnya.

Lebih lanjut Yus menerangkan antisipasi musim hujan dapat dilakukan sejak dini melalui pengaturan pola tanam yang tepat. Jenis tanam disesuaikan kebutuhan air dan menyiapkan pompa bagi tanaman terlanjur tanam dan memungkinkan di pompa. "Disarankan menjelang musim hujan dan sebaiknya rutin dilakukan, gerakan bersama pengerukan saluran pembuangan melibatkan kelompok dan desa. Menanam padi dengan varietas tahan banjir seperti Inpara. Pengamatan rutin kelompok atau Gapoktan, penyuluh, dan aparat desa," tandasnya.