Advertisement
Pasar Sentul Sepi, Wali Kota Jogja Pastikan Retribusi Dipotong
Pasar Sentul Jogja - dok - Harian Jogja
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Lesunya aktivitas jual beli di Pasar Sentul seusai revitalisasi mendorong Pemerintah Kota Jogja menyiapkan kebijakan keringanan retribusi, dengan Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memastikan tidak ada kenaikan sewa lapak dan bahkan memberikan potongan agar pedagang tetap bertahan.
Keluhan pedagang mencuat karena pasar yang kini tampil lebih rapi justru belum diiringi peningkatan jumlah pengunjung. Kondisi itu sempat memunculkan kekhawatiran lantaran Pemkot Jogja sebelumnya merencanakan penyesuaian tarif sewa lapak pada tahun ini.
Advertisement
Hasto Wardoyo menegaskan, rencana tersebut dibatalkan. Pemkot tidak hanya menahan kenaikan, tetapi juga memberikan dispensasi pembayaran agar tidak memberatkan pedagang.
“Sudah kami diskusikan. Tidak ada kenaikan, malah ada diskon, khususnya untuk pedagang di lantai tiga,” katanya saat ditemui di Sungai Code, Rabu (21/1/2026).
BACA JUGA
Sebelum revitalisasi, pedagang Pasar Sentul menempati lapak dengan biaya retribusi bersubsidi sekitar Rp170.000 per bulan. Sementara tarif normal yang dipatok Pemkot Jogja untuk lapak kuliner mencapai Rp700.000 per bulan.
Menurut Hasto, revitalisasi pasar tidak cukup hanya menghadirkan bangunan yang bersih dan tertata. Upaya tersebut harus sejalan dengan jaminan bahwa roda ekonomi pedagang tetap berputar.
Ia mendorong Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja sebagai pengelola pasar untuk lebih kreatif menghadirkan kegiatan yang mampu menghidupkan kembali Pasar Sentul dan menarik arus pengunjung.
“Saya minta ada kreativitas, misalnya pasar murah atau kegiatan lain supaya pasar ramai dan menarik pengunjung,” katanya.
Di sisi lain, pedagang makanan ringan Pasar Sentul, Narsih, mengaku pendapatannya merosot tajam seusai revitalisasi.
“Kalau sekarang susah [pendapatan harian pedagang]. Sehari dapat untung Rp20.000 saja sudah sulit,” katanya.
Ia bercerita, sebelum direvitalisasi lapaknya berada di bagian depan pasar dengan ukuran lebih luas. Seusai penataan ulang, ia menempati lapak yang lebih sempit dan berada di bagian belakang. Posisi tersebut membuat dagangannya jarang dilirik pembeli.
“Dulu lapak saya dua kali lebih luas. Sekarang [ukuran lapak] cuma sekitar dua meteran dan di belakang. Pembeli juga jarang lewat,” katanya.
Narsih menyebut, sebelumnya pendapatan harian masih cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kini, ia kerap membawa bekal dari rumah untuk menghemat biaya makan siang selama berdagang.
“Kadang sehari tidak ada yang beli sama sekali. Jadi harus bawa sangu dari rumah,” katanya.
Ia juga menilai penataan jenis dagangan menjadi persoalan. Pengelompokan pedagang berdasarkan segmentasi dianggap menyulitkan pembeli.
“Sekarang semua diplot-plot. Dulu mau jual apa saja bebas. Sekarang tidak boleh,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang rujak es krim Pasar Sentul, Sri Rahayu. Dalam sehari, rata-rata hanya sekitar lima pembeli yang datang ke lapaknya. Kondisi itu membuat omzet hariannya tak sampai Rp100.000. Ia mengaku keberatan jika Pemkot Jogja tetap menaikkan retribusi sewa lapak.
“Kalau begini terus kami yang kesusahan,” katanya, di tengah upaya pedagang bertahan sembari menunggu pasar kembali hidup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- PKL Setujui Relokasi, Alun-Alun Wonosari Bebas Aktivitas Berjualan
- DKPP Bantul Perketat Pengendalian Hama Tikus demi Jaga Produksi Padi
- Produksi Ikan 55.000 Ton, 27 Pasar Serap 40 Persen Produksi di 2024
- Pemkab Gunungkidul Sediakan 26 Ton Kebutuhan Pokok di Operasi Pasar
- Gunungkidul Produksi Ikan 15.000 Per Ton Tahun, Konsumsi Masih Kalah
Advertisement
Advertisement




