Pencari Kerja Usia Matang Mendominasi Pengangguran Jogja
Pengangguran Kota Jogja didominasi usia di atas 35 tahun. Dinsosnakertrans memperluas peluang kerja nonformal dan kewirausahaan bagi warga.
Pasar Sentul Jogja - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Penurunan omzet dialami sejumlah pedagang kuliner di Pasar Sentul, Kota Jogja, dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu membuat pedagang meminta Pemkot Jogja menunda penerapan tarif normal sewa lapak pada 2026.
Pedagang rujak es krim Pak Sony, Sri Rahayu, mengungkapkan penjualan kini hanya berkisar tiga hingga lima porsi per hari. Angka tersebut jauh menurun dibanding saat masih berjualan di kawasan Alun-Alun Sewandanan yang mampu menjual puluhan porsi setiap harinya.
Akibat penurunan pembeli, pendapatan harian pun ikut tergerus hingga di bawah Rp100.000. Dengan rencana kenaikan sewa lapak menjadi Rp700.000 per bulan, Sri mengaku khawatir tidak mampu bertahan karena penghasilan dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional.
“Ramainya cuma di awal pembukaan [Pasar Sentul] saja. Setelah itu paling hanya beberapa pembeli,” katanya, Selasa (6/1/2026).
Dia menuturkan rata-rata penjualan mencapai tiga hingga lima porsi rujak es krim dalam sehari. Padahal sebelumnya, saat pedagang masih berjualan di Alun-Alun Sewandanan, penjualannya dapat mencapai puluhan porsi dalam sehari.
Penurunan penjualan tersebut menurutnya membuat pendapatannya juga menurun. Dulu omset yang didapatnya mampu mencapai lebih dari Rp100.000 per hari, dengan harga jual rujak es krim mencapai Rp10.000 per porsi. Sementara itu, kini pendapatannya dibawah Rp100.000 per hari.
Penurunan penjualan tersebut menurutnya membuatnya kesulitan membayar biaya sewa lapak yang rencananya akan naik tahun ini.
Pemkot Jogja berencana menaikkan biaya sewa tahun ini. Sebelumnya biaya sewa lapak di sana mendapatkan subsidi dari Pemkot Jogja. Dengan subsidi tersebut setiap lapak dikenakan biaya sewa Rp695.000 untuk empat bulan pemakaian. Sementara itu tahun ini, Pemkot Jogja berencana menaikkan biaya sewa menjadi Rp700.000 per bulan.
“Tahun ini katanya tarif kembali normal. Kalau memang begitu, saya mantap cabut karena nanti malah nombok,” ujarnya.
Adapun penjaga gerai Siomay Pak Tugiyat, Anik mengeluhkan hal serupa. Dia pun berharap Pemkot Jogja tidak jadi menerapkan tarif normal sewa lapak di sana.
“Aspirasinya [penerapan tarif normal sewa lapak] sudah disampaikan lewat dinas [Dinas Perdagangan Kota Jogja, dewan, dan langsung ke kepala daerah, tapi kondisinya masih seperti ini," katanya.
Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo menuturkan pihaknya telah mengetahui kondisi. Dia pun mengaku telah menampung harapan para pedagang dan akan menyampaikan harapan pedagang ke pemangku kepentingan.
“Nanti akan kami bantu sampaikan,” katanya. Pedagang berharap Pemkot Jogja mempertimbangkan kondisi lapangan sebelum memberlakukan tarif sewa normal tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengangguran Kota Jogja didominasi usia di atas 35 tahun. Dinsosnakertrans memperluas peluang kerja nonformal dan kewirausahaan bagi warga.
Pendaftar Magang Nasional 2026 Tahap 1 mencapai 300 ribu orang untuk memperebutkan 50 ribu posisi magang yang disediakan pemerintah.
DPRD Bantul mengawasi persiapan Pilur serentak di 30 kalurahan untuk memastikan tahapan berjalan transparan dan bebas politik uang.
Esensi digitalisasi bagi Kelompok Pengrajin Batik Rinakit merupakan gambaran semangat para pelaku ekonomi kreatif
Polisi menyebut dugaan aksi asusila di kafe di Kota Jogja dapat diproses sebagai tindak pidana pornografi jika disertai bukti yang valid.
Rusia mendukung program nuklir Korea Utara dan menolak seruan denuklirisasi Semenanjung Korea karena meningkatnya ketegangan kawasan.