Masuk di Tim Medis Darurat WHO, MDMC Ditambah Armada

Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan (kiri) saat menerima kendaraan lapangan untuk penanganan bencana dari Rektor UAD, Muchlas. - Ist.
24 Februari 2021 10:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah menjadi satu-satunya tim medis darurat yang terdaftar di WHO. Tim ini harus selalu siap Ketika diterjunkan di berbagai daerah bencana di belahan dunia. Untuk mendukung kelengkapan, tim ini mendapatkan bantuan berupa satu unit armada dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja.

Ketua MDMC PP Muhammadiyah Budi Setiawan menjelaskan armada kendaraan menjadi hal yang penting bagi timnya untuk melakukan manuver memberikan bantuan dari satu titik ke titik lain. Apalagi saat ini MDMC telah masuk sebagai tim medis darurat dunia yang telah melalui seleksi oleh WHO. Sehingga sewaktu-waktu tim harus siap diterjunkan di daerah bencana. Saat ini pihaknya memndapatkan tambahan satu armada kendaraan lapangan dari UAD yang telah diserahkan pada Jumat (19/2/2021) lalu.

BACA JUGA : UMY Ubah Gudang Kemanusiaan Muhammadiyah Menjadi

“Soal armada ini kami tidak bisa mengukur berapa yang ideal, tetapi berdasarkan prioritas, seperti kejadian gempa di Sulbar karena besar ya kami kirim tim ke sana, armada ke Sulbar membawa perlengkapan EMT [emergency medical team], yang itu telah diakui oleh WHO. Kami mendapatkan bantuan satu unit armada dari UAD ini akan sangat membantu sekali,” katanya Selasa (23/2/2021).

Ia menambahkan sesuai standar EMT WHO, MDMC memiliki tiga tim. Setiap tim berjumlah 22 orang, tujuh di antaranya merupakan dokter dan perawat sedangkan sisanya adalah bagian logistik hingga media.

“Kami memiliki tenaga medis cukup banyak dan ini maka WHO mempercayai kami membentuk EMT, ini kemudian agak merepotkan sehingga bisa kirim tim. Kami punya tiga roster istilahnya WHO, satu roster ada 22 orang ada tim medis, logistik sampai tim media. Kami sudah diuji dua kali sehingga ini tes terakhir di Australia karena pandemi ditunda. Tetapi kami mendirikan EMT di Sulbar ini masuk dalam laporan di WHO. Kalau ada panggilan dari WHO ada bencana di mana pun kami harus siap selama 24 jam,” ucapnya.

BACA JUGA : Aksi #GejayanMemanggil Jilid II: MDMC Siagakan Tim Medis

Rektor UAD Muchlas mengatakan mobil yang diberikan kepada MDMC tersebut perawatannya tetap dilakukan UAD, namun penggunaan sepenuhnya diserahkan kepada MDMC. Sehingga bisa dipakai sewaktu-waktu ketika melakukan penanganan bencana di berbagai daerah. Kampusnya memiliki komitmen kerja sama dengan MDMC termasuk penelitian penanggulangan bencana.

“Kendaraan ini harapannya bisa menjadi fasilitas tambahan untuk bersama-sama dalam membantu melakukan penanggulangan bencana. Karena melalui Pusat Studi Bencana kami juga berkomitmen terhadap setiap penanggulangan bencana,” katanya.