ICA DIY Ajak Generasi Muda Percaya Diri Berbisnis Kuliner

Pengurus ICA DIY Berfoto bersama pemenang lomba Plating Competition, Senin (15/2). - Ist
26 Februari 2021 06:57 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, DEPOK--Indonesia memiliki ribuan kuliner khas di setiap daerah yang mampu bersaing di pasar internasìonal. Kekayaan kuliner ini yang coba digali oleh Indonesian Chef Association (ICA).

Genap berusia 14 tahun, ICA DIY menggelar serangkaian kegiatan dengan mengangkat tema Makanan Nusantara Menuju Pasar Internasional, yang meliputi Plating Competition, Cooking Demo & Culinary Talk Show.

Koordinator Lomba, Dodik Prakoso Eko Heri Suwandoyo atau yang kerap disapa Chef Dodik, menjelaskan kegiatan ini sebagai upaya memahami positioning makanan nusantara di mata international.

BACA JUGA : Menangkap Peluang Usaha Kuliner di Tengah Lesunya

"Menambah wawasan tentang kuliner nusantara khususnya pada generasi muda, mengajak publik untuk semakin percaya diri terjun dalam bisnis kuliner serta menjadi media silaturahmi untuk berbagi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat pencinta kuliner nusantara," ujarnya, Kamis (25/2/2021).

Kegiatan ini berlangsung pada pada Senin (15/2) lalu, di Prime Plaza Hotel Jogja, dengan dibuka oleh Ketua ICA DIY, Chef Anton Yanwar dan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyelenggaraan Plating Competition, dimana kompetisi ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh 40 tim yang berasal dari DIY dan Jawa Tengah.

Kompetisi ini bersifat terbuka untuk seluruh kalangan baik dari kalangan chef professional yang berasal dari hotel atau restoran maupun dari kalangan akademisi dan kalangan masyarakat umum.

Pada plating competition yang bertajuk “Menggali Kuliner Nusantara”, seluruh peserta lomba diminta untuk menata makanan utama dan makanan penutup yang sudah diolah sebelumnya dari properti masing-masing di atas piring yang sudah disiapkan oleh panitia lomba.

Challenge atau tantangan pada kompetisi ini terletak pada bentuk dan warna piring yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi “black box challenge” dimana tidak ada peserta yang tahu piring apa yang akan mereka dapatkan untuk menata hidangan makanan yang dilombakan.

BACA JUGA : Bisnis Kuliner di Jogja Masih Miliki Peluang Menjanjikan

"Peserta lomba diberi kebebasan dalam mempresentasikan makanan utama namun harus berbahan dasar makanan lokal, sedangkan untuk makanan penutup harus berbahan dasar umbi-umbian," katanya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan cooking demo dan talkshow dengan tema Menggali Kuliner Nusantara Menuju Pasar Internasional, yang diisi oleh akademisi Kokom Komariah dan praktisi kuliner Chef Adzan Tri Budiman.