Bisnis Kuliner di Jogja Masih Miliki Peluang Menjanjikan

Anggota Komisi D DPRD DIY, Atmaji, salah satu narasumber dalam bedah buku Menggeluti Dunia Wirausaha di Balai Desa Bangunharjo, Sewon, Bantul Jumat (15/2). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
16 Februari 2019 21:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Pelaku usaha kuliner Jogja, Aluh Peni Untari menyebut bisnis kuliner dan kerajinan di DIY masih memiliki peluang yang besar untuk bisa berkembang. Alasannya kedua jenis bisnis tersebut saat ini paling banyak diburu wisatawan yang berkunjung ke Jogja. Padahal wisata di DIY berkembang cukup pesat.

Ia menilai saat ini kian menjamur pelaku usaha di bidang kuliner dan kerajinan. Namun sayangnya bisnis kuliner justru yang memanfaatkan orang luar Jogja. "Karena banyak toko oleh-oleh bukan milik orang Jogja," kata Aluh, dalam diskusi dan bedah buku Menggeluti Dunia Wirausaha di Balai Desa Bangunharjo, Sewon, Bantul, Jumat (15/2).

Kondisi tersebut diakui Aluh merupakan tantangan bagi warga Jogja. Warga harus memberanikan diri membuka usaha dan memanfaatkan peluang tanpa harus terpaku pada modal usaha. Bahkan pemilik usaha katering dan toko oleh-oleh ini menantang warga yang serius berwirausaha. "Kami akan bantu yang punya keseriusan dan yang mau maju," ucapnya.

Novita Budi Kurniati, selaku pendamping Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menyatakan dalam memulai usaha butuh keseriusan. Buku karya Daryanto yang dibedah dalam kesempatan itu menjadi salah satu panduan bagi yang ingin memulai usaha.

Dalam buku itu dilengkapi contoh jenis usaha yang sukses. Selain itu buku tersebut juga berisi kiat-kiat membangun usaha sukses, "Mulai dari perencanaan, pemasaran atau target pemasaran, pengelolaan keuangan hingga pengelolaan sumber daya manusia," katanya.

Selain Aluh Peni Untari dan Novita Budi Kurniati, narasumber dalam bedah buku yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY tersebut adalah Anggota Komisi D DPRD DIY, Atmaji.

Kabid Pembinan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Juli Sugiarto, mengatakan bedah buku yang digelar di Desa Bangunharjo merupakan bagian dari upaya DPAD mendekatkan buku atau sumber informasi kepada masyarakat. "Harapannya semakin menumbuhkan budaya baca di masyarakat," katanya.

Karena itu selain membedah buku, warga yang ikut juga mendapatkan bukunya secara gratis. Bedah buku itu rutin dielar DPAD sebanyak 60 kali tahun ini sampai September mendatang dengan lokasi yang berbeda di empat kabupaten dan kota.

Ia meminta masyarakat tidak hanya cukup belajar melalui bedah buku, namun mencari buku lain sebagai sumber informasi. Pihaknya sudah menyedikan banyak buku di setiap perpustakaan desa yang bisa diakses di perpustakaan daerah secara langsung.