Mengenal Akulturasi Budaya China-Jawa di Museum Sonobodoyo

Staf Musem Sonobudoyo sedang menjelaskan pameran Harmoni Pertunjukan China-Jawa yang ditampilkan di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo Jogja, Jumat (26/2/2021). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
04 Maret 2021 17:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Museum Sonobudoyo Jogja menggelar pameran Wayang China-Jawa (Waciwa) bertajuk Harmoni Pertunjukan China-Jawa dalam menyemarakkan perayaan Tahun Baru Imlek ke-2572. Pameran ini diselenggarakan dengan konsep perpaduan unsur dua kebudayaan China dan Jawa.

Pameran diselenggarakan di delapan ruangan Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo, 26 Februari hingga 27 Maret 2021.  Sejumlah koleksi dari masa lampau dipilih, dibaca ulang, dinarasikan kembali dan disajikan ke hadapan publik untuk menengok perjalanan kehidupan akulturasi budaya Jawa dan China di Jogja, khususnya dalam seni pertunjukan.

Ada enam seni pertunjukan yang ditampilkan dalam pameran ini, yaitu Srimpi Muncar, Beksan Golek Menak, Ketoprak, Samsi atau Barongsai, Potehi, dan Wayang China Jawa (Wachinwa). Pengunjung juga dapat menikmati beragam koleksi wayang China-Jawa dengan nama karakter kepahlawanan di antaranya Sie Jin Kwie, Lie Sie Bin, dan Cie Bouw Kong. Wayang China-Jawa ini merupakan koleksi kategori masterpiece Museum Sonobudoyo yang dibuat oleh seniman China Jawa.

Saat masuk ruang utama pengunjung akan menyaksikan koleksi tarian Srimbi Muncar. Tarian Srimpi Muncar pertama kali diciptakan pada 1857 atas perintah Sri Sultan HB VI kemudian disempurnakan pada masa Sri Sultan HB VII (1921-1927).

Kemudian ada juga ruang barongsai sebuah seni pertunjukan China yang sudah beradaptasi. Barongsai awal mulanya dipakai dalam ritual penolak bala, namun saat ini lebih cenderung jadi hiburan. Selain itu ada juga koleksi 80 wayang potehi yang sengaja dipinjam pegiat wayang Potehi, yakni Toni Harsono di Jombang, Jawa Timur. Tiap wayang potehi memiliki cerita dari rakyat China, salah satunya yang terkenal di Indonesia adalah tokoh Sun Go Kong.

Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli mengatakan pameran wayang China-Jawa adalah sebuah pameran yang langka, karena set kotak wayang ini di dunia hanya ada dua, yakni Museum Sonobudoyo dan di Universitas Yale Amerika Serikat. Pengunjung dapat menikmati beragam koleksi wayang. “Inti dari penyelenggaraan pameran ini adalah wujud keharmonisan budaya China-Jawa dalam seni pertunjukan yang berkembang di masyarakat, khususnya Jogja,” kata Setyawan.

Kasi Koleksi, Konservasi, dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo, Ery Sustiyadi menambahkan pameran harmoni wayang China-Jawa menjadi pembelajaran bagi masyarakat akan masa lampau bahwa masyarakat Jogja sangat terbuka dengan budaya luar Jogja termasuk China dengan budaya yang berbeda, salah satunya dibuktikan dengan wayang China Jawa, ketoprak dan barongsai.

Kesenian tersebut tidak hanya dimainkan oleh etnis China, namun banyak orang jawa yang terlibat di dalamnya termasuk produksinya, bahkan wayang China-Jawa tetap menggunakan gamelan dengan bahasa Jawa dan penulisan lakonnya dalam bentuk tembang jawa.

Masyarakat yang tidak bisa hadir langsung ke Museum Sonobudoyo dapat menikmatinya melalui sosial media Sonobudoyo.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Sumadi menambahkan wayang China-Jawa adalah konsep pertunjukan wayang tapi menceritakan tentang kehidupan masyarakat China yang ada di Jawa khususnya Jogja. “Dengan adanya pameran ini kami ingin menginformasikan kepada masyarakat bahwa di Jogja tidak hanya ada wayang kulit dan wayang orang yang selama ini salaam ini dikenal tetapi juga ada Wachinwa,” kata Sumadi.