Mantap! Pemkot Berencana Beli Mobil Insinerator untuk Atasi Sampah

Pasokan sampah tertahan di bak truk dan menumpuk hingga hampir menyentuh langit-langit di Depo Mandala Krida, Jumat (18/12/2020). - Harian Jogja/Hery Setiawan
17 Maret 2021 21:37 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mewacanakan untuk mebeli mobil insinerator atau alat pembakaran sampah menggunakan teknologi dengan suhu tertentu yang bisa berpindah-pindah untuk menangani sampah di Jogja. Wacana tersebut muncul dalam Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) Persampahan yang melibatkan masyarakat.

Kepala DLH Jogja, Sugeng Darmanto mengatakan Pemkot sudah mendapatkan penawaran untuk pengadaan insinerator dari PT.Pindad. Penawaran tersebut juga sudah dibicarakan dengan Wakil Wali Kota Jogja. Namun Pemkot masih mengkajinya. “Kita masih berhitung efektifitasnya, agar bisa kita gunakan untuk pembakaran secara mobil dibeberapa depo,” kata Sugeng.

Kajian itu penting karena alat pembakaran sampah dengan suhu tertentu tersebut yang bisa bergerak tersebut kapasitasnya 2 ton dalam waktu 10 jam. Sementara sampah yang menumpuk di satu depo bisa dua truk atau sekitar 7 ton.

Menurut dia, insinerator memang bagus karena bisa menghancurkan sampah dan abunya bisa untuk pupuk dan relatif tidak beracun. Pemkot, kata dia, pada dasarnya tertarik dengan insinerator yang ditawarkan, namun dia berharap kapasitasnya diperbesar atau minimal bisa memproses sampai 5 ton dalam 10 jam.

BACA JUGA: Jogja Masih Berpotensi Diguyur Hujan Es

Selain itu pihaknya juga mengkaji pengadaan alat pengelolaan sampah dengan teknologi lainnya seperti pembakaran yang bisa menjadi bahan bakar minyak (BBM). “Jadi ada beberapa ujicoba dengan pembakaran sampah dengan pola insenerator kemudian penyulingan beberapa bahan itu, misal plastik itu residu bisa menjadi, ada yang minyak tanah, ada premium itu masih tarap ujicoba karena belum diproduk secara masal,” ujar Sugeng.

Lebih lanjut Sugeng mengatakan memang butuh beberapa strategi untuk menangani sampah di Jogja, baik dari internal maupun eksternal agar Jogja tidak bergantung pada Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan yang kerap kali tutup akibat kelebihan kapasitas.