Kisah Pangeran Mangkubumi di Balik Berdirinya Kraton Jogja

Diskusi peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta: Mengupas Kejuangan Pengeran Mangkubumi di Tirta Kelapa Art Space, Sleman, pada Senin (15/3/2021). - Ist.
21 Maret 2021 17:17 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat lahir dari berbagai peristiwa penting di tanah Jawa. Pangeran Mangkubumi atau dikenal dengan Sri Sultan Hamengkubuwono I menjadi tokoh penting dalam berdirinya Kraton Jogja yang nilai peradabannya masih bisa dirasakan hingga saat ini.

Pada 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi memproklamirkan berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelahnya, Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan HB I membangun kraton seperti bangunan pusat, dua alun-alun, Masjid Gede, benteng, tugu, Taman Sari dan sebagainya.

Dosen Fakultas Sejarah Universitas Sanata Dharma Jogja, Galih Adi Utama menjelaskan, dari hasil penelitiannya meski pun telah menyandang gelar Sultan HB I, kala itu Pangeran Mangkubumi masih menggunakan gelar lain, termasuk Pakubuwono. Gelar yang berbeda ini terutama untuk urusan pembagian wilayah yang masih abu-abu, antara milik Surakarta atau Jogja. 

BACA JUGA : Putri Kraton Jogja Hadiri Peringatan Perjanjian Giyanti 

“Dari dokumen korespondensi memperlihatkan kepala surat [menggunakan nama] Sultan Pakubuwono, dalam konteks penetapan berbagai wilayah yang masih tumpang tindih antara Surakarta dan Jogja. Nama tersebut diperlukan oleh Mangkubumi dalam berkontestasi dalam memastikan pembagian wilayah,” kata Galih dalam diskusi Peringatan Hadeging Nagari Ngayogyakarta: Mengupas Kejuangan Pengeran Mangkubumi di Tirta Kelapa Art Space, Sleman, pada Senin (15/3/2021).

Diskusi ini digelar oleh Paniradya Kaistimewaan DIY Bersama Sekber Keistimewaan DIY sebagai salah satu upaya sosialiasi terkait keistimewaan DIY kepada masyarakat. Selain diskusi, acara tersebut juga digelar pemutaran film dokumenter terkait Pangeran Mangkubumi.

Jauh sebelum Kraton Jogja berdiri, sekitar akhir abad 17 dan awal 18, Kraton Mataram yang terdiri dari beberapa wilayah dalam keadaan panas. Berbagai pemberontakan terjadi melawan pihak Kraton. Tidak hanya internal Kraton Mataram dan wilayah di sekitarnya, perusahaan dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) juga turut terlibat.

Pemberontakan

Pangeran Mangkubumi sebagai salah satu peredam pemberontakan harusnya mendapat hadiah tanah, dengan luas tiga ribu cacah di daerah Sukowati. Namun hadiah itu tidak kunjung dia terima. Lebih parahnya, beberapa wilayah utara Kraton Mataram justru disewakan pada VOC dengan harga yang rendah.

Pangeran Mangkubumi tidak sepakat dengan keputusan itu dan memilih pergi dari Kraton Mataram. Kini dia menjadi seorang pemberontak, dengan tujuan utama menumpas tentara Belanda dan VOC. Bermodalkan 13.000 tentara, Pangeran Mangkubumi mengobarkan peperangan di Surakarta, salah satu bagian Kraton Mataram pada 19 Mei 1746.

Banyak tentara Belanda yang gugur. Keberhasilan ini menjadikan Pangeran Mangkubumi dianggap masyarakat sebagai Raja Mataram Kabanaran, tempat yang kala itu menjadi daerah kekuasaannya.

BACA JUGA : Kraton Jogja Ungkap Gejolak Politik di Masa HB II 

Pada akhir 1749, Raja Kraton Mataram Pakubuwono II sakit keras. Sebelum meninggal, dia menuliskan surat yang menyatakan suksesi kepemimpinan berada di tangan VOC. Hal ini semakin membuat keadaan tidak menentu, perlawanan pemberontak semakin besar. Penobatan Pakubuwono III juga tidak bisa meredam kekacauan kala itu.

Hingga akhirnya petinggi kolonial kala itu, Nicolas Harting membuat perjanjian Giyanti dengan Pangeran Mangkubumi pada 13 Februari 1755 di sebuah desa kecil di timur Surakarta. Salah satu isinya terkait pembagian wilayah Kraton Mataram menjadi dua bagian yaitu sisi Timur dan Barat. Sisi Timur menjadi Kraton Surakarta, dan sisi Barat menjadi Kraton Jogja.

“Klaim sebelum Pakubuwono II meninggal, ada semacam surat penyerahan kekuasaan pada VOC,” kata Margana dalam film produksi Paniradya Kaistemawan.  Segala urusan suksesi yang menangani VOC. Pedaman ini yang VOC klaim memiliki hak atas tanah [Kraton Mataram],” Kata Sejarawan Universitas Gadjah Mada Sri Margana.

Peneliti Kemendikbud RI Lilik Subiyanto menceritakan Pangeran Mangkubumi merupakan pejuang sejak muda. Setelah mengemban tugas di Kartasura sejak berusia 13 tahun, dia berjuang keras melawan bangsa kolonial. Pada perjanjian Giyanti, umur Pangeran Mangkubumi juga masih 40-an tahun.

Selain menjadi contoh untuk anak muda sekarang dari sisi perjuangan, Pangeran Mangkubumi juga tahu keadaan dan posisi keberpihakan. “Meski memiliki sisi pandangan yang berbeda dengan sultan dan memiliki pengalaman yang sama dengan para pemberontak, tapi beliau tidak memberontak terhadap sultan atau makar pada negara. Membidik yang perlu dilawan, yaitu VOC,” kata Lilik yang telah melakukan penelitian tentang Pangeran Mangkubumi.

BACA JUGA : Sejarawan Sebut Ada Celah Bagi Kraton Jogja Menuntut

Koordinator Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra sepakat, bahwa semangat perjuangan yang dimiliki Pangeran Mangkubumi dalam melawan penjajah masih relevan untuk ditiru oleh generasi milenial saat ini. Terutama dalam menanamkan rasa nasionalisme dan mempertahankan persatuan dan kesatuan serta melestarikan warisan budaya yang adiluhung.

Pahlawan Nasional

Margana menilai perlawanan Pangeran Mangkubumi menjadi semakin besar ketika dia bergabung dengan Raden Mas Said. “Meski pernah ada perbedaan pendapat [antara Mangkubumi dan Said], hal itu justru semakin menyulitkan Belanda,” katanya

Pada 10 November 2006, pemerintah Indonesia menobatkan Pangeran Mangkubumi sebagai pahlawan nasional. “Kepahlawanan itu diberikan atas tindakan-tindakan beliau dan sikap-sikap beliau terhadap kompeni yang jelas,” kata Margana.

“Dalam pandangan nasionalis, VOC adalah penjajah, sehingga siapapun yang memimpin perlawanan terhadap penjajah bisa dikategorikan atau diusulkan menjadi pahlawan. Ada nilai-nilai jiwa kepahlawanan pada diri Mangkubumi.” katanya.