Kraton Jogja Ungkap Gejolak Politik di Masa HB II

Sejumlah abdi dalem membawa uba rampe Garebeg Mulud, di Kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadoningrat, Kamis (29/10/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
29 Oktober 2020 14:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II banyak menjadi kajian. Akademisi dari dalam maupun luar negeri kerap meneliti pemerintahan tersebut.

Salah satu peristiwa yang paling fenomenal di masa itu adalah penyerbuan pasukan Inggris ke Kraton pada Juni 1812 atas perintah Gubernur Jenderal Rafless dikenal dengan Geger Sepehi. Sejumlah benda berharga seperti manuskrip kraton pun dijarah. Isu tersebut terus bergulir, menyebut bahwa manuskrip tersebut beberapa masih tersimpan di Inggris dan beberapa pihak menuntut untuk dikembalikan.

BACA JUGA: Ini Link & Cara Mencairkan Bantuan dan Kredit UMKM Rp31 Juta dari Facebook

Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X mengakui sosok Sri Sultan Hamengkubuwono II bukan sekadar pewaris takhta melainkan penerus perjuangan melawan kolonialisme. Beliau lahir pada 7 Maret 1750 di lereng Gunung Sindoro dengan nama Raden Mas Sundoro, saat bersama ibundanya GKR Kadipaten, mengikuti ayahnya Pangeran Mangkubumi bergerilya melawan VOC. Pengalaman itulah yang menempa karakter keras HB II dalam melawan kolonial Belanda hingga saatnya bertakhta.

“Pada 1758 beliau ditetapkan sebagai putra mahkota menggantikan putra permaisuri GKR Kencono karena meninggal, RM Sundoro dewasa melihat setiap kontrak politik membuat kekuasaan di wilayah Raja Jawa makin sempit. Sebaliknya wilayah VOC justru alami perluasan,” ungkap Sultan dalam pembukaan Pameran Temporer Sang Adiwira Sri Sultan Hamengku Buwono II yang dipantau Harianjogja.com melalui akun Youtube Kraton Jogja, Kamis (29/10/2020).

HB X menambahkan sosok HB II banyak melakukan perubahan di kraton dan melindungi kraton dari ancaman VOC. Hal itu dilakukan dengan membangun benteng atau Tembok Baluwarti mengelilingi kraton. Ketegasannya terhadap penjajah pernah dibuktikan dengan menolak permintaan wakil VOC yang menuntut posisi duduknya disejajarkan dengan Sultan.

“Selain itu tanpa melibatkan VOC beliau menunjuk sendiri pepatih dalem,” lanjutnya.

BACA JUGA: Viral Wisata Esktrem Naik Layangan Raksasa, Ini Reaksi Satpol PP Bantul...

Sultan mengatakan setelah Belanda jatuh ke tangan Napoleon, bekas wilayah VOC beralih ke pemerintah Prancis. Ketika Daendels jadi Gubernur Jenderal, bekas jajahan VOC harus tunduk kepada Raja Belanda. Namun Sri Sultan HB II dengan tegas menolaknya hingga Daendels memimpin 3.300 pasukan untuk menekan HB II turun takhta.

HB II kemudian digantikan putra mahkota RM Mas Suroyo sebagai HB III yang harus menandatangani kontrak memberatkan. Namun perjanjian ini tidak sempat dilaksanakan karena Inggris datang dan memukul mundur Belanda. “Sejarah mencatat beliau sempat naik takhta sebanyak tiga kali yang dilatari Geger Sepehi, pimpinan Gubernur Jenderal Inggris Rafless. Kraton diduduki, ribuan karya sastra dijarah, sejarah hitam itu tertulis dalam bedah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Semua peristiwa itu tidak lain karena kekerasan sikap beliau kepada penjajah,” ucap HB X.

HB II tidak hanya dikenang sebagai patriot, tetapi juga meninggalkan warisan monumental. Di bidang sastra berupa karya heorik seperti Babad Nitik Ngayogyakarta dan Babad Mangkubumi. Dua babad ini menceritakan perjuangan berdirinya Kraton Jogja. Selain itu ada karya sastra bersifat fiksi, serat Baron Sekunder dan Serat Suryaraja. Serat ini memberi pedoman seorang Sultan dalam memimpin rakyatnya, tidak hanya di bidang politik pemerintahah tetapi juga pertanian, seni dan budaya termasuk sastra dan seni tari bahkan juga filosofi dan spiritual. “Beliau mengajarkan jadi raja itu harus lengkap pengetahuannya, serat ini kemudian dijadikan pusaka kraton,” ujarnya.

BACA JUGA: Tak Ajukan Bantuan Usaha Mikro, Beberapa Warga Bantul Kaget Peroleh Rp2,4 Juta

Sultan mengatakan HB II juga memerintahkan membuat bentuk wayang kulit dengan wanda atau citra perang dan mengubah wayang orang dengan lakon Jayapusaka.

“Sosok beliau dapat jadi cermin sejarah bagi generasi yang kemudian dalam napak laku menantang zaman baru, zaman milenial yang tentu akan melahirkan sosok pahlawan sesuai zamannya,” ucapnya.

Kegigihan HB II berakhir. 3 Januari 1828 dia meninggal dunia. Sultan HB X mengungkap alasan HB II dimakamkan di Hastorenggo, Kotagede dan tidak dimakamkan di Saptorenggo, Imogiri.

“Karena saat itu sedang berkecamuk Perang Jawa sehingga tidak memungkinkan dilakukan prosesi hingga makam Saptorenggo Imogiri,” katanya.

BACA JUGA: Tiga Remaja Pelaku Klitih di Gunungkidul Diringkus Polisi

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Nityabudaya Keraton Ngogyakarta Hadiningrat GKR Bendara mengatakan berbagai gejolak sosial politik baik di dalam maupun di luar kraton terjadi dalam masa pemerintahan HB II. Meski demikian HB II saat itu melakukan pembangunan secara besar-besaran. Periode ini HB II sangat banyak menuliskan sejarah dalam bentuk fisik sekaligus membangun pranata bagi kerabat Kraton.

Berbagai kisah tentang Sri Sultan Hamengkubuwono II itu disajikan dalam Pameran Temporer Adiyatmoko dengan tajuk Sang Adiwira Sri Sultan HB II. Karena di masa pandemi Covid-19, akses pameran yang digelar sejak 29 Oktober 2020 hingga 31 Januari 2021 ini lebih diarahkan secara digital.

“Para pengunjung bisa mengakses tiket dan berbagai kegiatan pendukung pameran melalui daring,” katanya.