Nelayan Gunungkidul Dilatih Sertifikasi SKN, Keselamatan Jadi Fokus Utama
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Warga Kalurahan Ngloro, Saptosari diresahkan dengan kemunculan ular piton di sekitar permukiman. Selain memangsa ternak, teror hewan melata ini mengakibatkan salah seorang warga menjadi korban gigitan.
Kemunculan belasan piton ini terlihat sejak Januari lalu karena warga berhasil menangkap dua ekor. Penangkapan tersebut awalnya dikira fenomena yang biasa. Namun keanehan mulai muncul sejak Maret karena hingga awal April sudah ada 15 ekor piton yang ditangkap.
Penangkapan terakhir terjadi pada Jumat (2/4/2021) malam. Diketahui ular sepanjang tiga meter ini tertangkap setelah memangsa ayam jago milik warga. Tak hanya itu, pada Sabtu (3/4/2021) sore, ada yang melihat dua ekor piton yang menyeberang jalan masuk ke area ladang kacang di wilayah tersebut.
Baca juga: Jadi Ketua PB ISSI, Kapolri Listyo Sigit Tidak Langgar Rangkap Jabatan
Salah seorang warga Kalurahan Ngloro, Muhammad Bahrudin mengatakan, kemunculan piton-piton ini membuat warga resah. Pasalnya, kemunculan sudah memasuki area rumah. “Kemunculan tidak hanya di luar rumah, karena ada warga yang melihat piton di dapur dan kamar mandi. Terakhir pada Sabtu sore ada yang melihat dua ekor yang melintas di jalan dan masuk ke ladang yang ditanami kacang oleh warga,” kata Bahrudin, Minggu (4/4/2021).
Dia menjelaskan, sejak kemunculan pertama kali di Januari lalu sudah ada 15 ekor yang berhasil di tangkap. Adapun rinciannya, dua ekor ditangkap rentang waktu Januari, sedangkan sisanya 13 ekor ditangkap dari Maret sampai April ini. “Untuk ukuran bervariasi dari satu meter hingga hampir mencapai lima meter,” katanya.
Baca juga: 6.000 Rimbawan Perhutani Terancam Pensiun Dini, Ini Kata Serikat Karyawan
Bahrudin mengungkapkan, teror muncul karena di awal-awal penampakan ada yang membunuh hewan ini. Warga mempercayai pada saat piton dibunuh akan memicu munculnya piton-piton lainnya. Untuk itu, sambung dia, warga sekarang tidak ada yang berani membunuh karena piton yang tertangkap ada yang dipelihara, tapi ada juga yang dikembalikan ke habitatnya ke sebuah luweng di dekat dusun.
“Percaya atau tidak memang ada sisi mistisnya juga. Oleh karenanya, sekarang tidak ada yang berani membunuh piton-piton yang ditangkap,” imbuh dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Nelayan Gunungkidul mendapat pelatihan SKN, pembekalan BPJS Ketenagakerjaan, serta pemberdayaan ekonomi bagi istri nelayan.
Pemuda Mojosongo Solo YD diduga ditangkap Densus 88. Keluarga mempertanyakan perkara dan meminta penjelasan terkait proses hukum.
APBN 2027 memang memangkas subsidi energi Rp11,44 triliun. Namun, klaim gas langka dan harga pasti naik belum terbukti.
Disertasi Jejen Hendar di UII menyoroti pengelolaan TJSP yang masih formalitas dan mendorong regulasi berbasis keadilan sosial.
Menag Nasaruddin Umar mengajak ASN Kemenag, guru, tokoh agama, dan santri menjadi agen Perlinsos untuk membantu pendataan penerima bansos.
Operasi kebakaran Transhome ditutup, tetapi basement masih bersuhu 200 derajat Celsius dan satu armada damkar tetap disiagakan.