1.000 Pekerja Film di Jogja Akan Disuntik Vaksin Covid-19

Presiden Joko Widodo menyaksikan seniman berkostum Gatot Kaca disuntik Vaksin Covid-19 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, Rabu (10/3/2021). - Ist/dok
06 April 2021 21:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Jogja adalah daerah yang menjanjikan bagi perkembangan industri perfilman di Indonesia. Setidaknya sejak lima tahun belakangan produksi film semakin ramai, distribusi-ekshibisi film semakin beragam saluran dan ruang, lalu apresiasi-edukasi-pengarsipan film menjadi bidang yang semakin serius dikembangkan.

Ekosistem perfilman Jogja berjalan dan berkembang sebagai mata rantai sekaligus daur hidup perfilman. Namun, sejak pandemi Covid-19 diumumkan, ekosistem berjalan pincang dan mengalami hambatan.

“Salah satu kesempatan yang kami tahu untuk kembali menyehatkan ekosistem perfilman di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah menyegerakan vaksin massal untuk para pelakunya,” tegas Suluh Pamuji selaku Ketua Jogja Film Commission, dalam rilisnya, Selasa (6/4/2021).

Baca juga: Pekerjaan di Luar Rumah, Melaney Ricardo Tak Punya Penghasilan Saat Isolasi Covid-19

Gagasan tersebut kemudian menjadi nyata. Vaksinasi massal untuk pelaku perfilman Jogja akan berlangsung Rabu (7/6/2021) pukul 12.00-15.00 WIB di Jogja Expo Center (JEC).

Program tersebut diinisiasi oleh Jogja Film Commission, Paguyuban Filmmaker Jogja, Hanung Bramantyo, dan direalisasikan bersama Dinas Kesehatan DIY. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun panitia, tak kurang 1.000 pelaku perfilman menyatakan siap divaksin.

“Para penggagas kompak bergerak cepat. Jadi awal Maret saya bertemu dengan Presiden dan Gubernur DIY di acara vaksin massal seniman dan budayawan yang diselenggarakan pemerintah pusat di Padepokan Seni Bagong Kusudiarjo. Saya menyampaikan ada lebih dari 1000 pekerja film di Jogja yang sangat mengharapkan vaksin,” tegas Hanung.

Baca juga: WHO Tak Dukung Paspor Vaksin Covid-19, Ini Alasannya

Sejak bioskop tutup, lalu buka tapi sepi. Industri film memng kolaps. Banyak produser menahan film dan tidak tayang di bioskop karena menghitung resiko pandemi dan ekonomi. Beberapa produksi yang sudah terlanjur persiapan menunda produksinya atau tetap melanjutkan produksi dengan mengubah konsep kreatif menyesuaikan keadaan.

“Jika Jogja sampai ada 1.000 pekerja film dan hal itu tidak segera diselesaikan, maka kemungkinan ada lebih dari 100.000 pelaku industri film di Indonesia yang terdiri dari kru, ekstras, karyawan bioskop, dst. Tidak mendapatkan penghasilan layak,” pungkas Hanung.

Sehari setelah pertemuan tersebut, Gubernur DIY menginstruksikan untuk segera membuat surat permohonan vaksin massal untuk pelaku perfilman Jogja. Ibarat gayung bersambut.

“Maret 2020, kami telah melakukan pendataan filmmaker terdampak pandemi, baik langsung maupun tidak. Waktu itu untuk penyaluran bantuan. Dari data tersebut kemudian dikembangkan dan hasilnya kami lampirkan sebagai penguat surat permohonan vaksin massal," Kata Ketua Paguyuban Filmmaker Jogja, Agni Tirta.

Untuk lingkup Jogja sendiri, jumlah pelaku perfilmannya ternyata signifikan dan beragam. Tercermin dari hasil pendataan. “Tak kurang 1.000 pelaku perfilman siap divaksin,” papar DS Nugraheni, filmmaker sekaligus PIC vaksinasi.

Mereka dibagi menjadi tiga kelompok dengan jam kedatangan yang berbeda, tujuannya untuk meminimalisir kerumunan.