Ini Sejarah di Balik Tradisi Cheng Beng

Koko Cici Jogja, Ako Amoi, Hoo Hap Hwee melakukan tradisi Cheng Beng, Minggu (7/4). - Ist
07 April 2021 14:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tradisi Cheng Beng atau Qing Ming yang merupakan tradisi berziarah ke makam yang jatuh pada Minggu (4/4/2021) lalu, menyimpan banyak cerita di baliknya.

President Persaudaraan Peranakan Tionghoa Warga Indonesia (Pertiwi), Udaya Halim mengatakan secara tradisi, orang Tionghoa melakukan pembersihan kuburan atau ziarah kubur di hari Cheng Beng. “Mereka akan membakar lilin, hio dan kertas persembahyangan. Dulunya mereka juga membakar petasan seusai melakukannya,” ucap Udaya Halim, dalam webinar bertajuk "Asal Oesoel Boedaya Cheng Beng dan Layang-Layang", Minggu (4/4/2021).

Berdasarkan cerita yang ada, Udaya Halim mengisahkan pada akhir Dinasti Qin setelah melewati banyak pertempuran akhirnya Liu Bang berhasil menjadi kaisar, setelah naik takhta Liu Bang merindukan kampung halamannya, dan berusaha mencari kuburan orang tuanya. Saat itu kuburan yang ada sangat berantakan karena bekas peperangan.

BACA JUGA: Ibadah Ramadan Diatur Sesuai Zonasi RT

Liu Bang memerintahkan prajuritnya untuk mencari, namun hingga senja makam orang tuanya tidak ditemukan. Hingga akhirnya Liu Bang merasa sedih dan berdoa, merobek kertas dan melemparkannya, salah satu sobekan kertas itu jatuh di salah satu nisan, yang diketahui ternyata itu nisan orang tuanya. Makam itu dibersihkan, dan muncul tradisi membersihkan makam itu.

“Lalu keteladanan Kaisar menghormati leluhur itu diikuti rakyatnya, mereka membersihkan makam, dan jika telah dikunjungi makam tersebut diberi kertas yang ditimpa atau diganjal batu,” ucapnya.

Cerita lain tentang tradisi Cheng Beng (Qing Ming) ini berasal dari Hanshi Jie (festival makanan dingin) sebagai peringatan kepada Jie Zitui, seorang abdi dalem dari Pangeran Wen pada dinasti JIN. Jie mengabdikan dirinya bertahun-tahun kepada pangeran WEN selama masa pengasingannya. Suatu hari mereka tidak mempunyai sesuatu yang bisa dimakan, dan Jie rela mengiris dagingnya sendiri untuk dijadikan sop daging untuk memberi makan sang pangeran Wen.

Ketika Pangeran Wen berkuasa, Jie memutuskan untuk pensiun dan menjadi pertapa di hutan. Pangeran Wen yang membutuhkan kepintaran Jie memutuskan untuk mencarinya namun tidaklah mudah mencari orang di kerimbunan hutan tersebut. Salah satu abdinya mengusulkan untuk membakar hutan tersebut agar Jie keluar. Suatu nasehat yang mendatangkan malapetaka, justru karena cara ini membuat Jie dan ibunya mati terpanggang api.

Sesudah api padam, Pangeran Wen menemukan sebuah puisi yang ditulis dengan darah Jie di rongga pohon Yang Liu di dekat tepat ditemukannya mayat Jie dan ibunya. “Puisi itu berbunyi, saya mengerat daging saya sendiri untuk menunjukkan kesetiaan saya dan saya mendambakan sekali paduka menjadi seorang kaisar yang bijaksana dan adil [Qing Ming Emperor]. Pangeran Wen sangat terpukul dan merasa bersalah setelah membaca puisi itu dan lalu menerbitkan sabda kepada rakyatnya untuk selama tiga hari berturut-turut tidak menggunakan api sebagai penghormatan kepada Jie. Hari kematian JIE kemudian diperingati sebagai Hanshi [Menyepi],” ujar Udaya Halim.

Tahun berikutnya pangeran Wen memimpin pengikutnya mendaki gunung untuk berziarah ke makam Jie. Ia sangat gembira ketika mendapatkan bahwa pohon yang sempat terbakar itu telah tumbuh rimbun dan subur kembali dan dia memberi nama pohon Yang Liu Qing Ming. “Hari itu kemudian secara resmi dikenal sebagai Hanshi Qingming festival,” ucapnya.