Vaksinasi di Gunungkidul Berjalan Lambat

Ilustrasi - Freepik
11 April 2021 20:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Perkembangan vaksinasi Covid-19 di Gunungkidul masih berjalan lambat. Dari target 70% dari jumlah penduduk atau sekitar 525.000 jiwa, baru tervaksinasi sebanyak 26.000-an orang.

Program vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Gunungkidul telah berjalan sejak Februari 2021. Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Abdul Azis mengatakan proses vaksinasi di Gunungkidul sangat bergantung dengan distribusi vaksin dari Pemda DIY. Oleh karenanya, perkembangan vaksinasi masih belum seperti yang diharapan.

BACA JUGA: Korban Sipil Tewas Setelah Kudeta Myanmar Lebih dari 700 Orang

“Semakin lancar pengiriman, maka perkembangan [proses vaksinasi Covid-19] akan semakin baik,” kata Azis, Minggu (10/4/2021).

Menurut dia, untuk pelaksanaan vaksinasi, Dinkes Gunungkidul telah menyiapkan 40 fasilitas kesehatan di seantero Bumi Handayani.

Soal stok vaksin yang lambat, Azis menjelaskan pada 5 April, Dinkes Gunungkidul menerima 3.500 dosis. Meski demikian, hingga Minggu siang, stok yang dimiliki tinggal 2.370 dosis. Keterbatasan stok ini membuat petugas vaksinator belum berani menambah jumlah sasaran untuk vaksinasi dengan melakukan penyutikan pertama. “Stok vaksin difokuskan untuk menyelesaikan penyuntikan kedua,” katanya.

Dia menambahkan, sesuai dengan target 70% dari jumlah penduduk Gunungkidul harus tervaksinasi untuk mewujudkan kekebalan kelompok (herd immunity), maka ada sekitar 525.000 jiwa yang masuk menjadi sasaran.

Diperkirakan dengan jumlah ini, maka kebutuhan vaksin mencapai satu juta dosis. Namun, hingga sekarang baru sekitar 26.000 orang yang disuntik vaksin Covid-19. “Semua Negara berebut [vaksin Covid-19], jadi kami hanya bisa menunggu jatah vaksin dan mudah-mudahan semua lancar sehingga target bisa terpenuhi,” katanya.

BACA JUGA: Hujan Deras di Gunungkidul Akibatkan Longsor di 3 Titik

Disinggung mengenai keberadaan vaksinasi Merah Putih buatan dalam negeri, ia mengaku vaksin tersebut belum bisa digunakan karena masih belum dilakukan uji klinis. “Masih menggunakan satu jenis vaksin yang dikeluarkan oleh Sinovac,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty. Menurut dia, pelaksanaan terhambat karena datangnya vaksin dilakukan secara bertahap sehingga berpengaruh terhadap sasaran penerima vaksin. “Prinsip kami kalau memang ada pengiriman, maka proses vaksinasi terus dilakukan,” katanya.

Meski stok yang diberikan belum dalam jumlah yang besar, Dewi memastikan program akan jalan terus. Malahan, menurut dia, Dinkes Gunungkidul masih terus mendata calon penerima vaksin dari kalangan lansia.

“Masih proses. Untuk pendataan, selain melibatkan RT, juga dilakukan melalui pendaftaran online,” katanya.