Pengalaman Estetis dan Edukasi Tersembunyi dalam Bedhaya Mintaraga

Pementasan Bedhaya Mintaraga di Bangsal Srimanganti Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sabtu (10/4). - mediacenter.kratonjogja.id
12 April 2021 05:30 WIB Media Digital Jogja Share :

 Harianjogja.com, JOGJA—Memperingati ulang tahun ke-75 Sri Sultan HB X sekaligus 32 tahun kenaikan takhta berdasarkan tahun Masehi, Kraton Jogja mementaskan Yasan Dalem Enggal (karya baru) berjudul Bedhaya Mintaraga, Sabtu (10/4/2021). Pertunjukan karya anyar ini dinilai syarat pengalaman estetis dan memiliki nilai edukasi tersembunyi.

Menurut Penata Beksa, Nyi KRT Kusumaningrat, karya yang terilhami dari Serat Lenggahing Harjuna ini merupakan karya Sri Sultan HB X. “Semua yang nulis Ngarsa Dalem [Sri Sultan HB X] sendiri,” kata Nyi KRT Kusumaningrat dalam pernyataannya sebelum pentas berlangsung secara daring Sabtu.

Mintaraga adalah nama lain dari tokoh pewayangan Raden Harjuna, saat dia sedang bertapa di Gua Indrakila. Penyematan gelar Mintaraga kepada Raden Harjuna tidak lepas dari mesu budi atau usaha mengendalikan hawa nafsu, baik jasmani maupun rohani.

Dalam Bedhaya ini, akan terlihat simbol Raden Harjuna sebagai kesatria sejati berpendirian teguh.

Gendhing Danasmara menjadi pengiring utama Bedhaya Mintaraga, dengan Gendhing Gati Retnadi dan Gati Surendra sebagai iringan gending pembuka dan gending penutup. Ketiga gending tersebut menggunakan Laras Slendro Pathet Sanga.

Dosen Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta, RM. Pramutomo, menilai pertunjukan Bedhaya Mintaraga sebagai pengalaman estetis yang memiliki nilai edukasi tersembunyi.

Sri Sultan HB X menuangkannya dalam gagasan (Serat Lenggahing Harjuno) dan menjadi representasi otoritas estetis yang diwujudkan dalam tari bedhaya. “Kesan ini sebagai bentuk respons awal ketika Bedhaya Mintaraga mampu mengekspresikan sejumlah konfigurasi menarik dan bernuansa agung. Tata artistik yang digunakan juga mengikuti standar visual tari Bedhaya yang lazim di Kraton Jogja,” kata RM Pramutomo.

Salah satu hal yang menarik, penari merespons gagasan Sultan HB X dalam tata rakit yang khas dalam genre Bedhaya. Salah satu cirinya dengan fokus pertunjukan pada tata rakit tiga tiga. Menurut RM Pramutomo, segmen ini jarang ditunjukkan sebagai puncak fokus dalam dimensi estetis.

Tata rakit tiga tiga merupakan bagian yang sering kali ditandai dengan perubahan pola gendhing tertentu. Secara kesadaran ruang, sembilan penari perempuan dalam posisi tiga berjajar sama sisi dengan menghadap ke arah depan. Kesan pola kotak akan mengemuka di hadapan penonton.

“Namun demikian, ini sebenarnya adalah pola melingkar dengan ujung mencapai titik di wilayah empty space bagian atas ruang tari. Sekali lagi ruang tersembunyi dalam tata rakit tiga tiga tidak pernah dipandang sebagaimana ruang mandala dengan empty space di atas ruang tarinya. Sisi humanisme artistiknya justru hadir ketika imajinasi penikmat sampai kepada titik di atas empty space ini,” kata RM Pramutomo.

Tidak hanya itu, Bedhaya Mintaraga merupakan monumen piwulang Sultan HB X dalam bentuk karya seni. Bedhaya Mintaraga menjadi semacam replikasi adaptasi dari seluruh piwulang Sultan HB X yang menjadi gagasan intinya. “Oleh sebab itu karya ini diharapkan memberi transformasi sistem pengetahuan bagi para pelaku tari di dalam kraton,” kata RM Pramutomo.

Pementasan Bedhaya Mintaraga di Kagungan Dalem Bangsal Kencana digelar terbatas. KHP Kridhomardowo menyiapkan rakit (kelompok) kedua berbusana rompen untuk menari di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti secara bersamaan dengan rakit pertama. Iringan gamelannya mendengarkan suara rekaman (relay) dari Bangsal Kencana. Hal ini agar masyarakat bisa menyaksikan secara langsung melalui siaran daring.

Sumber : Humas Pemda DIY