Pelestarian Geoheritage DIY: Dilema Rawa Aji di Pantai Parangtritis

Gumuk pasir di Parangtritis yang sudah ditetapkan sebagai geoheritage beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Jumali
01 Mei 2021 18:07 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Penetapan gumuk pasir Pantai Parangtritis menghadapi sejumlah hambatan. Upaya mitigasi bencana tsunami dan aktivitas pariwisata justru menghambat pembentukan gumuk pasir. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Jumali.

Topo tidak pernah membayangkan keputusannya bersama dengan sejumlah orang menanam cemara udang di Pantai Cemara Sewu, 2010 lalu, akan memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan gumuk pasir Pantai Parangkusumo.

BACA JUGA: Hasil Survei: 83% Pekerja di Indonesia Ingin Bekerja dari Rumah

Beberapa tahun kemudian, cemara udang yang awalnya ditanam untuk menghalau kemungkinan tsunami di pesisir selatan Bantul justru menjadi simalakama. Alasannya, ribuan cemara udang di Pantai Cemara Sewu membuat suplai material pasir di gumuk pasir berkurang. Alhasil, keberadaan gumuk pasir pun terancam.

“Tujuan awalnya kan memang untuk mencegah tsunami. Namun, dalam perkembangannya, ternyata pantai ini berada di kawasan zona inti,” kata Topo, pria 60 tahun yang menjadi Lurah Parangtritis, Kretek ini.

Zona inti yang dimaksud Topo adalah wilayah utama. Di tempat itu, gumuk pasir tipe barchan berkumpul. Tinggi gundukan pasir yang berasal dari hasil erupsi Gunung Merapi yang endapannya dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara di Pantai Selatan, diperkirakan mencapai 7 hingga 15 meter.

Sedangkan luas zona inti mencapai 141,3 hektare, mulai dari ujung Pantai Cemara Sewu ke utara berbatasan dengan Jalan Parangtritis. Di kawasan tersebut, tidak dibolehkan berdiri bangunan maupun pepohonan karena akan mengganggu ekosistem dan aktivitas pengumpulan pasir.

BACA JUGA: Ini Imbauan Pemkab Bantul Agar Tragedi Sate Beracun Tak Terulang

Menghadapi kondisi ini, Topo pun tidak bisa banyak bertindak. Dia tak bisa memutuskan untuk memotong pohon cemara udang di Pantai Cemara Sewu. Apalagi, Pantai Cemara Sewu saat ini dikelola oleh Pemkab Bantul dan dijadikan objek wisata. Sementara, otoritas untuk mensterilkan kawasan inti gumuk pasir berada di di Pemda DIY.

Topo juga tidak bisa berbuat banyak menghadapi beberapa bangunan semi permanen berupa warung yang berdiri di sekitar area gumuk pasir. Penertiban bukan berada di tingkat desa melainkan ada di tangan di Pemda DIY.

Pun dengan keberadaan rumah warga yang masuk dalam kawasan zona inti. Topo mengakui bangunan itu sulit untuk ditertibkan. Pemerintah Kalurahan Parangtritis, mencatat ada 20 hektare lahan bersertifikat atas nama warga sekitar. Jika ditata dan bangunan itu dirobohkan, harus ada ganti rugi kepada warga.

“Di sana tidak hanya Sultan Grond. Ada tanah warga bersertifikat. Jika memang mau ditertibkan dan disterilisasi, kewenangan bukan di kami. Semua tergantung provinsi. Seperti pantai ini [Pantai Cemara Sewu] yang masuk zona inti. Harusnya steril dan ditata. Tetapi kembali lagi, kewenangan bukan di kami,” ucap Topo.

Topo menuturkan jauh sebelum ditetapkan sebagai kawasan geoheritage dan dijadikan objek wisata, gumuk dulunya merupakan rawa berukuran besar yang ditumbuhi berbagai tanaman air. Warga sekitar menamai rawa yang terbentuk dari genangan air hujan itu sebagai Rawa Aji.

Seiring dengan pembukaan lahan, banyak tanaman di rawa kemudian ditebang. Akibatnya, pasir yang sebelumnya berada di bibir pantai lambat laun terbawa oleh angin dan menutupi area rawa.  Semakin lama semakin luas area yang tertutupi oleh pasir sehingga masyarakat pun menamainya dengan sebutan gumuk pasir.

Lalu seiring dengan berubahnya kawasan Parangtritis sebagai kawasan wisata, sejumlah aktivitas penghijauan dan ekonomi pun dilakukan.  Kawasan gumuk pasir semakin padat, tidak hanya oleh tanaman vegetasi, tetapi juga permukiman. Akibatnya, hamparan luas gumuk semakin menyusut. Ketinggiannya pun semakin berkurang.

BACA JUGA: Jangan Makan Gorengan saat Sahur, Jika Terpaksa Lakukan Ini

Surveyor pemetaan Parangtritis Geomaritime Science Park, Nicky Setyawan, menuturkan selain bangunan, ribuan pohon cemara udang telah mengganggu keberadaan gumuk pasir di kawasan inti. Bangunan yang dimaksud oleh Nicky bukan hanya lapak pedagang semi permanen, tapi juga rumah warga yang masuk dalam kawasan inti dan kawasan terbatas. Kawasan terbatas adalah kawasan seluas 95,3 hektare dan terletak di timur Pantai Cemara Sewu yang kini digunakan untuk permukiman, perekonomian dan  pariwisata.

“Timur zona inti itu kan sebenarnya lorong angin. Ini bisa kita lihat dengan banyaknya pasir di kawasan Cepuri Parangkusumo saat kemarau. Harusnya angin bisa bergerak bebas dan membawa material pasir ke kawasan inti,” jelasnya.

Nicky berharap ada langkah nyata dari Pemda DIY untuk terus menjaga dan melestarikan keberadaan gumuk pasir yang telah ditetapkan sebagai geoheritage. Langkah nyata yang dimaksud tidak hanya pemotongan pohon seperti dilakukan pada awal April di wilayah bagian utara kawasan inti.

“Dengan telah ditetapkannya kawasan ini sebagai geoheritage, akan lebih mudah menata dan mengelolanya ke depan,” harapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan sampai kini belum mengetahui konsep pengembangan dan penataan terkait dengan telah ditetapkannya gumuk pasir sebagai geoheritage. Menurut dia, belum ada kejelasan kewenangan untuk menata kawasan tersebut.

“Selama ini digunakan untuk wisata. Tapi di sana juga ada beberapa urusan dari pihak lain. Untuk itu perlu rumusan bersama untuk penataan dan pengelolaannya,” kata dia.

Selain itu, saat ini banyak warga yang tidak paham mengenai batasan zona inti, terbatas, dan penyangga. Akibatnya, banyak berdiri bangunan di kawasan tersebut.

“Untuk itu perlu rumusan yang spesifik. Batas aktivitasnya seperti apa? Banyak yang belum mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan gumuk pasir,” ucap Kwintarto.