Hutan Mangrove Baros Kembali Ditanami, Halim: Ini Aset Penting

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih (dua dari kanan) menanam bibit mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove, Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul pada Senin (10/5/2021). - Ist.
11 Mei 2021 10:47 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, KRETEK - Pemkab Bantul kembali melakukan penanaman bibit mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove Baros, Tirtohargo, Kretek. Penanaman kembali bibit mangrove di kawasan tersebut dinilai penting guna mencegah abrasi, terlebih di tengah maraknya penambangan pasir ilegal.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih yang memimpin penanaman bibit mangrove pada Senin (10/5/2021) menilai mangrove merupakan aset penting. Halim berpandangan hutan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penahan abrasi, melainkan habitat bagi satwa-satwa endemik kawasan mangrove. Salah satunya kepiting yang dikatakan Halim dapat dikembangkan oleh masyarakat dan Pemuda Pemudi Mangrove di kawasan Pantai Baros.

BACA JUGA : Penambangan di Muara Sungai Opak Mengancam Hutan

Halim berharap keanekaragaman hayati di kawasan mangrove Baros bisa bermanfaat dari aspek lingkungan maupun ekonomi. Kedepannya Halim akan membuat program dan kegiatan yang bisa mengoptimalkan pemanfaatan kenakeragaman hayati di Kawasan Konservasi Mangrove Baros.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul, Ari Budi Nugroho menerangkan bila kawasan konservasi hutan mangrove Baros merupakan salah satu keanekaragaman hayati satu-satunya di Kabupaten Bantul.

"Mangrove ini pertama kali ditanam pada tahun 2003 mempunyai beberapa fungsi yang pertama untuk menahan abrasi," katanya.

Saat ini luas hutan mangrove mencapai empat hektare. Hutan mangrove disebutkan Ari kini menjadi tempat penelitian dari para peneliti. Kelompok Pemuda-pemudi Baros dan Warga masyarakat Tirtohargo dikatakan Ari merupakan salah satu barisan terdepan dalam konservasi mangrove.

"Perkembangan hutan mangrove ini banyak mengalami kendala permasalahan. Letaknya di muara Sungai Opak, membuat tumbuhnya kurang dari 20 persen karena gangguan utamanya sampah plastik. Sehingga penggiat lingkungan, warga masyarakat dan OPD terkait setiap melakukan penanaman harus membuat barrier untuk menahan dari tumpukan sampah yang mengenai bibit mangrove," terangnya.

BACA JUGA : Puluhan Burung Kuntul di Hutan Mangrove Baros Bantul 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kuncoro Cahyo Aji menuturkan bila hutan mangrove sudah lama menjadi perhatian Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Sejak tiga bulan lalu Gubernur DIY telah memerintahkan DLHK DIY untuk memantau keberadaan hutan mangrove dari Baros, Bantul sampai ke Pendit, Kulonprogo.

"Hasil dari pantauan tersebut ditemukan beberapa kerusakan-kerusakan hutan mangrove. Sehingga Gubernur memerintahkan untuk menyelamatkan hutan mangrove tersebut. Kurang lebih dua pekan yang lalu OPD terkait telah memantau di beberapa titik-titik kerusakan hutan yang ada. Direncanakan pada bulan Juli 2021 nanti akan ditanami kembali bibit mangrove dari Baros hingga Pendit Kulonprogo," ujarnya.