Tangkal DBD, Sleman Luncurkan Program Si Wolly Nyaman, Apa Itu?

Ilustrasi - Pixabay
19 Mei 2021 19:37 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta akan meluncurkan "Si Wolly Nyaman", inovasi program penerapan metode "Wolbachia", untuk menekan tingkat penularan demam berdarah dengue (DBD).

"Program 'Si Wolly Nyaman' ini akan resmi diluncurkan di Kabupaten Sleman pada Jumat (21/5/2021) secara daring mulai jam 08.30 WIB, melalui kanal Youtube Sleman TV, Promkes Sleman, dan WMP Yogyakarta," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo di Sleman, Rabu (19/5/2021).

Dalam acara peluncuran tersebut juga akan dilaksanakan acara Dialog Rakyat, menampilkan narasumber Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo, Claudia Suryadjaja dari World Mosquito Program (WMP) Global, Prof dr Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.D dari WMP Yogyakarta dan Trihadi Saptoadi dari Yayasan Tahija.

BACA JUGA: Tarik Parkir Rp5.000 untuk Motor, Dua Tukang Parkir di Jogja Didenda Rp500.000

Ia mengatakan "Si Wolly Nyaman" nama program yang diusung bersama "World Mosquito Program atau WMP Yogyakarta dari UGM dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman yang turut didukung Yayasan Tahija.

"Nama 'Si Wolly Nyaman' diambil dari nama Wolbachia yang berasal dari bakteri alami yang terdapat dalam 60 persen jenis serangga," katanya.

Dia menjelaskan bakteri yang juga ada di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti yang akan disebarkan, akan melindungi masyarakat dari penularan DBD secara terus-menerus.

"Hal tersebut karena Bakteri Wolbachia akan tetap ada di dalam tubuh nyamuk hasil perkawinan nyamuk ber-Wolbachia dengan nyamuk lokal," katanya.

Ia mengatakan implementasi program ini berdasarkan Instruksi Bupati Sleman Nomor 09/Instruksi/2021, rencananya akan dilaksanakan melalui 20 puskesmas dengan 13 kecamatan di 39 kelurahan, dan 588 pedukuhan di Sleman.

"Wilayah tersebut dipilih karena riwayat angka kejadian DBD yang tinggi. Dinas Kesehatan Sleman akan menyebarkan lebih dari 22 ribu ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia, dengan cara dititipkan pada para orang tua asuh terpilih di tiap-tiap pedukuhan serta didukung pula fasilitas umum dan perkantoran," katanya.

Metode Wolbachia, kata dia, terbukti efektif menurunkan 77 persen kejadian dengue dalam Penelitian Randomized Controlled Trial (RCT) di Kota Yogyakarta (2020).

"Kami berharap agar program ini berjalan lancar, sejak awal 2021 dilaksanakan beberapa tahapan persiapan, antara lain pelatihan bagi Para Pelatih Pelaksanaan Implementasi Perluasan Manfaat Wolbachia di Kabupaten Sleman secara daring, pelatihan Pelaksana Program dari perwakilan Dinas Kesehatan Sleman kepada perwakilan dari 20 puskesmas dan 13 kepanewon (kecamatan), serta kegiatan sosialisasi di tingkat kelurahan dan pedukuhan yang menjadi lokasi program tersebut," katanya.

Doker Riris Andono Ahmad, M.P.H., Ph.D, perwakilan dari tim WMP Yogyakarta, menegaskan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia terbukti aman.

"Nyamuk ber-Wolbachia yang dititipkan di rumah warga telah dipastikan aman karena sudah tidak dapat lagi menularkan virus dengue. Berdasarkan analisis risiko dari tim ahli independen yang dibentuk Kemenristek Dikti dan Balitbangkes Kemenkes, disimpulkan bahwa risiko teknologi ini dapat diabaikan," katanya.

Menurut dia, penerapan teknologi nyamuk ber-Wolbachia langkah pelengkap dari upaya-upaya pengendalian penyakit DBD yang telah ada selama ini.

"Diharapkan, kegiatan-kegiatan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M plus, gerakan satu rumah satu jumantik, dan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk, tetap harus dilaksanakan oleh segenap lapisan masyarakat," katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun melalui Dinkes Sleman kasus DBD per bulan di Kabupaten Sleman mulai 2016 dari 880 penderita dengan kasus meninggal dunia sembilan orang, mengalami penurunan pada 2017 dengan 427 penderita dengan tiga meninggal dunia, sedangkan pada 2018 turun menjadi 114 penderita dengan meninggal dunia satu orang.

Pada 2019 datanya mengalami kenaikan lagi menjadi 728 penderita dengan kasus meninggal dunia dua orang dan pada 2020 meningkat kembali menjadi 810 dengan kasus meninggal dua orang.

Pada 2021 sampai dengan akhir April terdapat 112 kasus tetapi tidak ada yang meninggal dunia. Siklus empat tahunan yang biasa terjadi, adanya peningkatan kasus namun semakin menurun jumlah angka yang meninggal dunia.

"Ini juga disebabkan sudah mulainya program 'Si Wolly Nyaman' walaupun dalam lingkup kecil," katanya.

Sumber : Antara