Tukang Rongsok, Si Edukator Berjalan, Bukan Sekadar Pengumpul Rongsokan

Joko Sulistyanto memilah sampah di teras rumahnya, Selasa (18/5/2021). - Harian Jogja/Arief Junianto
24 Mei 2021 11:07 WIB Arief Junianto Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sampah menjadi masalah akut negeri ini. Keberadaan para pengumpul barang bekas seharusnya bisa diandalkan untuk mengatasi persoalan ini. Dengan mengembalikan mereka pada posisinya sebagai pahlawan lingkungan, diharapkan masalah sampah bisa sedikiti teratasi.

Jemari legam Joko dengan cekatan memilah kardus dan botol plastik yang terserak di teras rumahnya. Memang, teras rumahnya yang berada di Sambilegi Lor, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman, nyaris selalu penuh dengan barang-barang bekas.

Botol plastik, kardus tumpukan kertas, hingga jeriken berisi jelantah menjadi pemandangan biasa bagi pria bernama lengkap Joko Sulityono itu. Barang-barang bekas itu ia dapatkan dari hasil berkeliling di sekitar rumahnya. “Bisa dari warga, kadang juga saya temukan di tempat sampah, kadang juga dari toko, bengkel atau proyek pembangunan rumah,” kata dia kepada Harianjogja.com, Selasa (18/5/2021).

Menjadi tukang rongsok sejak remaja membuatnya hafal betul barang bekas mana saja yang bisa laku dijual dan menghasilkan uang. Tak heran, saban mendapatkan barang bekas, dia pun segera memilahnya. “Dengan dipilah begini, harganya bisa menjadi lebih tinggi,” kata dia sembari terus mengorek-orek tumpukan botol plastik.

Namun sayang, tak selalu ia mendapatkan barang-barang bekas sumber rejekinya itu. Bisa jadi dalam sehari, dia tak lebih hanya mampu mengumpulkan beberapa belas kilogram.

Alhasil, nasibnya berubah sejak tiga tahun silam. Saat dia berkeliling di sekitar Pasekan, Sleman, tepatnya di rumah Sekti Mulatsih, seorang konsultan lingkungan, dia pun ditawari oleh perempuan tersebut untuk bergabung menjadi mitra Rapel, sebuah platform yang bergerak di sektor pengumpulan barang bekas untuk didaur ulang.

“Karena biasanya saya ambil barang bekas di bapaknya Bu Sekti. Beliau itu salah satu penggagas berdirinya Rapel. Ketika itu saya ditawari mau nggak jadi mitra,” kenang Joko.

Jelas saja, awalnya dia kebingungan. Betapa tidak, jika selama ini dia berburu barang bekas dengan cara berkeliling dan mendatangi setiap penjuru, kali ini dia cukup memantau ponsel. “Apalagi saat itu, ponsel saya tidak support [aplikasi Rapel].  Akhirnya oleh Bu Sekti, saya dipinjami ponsel,” kata dia.

Sejak itulah cara kerjanya pun berubah. Ketika itu, dia mendapatkan barang bekas dari tempat-tempat yang sudah pasti. “Jadi tidak acak dan tidak perlu berkeliling. Karena tempatnya sudah pasti. Berdasarkan user Rapel,” ucap Joko.

Lama kelamaan Joko pun merasa cara kerja itu menguntungkan, bisa menghemat waktu, dan tentunya bensin. Terlebih harga jual barang bekas yang ditawarkan Rapel pun tak jauh beda dengan yang ditawarkan pengepul dan pelapak barang bekas yang selama ini menjadi tempatnya “membuang” barang rongsokan.

“Contohnya, untuk kertas HVS sekarang saya beli dari pemilik [barang bekas] seharga Rp1.700 per kilogram, Rapel berani membelinya dari saya dengan harga Rp2.600 per kilogram. Gak jauh beda dengan pengepul. Cuma yang ini kan saya gak perlu susah-susah keliling. Tinggal datang langsung lokasinya,” kata dia.

Selain itu, kini dia pun sudah mendapatkan penghasilan pasti per bulannya. Jika saat berkeliling mencari barang rongsokan, pendapatannya tak tentu, kini dalam sebulan, dia mengaku mendapatkan pemasukan minimal Rp3 juta.

Untuk mendapatkan uang itu pun dirasanya tak sulit. Setelah barang bekas dipilah-pilah, Joko segera menghubungi manajemen Rapel. Tak lama sebuah mobil pikap datang menjemput barang rongsokan yang telah dipilah tersebut. “Setelah ditimbang, langsung dibayar. Bahkan kalau pas ambil barang bekas dari user, ternyata jumlahnya banyak, Rapel juga siap datang ke lokasi mengambil barang itu,” ucap dia.

Belum lagi soal bonus. Tak hanya uang dari hasil menjual barang rongsokan, dia juga masih mendapatkan tambahan pemasukan dari bonus poin yang diberikan Rapel. “Bonus itu seperti hasil penilaian Rapel  terhadap kinerja kami dalam merespons permintaan user,” kata Joko.

Akan tetapi tak hanya melulu soal uang, hal lain yang membuatnya betah menjadi kolektor—sebutan bagi tukang pengumpul barang bekas yang menjadi mitra Rapel. Betapa tidak, sebagai tukang rongsok, kini dia merasa lebih dihargai.

Kini Joko tak perlu lagi merasa waswas diusir satpam kompleks perumahan, diminta pergi oleh sekuriti kampus, dan dilarang masuk ke area kamar indekos. Dengan mengenakan rompi bertuliskan Rapel, siapapun kini menaruh hormat kepadanya. “Sekarang saya bisa bludas-bludus masuk perumahan elite,” celetuknya. 

Masalah Sampah

Tak dimungkiri, Indonesia menghasilkan setidaknya 66-67 juta ton sampah per tahun (2019). Jumlah itu. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, yakni mencapai 60% dari total sampah.

Sementara sisanya, sampah plastik volumenya mencapai 15%, sampah kertas sebesar 11% dan sampah lainnya sebesar 17%.

“Faktanya, sampah yang menjadi masalah, bahkan sampai mencemari laut adalah sampah anorganik. Kalau tidak dibenahi, suatu saat ini akan jadi persoalan serius,” kata Bussiness Development Rapel Martha Yenni, Selasa.

Bahkan di DIY, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan pun saat ini sudah over-capacity. Berdasarkan data Pemda DIY, kapasitas TPST Piyungan sudah over sejak 2014.

Itulah sebabnya, sejak awal didirikan, Rapel memiliki visi untuk mengurangi volume sampah, khususnya sampah anorganik. Dengan begitu, diharapkan volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, nantinya benar-benar sampah residu.

Itulah, menurut dia, persoalan sejatinya terletak pada aspek pengumpulan dan pengangkutannya. Bagi dia, ada kesalahan dalam hal pengumpulan dan pengangkutan. “Masyarakat kan sudah diajari memilah [sampah], tetapi sistem pengangkutan dan pembuangannya justru serampangan dan tidak didasarkan atas hasil pemilahan. Iya kan, nyatanya tidak ada pemilahan sebelum sampah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir,” kata Martha.

Atas dasar itulah, dia dan sejumlah rekannya pun bermaksud mengedukasi dengan memanfaatkan teknologi. Maka muncullah platform Rapel pada 2019 di Jogja.

Rapel, kata dia, merupakan inovasi dari PT Wahana Anugerah Energi (WAE), sebuah perusahaan konsultan lingkungan. Rapel merupakan harapan PT WAE untuk turut mengedukasi masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah anorganik. “Karena banyak program kami selama ini yang selalu gagal. Rapel adalah harapan kami,” ucap dia.

Tangkapan layar aktivitas kolektor Rapel. (Youtube Rapel Indonesia) 

Pahlawan Lingkungan

Dia tak memungkiri, awal mendirikan Rapel, tak banyak tukang rongsok yang bersedia diajak bergabung. Banyak tukang rongsok yang enggan direpotkan dengan urusan ponsel dan aplikasi.

“Tapi syukurlah, kini sudah lumayan banyak yang bergabung. Hingga sekarang, untuk wilayah DIY-Jateng, total ada 60 orang. Kalau untuk DIY saja memang baru 20 orang. Jujur saja, jumlah itu masih sangat sedikit,” kata dia.

Padahal menurut dia, para tukang rongsok itu adalah garda terdepan dalam hal pengolahan sampah. Bahkan, Martha pun tak segan menyebut mereka adalah pahlawan lingkungan. “Mereka bukan pemulung. Menurut saya, mereka adalah pahlawan lingkungan. Kami jelas sangat mengandalkan mereka,” ujar dia.

Persoalannya kini, kata Martha, justru ada pada masyarakat. Kesadaran memilah sampah yang sangat rendah, acap membuat para kolektor yang menjadi mitra Rapel kesulitan. “Bahkan pernah mitra kami mengeluh, mereka harus memunguti barang bekas dari tempat sampah karena pemiliknya tidak mengumpulkan barang bekasnya terlebih dulu dan langsung membuangnya begitu saja ke tempat sampah,” ucap Martha.

Oleh karena itu, dia menganggap para kolektor yang jadi mitra Rapel sekaligus merupakan edukator berjalan. Di tangan para kolektor itulah, edukasi soal pemilahan sampah terhadap masyarakat bisa lebih tepat sasaran.

Guna memaksimalkan visi edukasinya, kata Martha, Rapel tak hanya memberdayakan para tukang rongsok macam Joko, tetapi juga merangkul sejumlah pengelola bank sampah yang kini kian dililit masalah minimnya nasabah.