Gelar Seni Tradisi Dilaksanakan dengan Prokes

Kesenian Badui Kubro Siswo Laras Mudo, salah satu seni tradisi yang ditampilkan di Concert Hall TBY, Senin (24/5). (Harian Jogja - Ujang Hasanudin)
27 Mei 2021 06:47 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menggelar seni tradisi sepanjang tahun ini atau lebih dikenal Gelar Seni Sepanjang Tahun. Pada Mei ini ada delapan kelompok seni tradisi yang ditampilkan selama dua hari, yakni 24-25 Mei.

Gelar seni tradisi dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan persebaran Covid-19.

Di tahun-tahun sebelumnya gelar seni tradisi sepanjang tahun diadakan di panggung terbuka halaman TBY, sehingga bisa diakses penonton sebanyak-banyaknya, namun tahun ini berbeda.

Dalam situasi pandemi Covid-19 penonton di lokasi acara dibatasi, hanya dari sesama kelompok yang mementaskan acara. Penonton bisa menyaksikan melalui kanal Youtube TBY.

 “Memang dalam situasi pandemi seperti sekarang ini kami belum bisa menggelar seni tradisi secara terbuka namun tetap bisa disaksikan live lewat Youtube,” kata Kepala Pengelola TBY, Diah Tutuko Suryandaru, saat membuka Gelar Seni Tradisi Sepanjang Tahun di Concert Hall TBY, Senin (24/5).

Diah mengatakan gelar seni tradisi yang dilaksanakan Mei ini merupakan kali yang kedua. Sebelumnya acara serupa juga sudah digelar pada Maret lalu dengan konsep yang sama, yakni tanpa penonton. Meski demikian tidak mengurangi kemeriahan acara yang diikuti kelompok-kelompok seni kerakyatan.

“Konsepnya masih sama karena situasi dan kondisi seperti ini kita melaksanakan kegiatan untuk memacu para seniman tetap berkarya untuk berekpresi tapi juga mengedepankan kesehatan bersama, maka kami mengambil tema Semangat Berkarya Putus Mata Rantai Penyebaran Covid-19,” ujar Diah.

Empat kelompok seni kerakyatan yang tampil pada 24 Mei, yakni Musik Kreasi Plentong Konslet, Banguntapan, Bantul; Badui Kubro Siswo Laras Mudo, Nganglik, Sleman; Sasera (Sanggar Seni Raras), Ngestiharjo, Kasihan, Bantul; dan Generasi Ketoprak Gunungkidul (GKGK), Wonosari, Gunungkidul.

Sementara empat kelompok lainnya yang tampil pada 25 Mei adalah Dalang Brendi Narendra Brihawan, Pendowoharjo, Sleman; Wayang Orang Suko Budoyo, Bangunjiwo Kasihan, Bantul; Jatilan Wahyu Rogo Mataram, Pajangan, Bantul; dan Musik Kreatif Rakit Tikar, Gayam, Jogja.

Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya TBY, Suraya menambahkan pelaksanaan gelar seni tradisi mengunakan konsep non-penonton, namun live streaming diunggah di Youtube. “Sesuai anjuran pemerinah dalam melaksanakan kegiatan untuk menghindari kerumunan masa yang banyak. Sehingga diharapkan dapat memutus mata rantai persebaran Covid-19,” ujar Suraya.

Menurut Suraya, bentuk protokol kesehatan yang diterapkan yaitu pengisi acara tidak diperkenankan merias busana di TBY. Semua kelompok harus sudah merias di sanggarnya-masing masing, sehingga saat datang ke TBY tinggal tampil sesuai dengan jam dan waktu yang sudah ditetapkan. Setiap kelompok yang tampil juga dibatasi 20 menit atau maksimal satu jam jika mendesak.

“Konsepnya sekarang berbeda. Kalau dulu kami mencari penonton sebanyak-banyaknya. Kalau sekarang menghindari penonton agar tidak ada kerumunan massa yang berpotensi menjadi penularan Covid-19,” kata Suraya.

Suraya mengatakan panitia pandemi Covid-19 ini belum bisa diprediksi kapan berakhir, sementara kelompok seni juga perlu diberi ruang untuk berekpresi agar tetap eksis. TBY memiliki tugas melestarikan seni budaya yang tumbuh dan berkembang di DIY dan juga memberikan ruang ekpresi para seniman, para penata, para pelaku seni dan juga memublikasikan potensi seni budaya DIY. Meski terbatas namun tetap semarak.

Sekretaris Paguyuban Badui Kubro Siswo Laras Mudo, Arif Rohman mengapresiasi langkah yang dilakukan TBY dengan memberikan ruang ekpresi bagi para seniman, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini karena hampir semua kelompok seni tidak mendapatkan ruang berekpresi.

Menurut dia, Badui Kubro Siswo selama ini merupakan kesenian tradisi turun temurun sejak sekitar 1950an silam yang sampai saat ini tetap lestari.

Hal yang sama disampaikan oleh Direktur GKGK, Wening Susila. GKGK merupakan generasi ketoprak Gunungkidul yang merupakan perkumpulan para pemuda dari beberapa kapanewon yang memiliki komitmen untuk meletarikan ketoprak. Yang ditampilkan di TBY kali ini mengangkat cerita Minak Djinggo.

“Cerita dahulu ditafsir pemberontak, di naskah yang ditulis Alvian Anggoro ini angkat sisi lain karakter Minak Djinggo dari leadership-nya dan alasan mendasar sehingga terpaksa berani ke Majapahit. Ini sebuah penawaran fakta sejarah, karena berdasarkan riset langsung sampai Banyuwangi,” kata Wening. (ADV)