Ajak Masyarakat Memaknai Pancasila, GKR Hemas: Hindari Organisasi Terlarang Berkedok Agama

Anggota DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas menggelar kegiatan Sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika pada Sabtu (29/5/2021) di Joglo Suhartono, Kasihan, Bantul-Harian Jogja - Catur Dwi Janati
29 Mei 2021 18:37 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Upaya antisipasi munculnya gerakan separatis dan radikal di Indonesia terus dilakukan dengan beragam cara. Penguatan nilai Pancasila di lingkungan masyarakat dinilai jadi salah satu opsi kunci.

Upaya penguatan nilai-nilai Pancasila coba diwadahi oleh Anggota DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Lewat kegiatan Sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, permaisuri raja Kraton Jogja itu mengajak para peserta dari berbagai elemen mulai dari seniman Sanggar Sekar Nirmala Padokan Kidul, Sastra Jendra Hayuningrat, FKPPI Bela Negara, dan elemen lainnya untuk mengingat kembali nilai Pancasila. "Saya hanya ingin mengingatkan kembali, mungkin akan lebih baik dalam wujud diskusi. Saya akan mendapat banyak masukan," tuturnya dalam sambutan pada Sabtu (29/5/2021) di Joglo Suhartono, Kasihan, Bantul.

Hemas menilai, belakangan ini semangat kebangsaan dari rakyat Indonesia kembali menurun. Berbagai situasi genting yang muncul akibat pandemi justru menjadi ujian rasa kemanusiaan masyarakat antar sesama untuk saling guyub gotong royong. "Di sinilah rasa kebangsaan kita diuji. Semangat kemanusiaan yang adil dan beradab harus ditunjukkan. Semangat Persatuan Indonesia harus diperlihatkan. Semangat keadilan sosial harus diwujudkan," tegasnya.

"Pancasila menuntut kita untuk selalu peka terhadap hak-hak orang lain di sekitar kita. Jangan sampai kita menyulitkan orang lain karena kita sudah merasa bebas merdeka dan mempunyai kekuatan untuk berdiri sendiri," imbuhnya.

Ada beberapa hal yang menurut Hemas bisa diaplikasikan untuk memacu kembali semangat kebangsaan. Salah satunya melakukan kegiatan syarat nilai kebangsaan dari hal-hal yang kecil. "Biasakan diri kita untuk mendengarkan lagu kebangsaan, ikuti semua lirik lagunya, hayati maknanya. Jangan cuma mendengarkan sambil lalu saja. Ambil sikap sempurna," tuturnya.

Upaya kedua yang dapat dilakukan untuk memacu rasa kebangsaan yakni penerapan nilai-nilai pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Hemas mengimbau masyarakat untuk mengajak anak-anak, saudara, hingga tetangga sekalipun untuk berpartisipasi mencintai bangsa. "Kita harus memberi contoh bagaimana harus menghormati Indonesia Raya, menghormati Merah Putih, menghormati Garuda Pancasila dan simbol-simbol negara yang lain," tambahnya.

BACA JUGA: Dinkes Jogja Bantah Soal Proyeksi Lonjakan Kasus Covid-19

"Ketiga, jauhkan diri kita dari organisasi terlarang dan kelompok-kelompok yang menentang Pancasila. Banyak orang yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan kelompok atau diri sendiri. Mereka membawa nama Tuhan untuk keuntungan pribadi. Hal inilah yang harus kita hindari, apalagi organisasi yang sering melakukan kekerasan, intoleransi dan mendukung terorisme," tukasnya.

Aktivis senior, Widihasto Wasana Putra yang turut hadir sebagai narasumber sosialisasi menyampaikan DIY memiliki keunikan di mana diaspora tumbuh. Dengan adanya keberagaman itu, DIY terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia. Karena menurut Hasto warga dari Sabang sampai Merauke yang tinggal di DIY justru makin memperbesar dan memperkaya Jogja. "Jadi tidak ada ceritanya kita anti terhadap pendatang, itu tidak boleh," ujarnya.

"Kita harus menjadi masyarakat yang terbuka dan saling mengisi. Memperkuat NKRI ini dengan landasan Pancasila," tegasnya.

Dilanjutkan Hasto, penguatan nilai kebangsaan juga dapat diwujudkan dengan Gerakan Indonesia Bergema yang diterapkan di DIY. Dikatakan Hasto, gerakan itu harus direspon seluruh masyarakat hingga lini yang paling kecil. "Ini harus kita respon, sampai tingkat RT, arisan warga atau apa pun harus diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya," tambahnya.

"Karena ini [menyanyikan lagu Indonesia Raya] memperkokoh dan memperteguh identitas kebangsaan kita. Memang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ketika lagu dinyanyikan harus berdiri tegak dan bersikap hormat. Ini wajib untuk kita menghormati lagu kebangsaan kita," tandasnya.