Minat Murid Luar DIY Sekolah ke Jogja Berkurang

Ilustrasi. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho
06 Juni 2021 18:07 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sejumlah SMA swasta di Jogja menyebut animo murid luar DIY untuk menimba ilmu di Jogja berkurang di masa pandemi ini. Meski jumlahnya tidak signifikan, sekolah mengaku hal ini disebabkan beragam faktor. Pandemi Covid-19 disinyalir merupakan penyebab utama kurangnya minat murid luar DIY untuk sekolah ke Jogja.

Humas SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Jogja Tri Hari Nurdi mengatakan pelaksanaan PPDB di sekolah itu berlangsung dalam tiga gelombang dan dimulai sejak Desember 2020 lalu. Tiap gelombang berjalan selama dua bulan dan gelombang terakhir PPDB dibuka hingga 12 Juni ini. Pada tahun ini, seluruh pelaksanaan PPDB dilaksanakan secara daring baik itu pendaftaran, tes ujian, maupun pendaftaran ulang.

BACA JUGA: Ini Daftar 10 SMA Terbaik di Indonesia, Salah Satunya Ada di Jogja

"Kalau dari Muhi sendiri ini kan masih proses berjalan. Dampaknya ada tapi tidak signifikan, animo murid luar daerah memang tidak sebanyak tahun sebelumnya. Tapi kalau untuk memenuhi kuota sepertinya masih bisa," katanya, Minggu (6/6/2021).

Tri menjelaskan pada tahun ini pihaknya membuka kuota PPDB sebanyak 380 kursi. Kuota itu berdasarkan ruang kelas yang dimiliki. Sampai saat ini sebanyak 320 murid telah mendaftar dan melakukan registrasi ulang. 

"Memang ada penurunan minat dari murid luar daerah, itu sekitar 10 persen. Karena biasanya pada tahun sebelumnya kalau sudah masuk Juni itu kuota sudah terpenuhi, ini masih kurang," ungkapnya.

Secara umum, setiap PPDB dan tahun ajaran baru jumlah murid luar DIY dan asal DIY di SMA Muhi selalu berimbang. Sekitar 40% dari luar DIY dan sisanya murid asal DIY. 

"Pada tahun lalu saat awal pandemi bahkan tidak ada perbedaan. Jadi perbedaannya itu baru terasa tahun ini. Tapi kuota masih mencukupi. Kami juga tidak bisa prediksi faktor berkurangnya karena apa. Mungkin juga karena ada pembatasan mobilitas atau aturan lain," ujar dia.

Nico Suryadi, Humas SMA BOPKRI 1 Jogja, juga mengakui kurangnya minat murid luar daerah yang mendaftar ke sekolah setempat. Hal ini mungkin karena orang tua murid masing enggan dan berat hati melepas anaknya yang baru lulus SMP untuk merantau ke Jogja di tengah suasana pandemi. Namun, Nico menyebut kurangnya minat murid luar daerah itu tidak terlalu signifikan dan diklaim masih bisa memenuhi kuota.

"Secara persentase ya lumayan berkurang tapi tidak terlalu signifikan. Jumlahnya belum bisa dilihat karena ini masih proses PPDB," ujarnya.

Pada tahun ini, SMA BOPKRI 1 Jogja membuka sekitar 230 kursi bagi murid baru. Pendaftaran telah dibuka sejak Oktober lalu dan akan dibuka hingga Juni ini. "Kami harapkan bulan ini bisa selesai karena di pekan awal Juli kan tahun ajaran baru sudah dimulai," ucapnya.