Investor Wisata Kakap Akan Kembangkan Lahan 1,7 Hektare di Imogiri, Warga Resah

Ilustrasi. - Freepik
06 Juni 2021 19:27 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja. BANTUL - Rencana salah satu investor besar yang akan membuat destinasi wisata baru di Kalurahan Selopamioro, Imogiri, Bantul membuat resah para pelaku wisata dan warga setempat.

Tidak hanya Selopamioro, keresahan juga melanda Kalurahan Sriharjo, Imogiri, karena objek wisata baru yang akan dibuat oleh investor kakap itu adalah pemandangan yang ada di kawasan Sriharjo.

Lurah Sriharjo Titik Iswiyatun Khasanah mengakui keresahan warga dan pelaku wisata di wilayahnya terkait dengan rencana pembangunan destinasi baru tersebut. Meski dibangun di Selopamioro, yang dijual adalah panorama alam di wilayah Sriharjo. Padahal, panorama alam tersebut merupakan rintisan dari pelaku wisata di Sriharjo.

"Kalau dibilang resah, memang resah. View yang dijual itu kan masuk Sriharjo dan merupakan rintisan pelaku wisata di tempat kami. Tapi mau bagaimana lagi, kami juga bingung menanggapinya. Karena kami tidak pernah diajak komunikasi juga," kata Titik, Minggu (6/6/2021).

Menurut Titik, rumor akan berdirinya destinasi baru yang dilakukan oleh investor kakap ini sejatinya sudah lama berkembang di masyarakatnya. Namun, belakangan ternyata kabar itu semakin santer berkembang menyusul peninjauan lapangan yang dilakukan oleh investor tersebut ke lokasi pembangunan di Selopamioro.

"Terus terang saya kaget. Tidak ada komunikasi juga sebelumnya," jelas Titik.

Meski demikian, Titik mengaku saat ini memilih fokus untuk mengajak pelaku wisata dan warga sekitar untuk terus menggali dan mengembangkan keunikan dari potensi wisata di wilayahnya.

"Kami fokus saja ke pengembangan potensi dan keunikan yang kami miliki. Kami tidak ingin terus resah. Karena dengan pengembangan dan keunikan yang kami miliki, maka kami akan tetap bertahan dan bahkan nantinya tidak terlalu terdampak dengan rencana pembangunan destinasi baru tersebut," kata dia.

Panewu Imogiri Sri Kayatun membenarkan terkait rencana pembangunan destinasi wisata baru di lahan seluas 17.800 meter persegi atau 1,78 hektare di Selopamioro.

Sri mengaku sampai saat ini belum ada koordinasi baik lisan maupun tertulis dari investor tersebut. Alhasil, sampai saat ini dirinya belum mengetahui secara detil bagaimana konsep pembangunan dan pengembangan dari destinasi wisata yang akan dibangun oleh investor tersebut.

"Yang jelas kami baru diundang koordinasi baru sekali, yakni Rabu lalu di Dispertaru, koordinasi tentang kesesuaian aspek tata ruang. Sejauh ini belum ada koordinasi dari investor secara lisan maupun tertulis," katanya.

Sri juga telah mengetahui ada keresahan dari warga baik Selopamioro dan Sriharjo terkait rencana pendirian destinasi baru tersebut. Sebab selama ini warga dan pelaku wisata di dua desa tersebut ingin berkembang dengan basis kemampuan masyarakat.

"Dalam waktu dekat akan kami undang Lurah Selopamioro untuk klarifikasi. Begitu juga dengan lurah Sriharjo, untuk mengakomodasi kepentingan warga Sriharjo yang pasti terdampak," ucapnya.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Bantul Supriyanto mengatakan sampai saat ini jawatannya belum memberikan izin rencana pembangunan destinasi wisata baru kepada investor tersebut. Dinas sejauh ini masih menunggu investor melengkapi izin dari Balai Besar Wilayah Serayu Opak, karena lokasi pembangunan berada di pinggir sungai. Selain itu, investor juga belum bertemu dengan warga dan pelaku wisata di Selopamioro dan Sriharjo yang akan terdampak pembangunan destinasi baru di lokasi tersebut.

"Kami minta ada pelibatan dan pembicaraan terhadap mereka yang terdampak," kata Supriyanto.

Supriyanto mengungkapkan rencana pembangunan destinasi baru di Selopamioro tersebut sudah sesuai. Sebab, kawasan Imogiri akan dikembangkan menjadi wisata alam.

"Kami harapkan jika nanti ini jadi, bisa menjadi percontohan, karena pengelolaan pasti akan lebih baik dibandingkan dikelola oleh BUMDes. Sebab, ini baru pertama kali ada objek wisata yang dikelola secara perorangan atau swasta di Bantul," ucap Supriyanto.