Penambang Emas Kulonprogo Diminta Menghindari Merkuri

Ilustrasi tambang emas - JIBI
15 Juni 2021 08:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, TEMON--Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai lembaga yang bertugas melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi, telah berhasil membangun pilot project pengolahan emas bebas merkuri di Kulonprogo.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rudi Nugroho mengatakan teknologi pilot project pengolahan emas bebas merkuri di Kulonprogo diharapkan bisa ditiru oleh para penambang emas skala kecil di Indonesia.

"Agar mereka dapat beralih dari teknologi amalgamasi menggunakan merkuri, menjadi teknologi pengolahan yang bebas merkuri dengan metode sianidasi," kata Rudi pada Senin (14/6/2021).

Lebih lanjut, upaya terus menerus yang dilakukan BPPT untuk proses penghapusan penggunaan merkuri pada pertambangan emas skala kecil sudah dilakukan pada tanggal 14 sampai dengan 18 Juni tahun 2021.

BPPT menyelenggarakan pelatihan teknologi kepada 20 orang penambang emas yang berasal dari lima wilayah pertambangan emas skala kecil Indonesia yakni Kulonprogo, Lombok Barat, Gorontalo Utara, Halmahera Selatan dan Minahasa Utara.

"Pelatihan kali ini merupakan pelatihan batch pertama di tahun 2021, berlangsung selama enam hari, di mana hari pertama pembukaan dan penyampaian teori-teori praktis pengolahan emas bebas merkuri, selanjutnya hari kedua sampai hari keenam, praktek langsung di pilot plant BPPT yang ada di Kulonprogo," kata Rudi.

Pelatihan yang dilaksanakan oleh BPPT sendiri karena dukungan proyek GOLD-ISMIA yang merupakan program Kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), United Nations Development Programme (UNDP) dan Global Environment Facility (GEF) selaku pemberi dana.

Melalui pelatihan ini diharapkan para penambang dapat melaksanakan praktik pengolahan emas yang baik, tidak mencemari lingkungan dan tidak membahayakan kesehatan dengan meninggalkan penggunaan merkuri.

"Harapannya juga, para penambang yang sudah dilatih ini dapat menyebarluaskan ilmunya kepada para penambang lain yang ada di daerahnya masing masing. Sehingga target penghapusan merkuri di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Perpres 21 tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri, akan dapat tercapai dengan baik," ujarnya.

Sebagai informasi, merkuri merupakan bahan kimia yang berbahaya terhadap kesehatan maupun lingkungan. Bahan kimia ini tidak bisa terurai di alam dan bila masuk ke mahluk hidup, merkuri ini akan mengalami akumulasi, dalam jangka panjang akan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia seperti kerusakan sistem saraf, otak dan bahkan mengakibatkan cacat.

Oleh karena itu negara negara di dunia termasuk Indonesia, telah bersepakat untuk menghapuskan penggunaan merkuri dalam berbagai aktifitasnya. Penggunaan merkuri dalam proses pengolahan emas yang dikenal dengan metode amalgamasi sering kali dijumpai dalam kegiatan pertambangan emas skala kecil (PESK).

"Metode ini disukai oleh banyak penambang PESK karena mudah dan cepat. Limbah dari pengolahan emas yang mengandung merkuri dibuang langsung oleh penambang ke lingkungan. Sekitar 57,5 persen merkuri dilepaskan oleh kegiatan emas PESK ke udara, air, tanah, tanaman dan berujung kepada residu merkuri pada tubuh manusia. Dimana pelepasan merkuri ini merupakan ancaman global bagi kesehatan manusia dan lingkungan," kata Rudi.

Dampak Merkuri

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulonprogo, Sumarsana mengatakan penambangan emas di Kulonprogo yang berada di wilayah Kalurahan Kalirejo, Kapanewon Kokap, Kulonprogo diharapkan ke depannya dijalankan sesuai dengan Peraturan Bupati (PERBUP) nomor 18 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Daerah Penghapusan Merkuri.

"Rencana aksi pengurangan dan penghapusan merkuri di kabupaten Kulonprogo sesuai dengan tindak lanjut dari perpres nasional yang terkait dengan pengurangan merkuri. Pada saatnya nanti, diharapkan tidak ada pemrosesan emas dengan merkuri," kata Sumarsana.

Teknologi yang diluncurkan oleh BPPT juga diharapkan mampu digunakan oleh penambang untuk melakukan pemrosesan emas tanpa merkuri. Pasalnya, jika penggunaan merkuri terus dilakukan dampaknya akan dirasakan oleh generasi selanjutnya.

"Kami berharap pemrosesan emas tanpa merkuri tersebut dapat menunjang perekonomian masyarakat. Kalau penambang sejahtera tapi lingkungan tidak diperhatikan ya generasi selanjutnya bisa terdampak. Ini sesuatu yang berat untuk kedepannya," kata Sumarsana.