Kelok 23 Gunungkidul Dilengkapi Rest Area dan 3 Gardu Pandang
Kelok 23 di perbatasan Gunungkidul-Bantul segera dibuka. Selain gardu pandang, kawasan ini akan dilengkapi rest area dan gerai UMKM.
Foto ilustrasi pohon tumbang di tengah jalan. /ANTARA FOTO-Budi Candra Setya
Harianjogja.com, WONOSARI – BPBD Gunungkidul mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai adanya potensi longsor dan pohon tumbang dalam rentang waktu beberapa hari ke depan. Pasalnya, saat ini terjadi anomali cuaca karena meski telah memasuki musim kemarau namun potensi hujan masih terjadi sehingga bisa memicu teradinya bencana alam.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, pihaknya sudah koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika berkaitan dengan fenomena hujan yang terjadi akhir-akhir ini. Menurut dia, telah terjadi anomaly cuaca yang mengakibatkan hujan pada saat awal musim kemarau.
BACA JUGA : Langit Jogja Cerah Padahal Musim Hujan, Ini Penjelasan
“Ini masih akan terjadi beberapa hari ke depan,” katanya, Minggu (20/6/2021).
Edy menjelaskan, potensi hujan deras dapat memicu terjadinya sejumlah bencana seperti pohon tumbang dan tanah longsor. Untuk pohon tumbang, kerawanan hampir terjadi di seluruh wilayah di Gunungkidul. sedangkan untuk longsor, potensinya bisa terjadi di sejumlah kapanewon di sisi utara seperti Kapanewon Patuk, Nglipar, Gedangsari, Ngawen, Semin hingga ponjong.
“Memang belum ada bencana yang terjadi. Namun, harus berhati-hati dan waspada saat terjadi hujan dalam intesitas yang lama,” katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, hujan yang turun akhir-akhir ini dikarenakan terjadinya kemarau basah. Fenomena ini hanya bersifat sementara sehingga petani harus mewaspadainya. Oleh karenanya, di masa tanam ketiga petani diimbau tidak menanam padi, meski ada hujan yang turun akhir-akhir ini.
BACA JUGA : Seperti Ini Dampak Anomali Cuaca pada Tanaman Pertanian
“Kalau ada sumber air yang cukup, bisa menanam padi. Kalau tidak, lebih baik menanam yang lain seperti kedelai atau kacang hijau,” katanya.
Raharjo mengungkapkan, penanaman padi dengan hanya mengandalkan air hujan tidak bisa diharapkan dan malah bisa merugikan petani. “Jangan karena ada hujan terus tanam padi lagi. Ini sangat berisiko karena sekarang sudah masuk musim kemarau,” katanya.
Ia menambahkan, bagi petani yang sudah menanam komoditas selain padi, seperti palawija juga diminta melakukan antisipasi adanya fenomena kemarau basah ini. Salah satunya dengan membuat saluran drainanse agar tanaman palawija aman dari genangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 di perbatasan Gunungkidul-Bantul segera dibuka. Selain gardu pandang, kawasan ini akan dilengkapi rest area dan gerai UMKM.
Teknologi MotoGP seperti IMU, kontrol traksi, wheelie control, quick shifter, dan ABS kini hadir pada motor jalan raya.
Normalisasi sejumlah sungai di Kulonprogo dilakukan untuk mengantisipasi banjir saat musim hujan. DPRD mengecek pengerukan dan penguatan tepi sungai.
Cara merawat mobil listrik tidak hanya soal baterai. Simak panduan pengisian daya, fast charging, ban, coolant, software, dan penyimpanan.
Timnas Basket Indonesia kalah 53-98 dari Jepang di laga perdana Asian Games 2026. Simak jalannya pertandingan dan jadwal selanjutnya melawan Korea.
Kenali 6 aplikasi pesan hotel seperti Traveloka, Agoda, Booking.com, tiket.com, Expedia, dan Airbnb sebelum memilih penginapan.