Bed untuk Pasien Covid-19 di Sleman Menipis, Dinkes Minta Segera Batasi Kegiatan Masyarakat

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo-Harian Jogja - Abdul Hamid Razak\\r\\n
22 Juni 2021 01:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Lonjakan kasus baru warga Sleman yang terpapar Covid-19 sejak 1 Juni terus terjadi hingga saat ini. Padahal tingkat keterisian bed untuk pasien Covid-19 semakin menipis.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan lonjakan kasus saat ini terjadi akibat aktivitas sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang dilakukan warga pada kurun waktu dua minggu sebelumnya. "Lonjakan kasus memang terasa sejak awal Juni. Ini akibat meningkatnya aktivitas sosial keagamaan yang dilakukan masyarakat," katanya, Senin (21/6/2021).

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Sleman, kasus warga yang terpapar Covid-19 sebelum Juni rata-rata 50-60 kasus. Namun memasuki Juni, angkanya melonjak mulai 106 kasus pada 1 Juni, 150 kasus pada 6 Juni, 122 kasus pada 8 Juni, 134 kasus pada 9 Juni dan 178 kasus pada 10 Juni.

BACA JUGA: Jogja Batal Lockdown, Sri Sultan HB X: Saya Enggak Kuat Ngragati

Peningkatan tidak terkendali mulai 11 Juni di mana kasus naik menjadi 190 kasus dalam waktu sehari. Hari berikutnya 12 Juni tercatat 271 kasus. Sempat menurun sedikit pada 13 Juni (190 kasus), 14 Juni (146 kasus) dan 15 Juni (128 kasus). Tren kenaikan kembali terjadi pada 16 Juni (257 kasus), 17 Juni (235 kasus), 18 Juni (215 kasus), 19 Juni (237 kasus).

Lonjakan kasus baru harian sepertinya tidak terhindari. Pada 20 Juni, Satgas mencatat terjadi 316 kasus dan 21 Juni angkanya bertambah 219 kasus. Kondisi ini, lanjut Joko, berpengaruh pada BOR atau tingkat keterisian bed pasien.

"Sampai kemarin sore, untuk bed kritikal dari 56 tempat tidur yang tersisa masih 1 kamar. Jadi sangat kritis sekali. Untuk non kritikal keterisiannya sudah mencapai 75 persen (dari 436 bed) tersisa 25 persen. Banyak juga pasien yang antre di UGD RS Sardjito," kata Joko.

Dinkes, kata Joko, sudah melakukan pembicaraan rencana penambahan bed 30% dengan para pengelola rumah sakit jika lonjakan kasus terus terjadi. Namun untuk menambah jumlah bed, apalagi yang kritikal tidak mudah. "Saya berpengalaman di dunia kesehatan. Sangat tidak mudah menambah bed. Kalau bed ada, SDMnya bagaimana? Untuk bed kritikal membutuhkan satu dokter spesialis dan 12 perawat yang ahli menangani," katanya.