PPKM Darurat, Pemilik Usaha Kuliner di Gunungkidul Pilih Tutup

Foto ilustrasi. - ANTARA FOTO/Rahmad
06 Juli 2021 13:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pemberlakukan PPKM Darurat ditanggapi beragam oleh pelaku usaha kuliner di Gunungkidul. Pasalnya, pemilik ada yang memilih tutup, namun ada juga yang tetap buka dengan menerapkan kebijakan tidak boleh makan di tempat.

Salah satu usaha kuliner yang ditutup terlihat di Kedai Lobster Pak Sis di Kalurahan Purwodadi, Tepus. Pemilik kedai, Wasiman mengaku memilih tutup seiring ditutupkan area wisata Pantai Timang dikarenakan tingginya kasus penularan corona. “Berhubung tutup, maka seluruh pegawai diliburkan,” kata Wasiman saat dihubungi, Selasa (6/7/2021).

Ia berharap penutupan hanya berlangsung sementara sesuai dengan pemberlakukan PPKM Darurat mulai 3-20 Juli mendatang. “Jangan sampai sama seperti pada saat awal pandemic di tahun lalu yang membuat usaha wisata tutup berbulan-bulan,” ungkapnya.

Baca juga: Pukul 8 Malam Sampai 5 Pagi, Jalan Jendral Sudirman Bantul Harus Bersih dari Aktivitas

Tutupnya usaha kuliner juga terlihat di Resto Kalahari di Kalurahan Kepek, Wonosari. Pemilik Resto, Danang Ardiyanta mengaku tutup sebelum diberlakukan PPKM Darurat karena penutupan dilakukan mulai 30 Juni lalu. “Ini atas inisiatif kami sendiri. Adapun penutupan sampai batas waktu yang belum ditentukan,” katanya.

Menurut dia, penutupan dilakukan sebagai partisipasi dalam upaya mengendalikan laju penularan virus corona yang masih tinggi. Danang pun berharap laju penularan bisa ditekan sehingga kehidupan dapat kembali normal.

“Untuk yang sudah pesan, kami mohon maaf. Tapi, kami masih tetap bisa melayani makanan dan minuman secara online,” katanya.

Baca juga: Tes Covid-19 Saat Flu Maka Hasilnya Akan Positif? Ini Kata Dokter

Meski ada beberapa pemilik usaha kuliner yang memilih tutup, namun ada juga pemilik yang tetap buka. Salah satunya terlihat di Warung Makan Cak Mun di Besole, Kota Wonosari.

Anak pemilik Warung Cak Mun, Rosita mengatakan, alasan tetap buka karena tidak ingin delapan karyawan yang berkerja dirumahkan. Meski tetap buka, ia mengaku tetap mematuhi aturan pemerintah. Salah satunya tidak melayani makan ditempat dan pembeli harus membawa pulang.

“Di depan warung sudah kami tempel pengumuman tidak melayani makan di tempat,” katanya.

Meski sudah ada pengumuman tersebut, Rosita mengakui tetap saja ada calon pembeli yang ingin makan ditempat. Hanya saja, ia mengaku permintaan tersebut tidak dilayani. “Memang berpengaruh terhadap penghasilan, tapi kami tetap berupaya mematuhi aturan karena sebagai upaya mengurangi risiko penuaran virus corona,” katanya.