Sudah 50% Bangsal di RSUP Sardjito Dikonversi untuk Covid-19

Foto ilustrasi. - Antarafoto
17 Juli 2021 08:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito Eniarti mengatakan saat ini 50% bangsal di rumah sakit tersebut dikonversi menjadi bangsal pelayanan pasien Covid-19.

Dari 761 bed yang ada, saat ini sebanyak 533 bed digunakan melayani pasien Covid-19. "Dari 533 bed itu, sebanyak 148 bed atau 27,8% merupakan layanan ICU untuk pasien gejala berat dan kritikal," katanya, Jumat (16/7/2021).

Kondisi BOR saat ini, kata Eni, sangat tinggi. Sudah mencapai 80-85% hingga 100% untuk perawatan intensif. Agar penanganan pasien dengan gejala berat bisa dilakukan di rumah sakit, maka Eni meminta seluruh rumah sakit untuk ikut mengkonversi bed yang dimiliki hingga 50%.

Baca juga: Untuk Atasi Varian Delta, Peneliti Sarankan Suntikan Ketiga Vaksin Sinovac

"Ini perlu dilakukan agar kebutuhan kamar tidur pasien bisa tertangani. Apalagi karena menjadi rumah sakit rujukan, banyak pasien yang datang sudah dalam kondisi saturasi rendah, dalam kondisi kritis atau bergejala berat," usulnya.

Masalah Oksigen

Terkait soal obat-obatan, Eni mengaku sampai saat ini masih mencukupi. Sebab pengadaan obat-obatan direncanakan sejak tahun lalu. Selain itu, setiap hari rumah sakit melaporkan kondisi dan ketersediaan obat melalui aplikasi. "Untuk masalah oksigen memang masalah nasional. Pemakaian oksigen tinggi karena banyak pasien yang ditangani dengan alat-alat ventilator," katanya.

Baca juga: PPKM Darurat, Mobilitas Warga Bantul Baru Turun Segini

Pihaknya terus memantau ketersediaan oksigen setiap hari. Meskipun saat ini oksigen untuk industri dialihkan 100% untuk penanganan medis dan pelayanan kefarmasian.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan rencana pengoperasian RS Darurat Covid-19 Respati pada Sabtu (17/7/2021) ini kembali ditunda. Persoalan utama yang dihadapi masalah ketersediaan oksigen yang sampai saat ini belum terpecahkan.

"Ya operasional diundur supaya lebih mateng dan mantap, terutama terkait oksigen. Masih terus berproses, belum ada yang bisa menjamin ketersediaan oksigen setidaknya sampai seminggu ke depan," katanya.