Kejujuran Saat Tracing Bantu Memutus Penyebaran Covid-19 di Jogja

Ilustrasi. - Freepik
28 Juli 2021 19:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Kejujuran masyarakat dalam memberikan informasi, khususnya dalam proses tracing pasien positif Covid-19, turut membantu upaya memutus penyebaran virus Covid-19. Menurut Kepala Puskesmas Gondokusuman 1, Francisca Bambang, informasi terkait kontak erat pasien Covid-19 bisa mengurangi kemungkinan virus menyebar. Apabila memberi tahu kontak erat yang memiliki kemungkinan positif juga, maka deteksi dini bisa dilakukan.

“[Warga] yang positif harus jujur, memberikan semua [informasi] kepada petugas, tujuan kami hanya mencegah atau membatasi gerak dari virus ini,” kata Francisca saat dihubungi secara daring, Rabu (28/7/2021).

Setelah mendapat laporan positif baik dari pasien baik yang datang langsung ke puskesmas, laporan dari kelurahan, atau dari Dinas Kesehatan Kota Jogja, maka petugas puskesmas akan men-tracing kontak erat. Idealnya pemeriksaan kontak erat sebanyak 15 orang. Namun di lapangan bisa menyesuaikan kondisi, sesuai dengan jumlah kontak erat yang dilaporkan pasien positif.

Tahap awal, petugas puskesmas akan memastikan kondisi dan domisili kontak erat. Apabila berada dalam wilayahnya maka akan langsung ditindaklanjuti. Apabila bukan masuk kewenangan, maka akan diteruskan sesuai puskesmas di domisili pasien.

“Tanya-tanya riwayatnya, gejalanya, kronologis dan lainnya selama dua minggu terakhir, yang paling penting kontak erat, terutama yang serumah,” kata Francisca. “Kemudian kami daftarkan untuk pemeriksaan antigen di puskesmas.”

Apabila hasil pemeriksaan kontak erat negatif, maka dia perlu menunggu lima hari untuk kemudian tes antigen lagi. Apabila hasilnya negatif lagi maka sudah bisa berkegiatan. Sementara untuk hasil yang positif maka dia harus melakukan isolasi. Proses tracing bisa secara daring atau dengan kunjungan, menyesuaikan kondisi orang yang kontak erat.

Francisca mengatakan apabila orang-orang yang berada di wilayahnya mayoritas jujur saat tracing. Adapun yang tidak jujur hanya satu dua orang. “Biasanya yang tidak jujur terkait kontak erat, dia tidak jujur di rumah ada berapa orang, yang serumah kan sangat potensi penularan tinggi,” katanya. “Akhir-akhir ini kasusnya banyak yang klaster keluarga.”

Sama halnya dengan di Puskesmas Gondokusuman, petugas di Puskesmas Danurejan 1 juga masih mendapatkan warga yang kurang kooperatif saat tracing kontak erat. Ada yang saat ditelfon kemudian marah-marah. Namun kasus seperti ini semakin menurun.

Menurut Kepala Puskesmas Danurejan 1, Dewi Widowati, kendala saat tracing terjadi saat tidak semua orang berkata jujur, ada yang terkesan menyembunyikan informasi kontak erat. “Tidak semua tracing mudah, tidak semua kooperatif, tidak semua jujur, ada yang kadang marah-marah atau kadang menyembunyikan,” kata Dewi. “Tapi bisa jadi karena PPKM Darurat, semua orang di rumah, orang-orang tidak kemana-mana, bisa jadi emang karena itu. Kebanyakan bilang enggak kemana-mena [saat di-tracing].”

BACA JUGA: Kapasitas Selter di Sleman Tak Sebanding dengan Jumlah Pasien

Apabila mendapatkan kasus warga yang marah atau menyembunyikan informasi saat tracing, petugas puskesmas mengutamakan pendekatan personal. Tracing juga mendapat bantuan dari perangkat kelurahan, Kepolisian setempat, dan juga Tentara Nasional Indoensia.

Dewi berharap warga untuk terbuka dan kooperatif terhadap petugas tracing. Apabila kemudian memerlukan tindakan swab, isolasi atau sebagainya, maka ikuti sesuai prosedur. Pandemi merupakan pendemi yang perlu dihadapi dengan kerja sama dari semua pihak, termasuk masyarakat.

“Harapannya akan berneti penularannya. Bersama-sama saling mendukung, berupa dukungan moril atau lainnya yang diperlukan. Siapa saja bisa kena, jika saja yang kena kita atau keluarga kita, apa sih yang kita harapkan dari orang lain, yaitu dukungan. Jangan sampai malah mengucilkan atau menyalahkan,” kata Dewi. “Dukungan sekecil apapun akan sangat besar berpengaruh baik.”