Sering Banjir, Talut di Payaman Utara Dibangun Lewat Padat Karya

Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo meninjau lokasi padat karya di Payaman Utara, Girirejo, Imogiri.-Istimewa - Kelompok Padat Karya Payaman Utara
16 Agustus 2021 06:27 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Talut tanpa penyangga yang kerap longsor dan kebanjiran di kawasan Payaman Utara, Girirejo, Imogiri akhirnya dibangun dengan bantuan program padat karya anggaran BKK DIY. Pembangunan talut disambut baik oleh warga Payaman Utara.
Salah satu warga yang tergabung dalam kelompok padat karya Payaman Utara, Hadi Daryanto menyampaikan sebelum mendapat bantuan program padat karya anggaran BKK DIY talut di kawasan tersebut hanya berupa tanah. Dengan kata lain sama sekali belum ada bangunan talut sungai di lokasi tersebut. "Belum di talut, masih tanah," ujarnya pada Minggu (15/8).
Belum ada bangunan talut membuat banjir kerap terjadi. Air yang meluap pun masuk ke perumahan warga. "Jadi kan sungainya melewati pertengahan perkampungan, saluran air hujan itu. Jadi kalau banjir kan nanti airnya masuk ke pekarangan warga. Setiap musim hujan sering. Ada bisa sampai setengah meter di perkampungan," katanya.
"Sering longsor tanahnya karena tidak ada batu kosongan. Sampingnya belum jalan, baru tanah pekarangan sama persawahan. Dekatnya perumhan ada rumahnya samping kanan kirinya," ujarnya.
Secara teknis melalui program padat karya anggaran BKK DIY, talut akan dibangun di sisi kanan maupun kiri dengan panjang kurang lebih 200 meter. Tanah akan digali lalu dipasang batu putih lantas dibangket bahan campuran semen.
"200 meter itu belum bisa mencakup semua. Yang masuk di padukuhan kami sekitar 500 meteran sungainya, tapi hulunya di pegunungan. Tapi yang sering banjir di kampung kami di Payaman," ujarnya.
Adanya program padat karya anggaran BKK DIY yang menyasar pembangunan talut warga Padukuhan Payaman ini sangat dinanti-nanti warga. "Tanggapan warga ya merasa senang, antusias," ujarnya.
"Matur nuwun niki dibantu oleh pemerintah ini. Memang harapan warga seperti itu. Jadi kemarin kan karena ada beberapa kali banjir terus air banyak yang masuk ke perkampungan terus kemudian mengajukan usulan, alhamdulillah bisa disetujui tahun ini," ungkapnya.
Tak hanya manfaat fisik pembangunan yang diperoleh warga Payaman, tetapi pemulihan ekonomi sejumlah warga yang diberdayakan pun ikut memperoleh manfaat dengan adanya program ini. Khususnya bagi para warga terdampak pandemi yang mengalami PHK atau kehilangan pekerjaan. "Memang yang kerja prioritas dari kami selaku panitia kita ambilkan dari orang yang menganggur yang di PHK. Kemarin ada yang dulu sopir, sekarang ikut laden tukang. Yang banyak dari kami tukang sama laden yang awalnya ikut di proyek, tetapi karena PPKM kan tidak boleh ke perumahan. Terus kemarin karena dia sudah di rumah mengganggur terus kita minta ikut di program ini," tandasnya.
Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo yang menyambangi monitor pelaksanaan program padat karya ini mengapresiasi adanya program padat karya. Pembangunan infrastruktur secara swakelola dinilai Joko akan menciptakan hasil pengerjaan yang baik.
"Saya mengharapkan program padat karya yang dilaksanakan secara swakelola ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Saya yakin kualitas bangunan ini akan didapatkan dengan baik karena dikerjakan secara swakelola," ujarnya.
Joko berharap program padat karya bisa bermanfaat untuk kepentingan masyarakat. Termasuk membantu masyarakat di sektor pemulihan perekonomian.
Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul, Aris Suharyanta, manyampaikan program padat karya memiliki berbagai manfaat dan tujuan. Salah satu tujuan program padat karya yakni menekan angka pengangguran, setengah penganggur dan masyarakat miskin. Di sisi lain adanya program ini akan turut meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pusat pelayanan sosial dasar mulai dari kesehatan, pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian.
Secara rinci, Aris menjelaskan dari 60 titik pelaksanaan padat karya di 2021, 3.120 tenaga kerja diserap. Adapun pembangunan infrastruktur pada padat karya tahun ini meliputi corblok di 45 titik, pembuatan talut di 11 titik, corblok bersama talut dua titik, pembauatan drainase satu titik dan pembangunan drainase tertutup satu titik.
Sekretaris Disnakertrans Bantul Istirul Widilastuti menjelaskan selama pandemi pelaksanaan program karya dilaksanakan sesuai prokes. Berjalannya padat karya di masa pandemi diharapkan mampu menigkatkan ekonomi warga melalui skema upah bagi warga yang diberdayakan. "Upah tenaga kerja Rp70.000 per hari, tukang Rp80.000 per hari, dan ketua kelompok Rp90.000 per hari," ujarnya.
Selain bersumber dari anggaran BKK DIY, ke depannya padat karya melalui anggaran APBD juga bakal digelar dengan cakupan titik yang tak kalah banyak.