Peringati Proklamasi, Sultan HB X: Mangan Ora Mangan Kumpul Kini Sudah Tak Tepat

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. - Harian Jogja/Lugas Subarkah
17 Agustus 2021 13:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X mengikuti Upacara Detik-detik Proklamasi di Istana Kepresidenan Gedung Agung Jogja, Selasa (17/8/2021). Dalam kesempatan itu HB X mengingatkan masyarakat untuk mematuhi perpanjangan PPKM serta kesamaan kondisi kaos antara peringatan HUT RI ke-76 dengan saat proklamasi kemerdekaan terdahulu.

Selain mengikuti Upacara Detik-detik Proklamasi, Sultan HB X juga menjadi inspektur Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-76 pada pukul 07.00 WIB.

Sultan HB X mengatakan bedanya situasi kacau saat Proklamasi 1945 karena di bawah kekuasaan Jepang dan kembalinya kolonialis Belanda, sedangkan HUT RI ke-76 saat ini kacau akibat Covid-19.

"Meski beda ruang dan waktu, rasanya ada kesamaan situasi, sama-sama di saat kaos, yang serba kacau. Saat Proklamasi 1945, kita masih di bawah kekuasaan Dai Nippon dan  kembalinya kolonialis Belanda. Situasi kekacauan yang sama, kini juga sangat terasakan kehadirannya. Meski beda wujudnya. Kita berada dalam cengkeraman Covid-19 yang telah menyebar menjadi pandemi global," kata Sultan dalam sambutannya.

Namun Sultan menilai setiap kaos jangan dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Tetapi harus dilihat sebagai suatu yang positif untuk membuka peluang kemajuan. Pemahaman kaos negatif karena by design dengan fondasi struktural dan sosio-kultural yang rapuh. Keanekaragaman dipaksakan menjadi keseragaman, hingga heterogenitas ke homogenitas.

"Yang ditumbuhkan berbagai ketakutan berbeda dan ketakutan akan ketidakberaturan. Karena mewarisi sifat ambtenaar Belanda sebagai sekadar administrator, maka aparat birokrasi pun ketakutan melanggar aturan, meski rakyat butuh uluran tangan dan campur tangan pemerintah secara cepat. Maka, harus kreatif berupaya mencari solusi yang akuntabel," katanya.

Sultan berharap bersamaan dengan perpanjangan PPKM terus disertai dengan langkah pengetatan bersama seluruh lapisan masyarakat. Sehingga kasus Covid-19 menunjukkan tren yang terus membaik.

"Saya mengingatkan, pepatah mangan ora mangan waton kumpul yang dulu lekat sebagai ikatan kekerabatan kita, kini tidak tepat lagi untuk dijadikan anutan keluarga. Karena itu, bagi yang terpapar harus berbesar hati dan rela dipindahkan ke selter atau isolasi terpadu secara berjenjang," katanya.

Ia menambahkan jika penularan di tingkat keluarga dan RT bisa dihentikan, harapannya secara bertahap kondisi akan terus membaik, hingga bisa hidup normal kembali dengan cara baru. Sultan mengajak seluruh warga untuk  menumbuhkan rasa optimistis dan saling untuk melawan Covid-19 yang tak bisa diprediksi sampai kapan berakhirnya. 

"Konsekuensinya, kita harus siap hidup harmoni dengannya. Dengan penemuan vaksin, bahkan mungkin nanti obat anti Covid, akan bisa memberi jaminan 

kesehatan dan rasa aman. Kita juga harus percaya, bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan," ujarnya.