Disbud DIY Ajak Generasi Muda Jadi Agen Budaya

Tugu Pal Putih, Sumbu Filosofi Jogja. - Harian Jogja/Istimewa
21 Agustus 2021 00:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan DIY menyiapkan sejumlah konsep untuk mengajak anak muda menyelami budaya demi pelestarian jangka panjang. Generasi milenial diajak menjadi agen budaya. Heritage track disiapkan untuk pemuda yang ingin belajar banyak.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menjelaskan upaya mewariskan pemahaman nilai budaya kepada generasi muda memang menjadi tantangan tersendiri. Disbud DIY melakukan berbagai pendekatan, salah satunya melalui sejumlah program yang harus sejalan dengan tren anak muda.

“Untuk mewariskan pemahaman budaya ke generasi muda memang tidak mudah, saya melihat ini bukan kendala tetapi sebagai tantangan, kita harus yakin bahwa budaya ini bisa terwariskan ke generasi berikutnya. Kami harus bicara di dunia anak muda, untuk meyakinkan mereka harus dengan tren mereka tentu dengan batasan-batasan. Dalam bentuk cara bentuk sajian, konsepnya. Bicara dengan bahasa mereka, berlaku seperti dunia mereka,” katanya katanya dalam diskusi Yogyakarta Menuju Kota Warisan Budaya Dunia yang disiarkan melalui Youtube Harian Jogja.

Dian menegaskan Disbud DIY sangat terbuka dengan anak muda, baik perseorangan maupun komunitas, yang ingin berdiskusi terkait budaya. Banyak tempat yang bisa dijadikan anak muda untuk berekspresi budaya dan dinas siap memfasilitasi. “Silakan datang ke Disbud, tergantung keinginan materinya. Misalnya kalau ingin memahami lebih jauh tentang sumbu filosofi ada di balai pengelolaan, semua tempat ruang ekspresi, tidak terbatas. Kami ingin mengaktifkan dan menguatkan koneksi dengan anak muda, diskusi bisa pilih tempat,” ujarnya.

Disbud DIY bahkan sudah menyiapkan konsep khusus untuk anak muda dengan berkeliling ke kawasan cagar budaya melalui program heritage track. Melalui program ini, anak muda bisa langsung melihat kondisi warisan muda dan mendapatkan informasi yang lebih detail. Harapannya mereka lebih merasa memiliki sekaligus menjaga dan menghormati warisan nilai budaya tersebut. Dian mengajak generasi muda Jogja untuk bergabung sebagai agen budaya.

“Kami siapkan heritage track. Ada satu moda transportasi untuk memahami heritage. Mungkin bisa naik bus lokasi tertentu, atau bisa naik sepeda. Konsep itu sudah kita siapkan. Kami tawarkan generasi muda Jogja mari bergabung sebagai agen budaya,” ucapnya.

Disbud DIY bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY menyiapkan rute tempat heritage yang berkaitan dengan destinasi wisata. Konsep ini sebenarnya menjadi banyak masukan dari berbagai komunitas. Melalui konsep tersebut harapannya generasi mampu menangkap peluang melalui berbagai ide kreatif.

“Banyak diskusi dari semua asosiasi mulai dari tradisi lisan, pelestari cagar budaya, komunitas museum, dari grup sejarah, bahkan sudah mereka mencoba beberapa track. Waktu kami siapkan rute dengan konsep buat berbeda, ini termasuk masukan dari mereka, kami ingin dinas sebagai fasilitator. Nanti capaian bahwa generasi muda bisa menangkap peluang itu untuk menjadi passion mereka dengan ide-ide kreatif,” katanya.

Tim Penyiapan Yogyakarta Warisan Dunia Suyata menilai generasi muda akan menjadi kunci dalam proses penentuan perkembangan budaya ke depannya, baik di level lokal Jogja, nasional maupun internasional. Karena beberapa negara maju sudah banyak mampu mengangkat warisan nilai budaya lokal mereka populer di mata internasional.

Salah satu potensi Jogja yang sedang disiapkan untuk menuju pengakuan internasional adalah Sumbu Filosofi Kota Jogja. Sumbu Dilosofi ini memiliki banyak kelebihan yang tidak ditemukan di negara lain melalui tata ruang mengandung makna nilai budaya. Keberadaan tugu yang dahulu berbentuk golong gilig menggambarkan bentuk kerja sama, sistem menyatu. Tugu juga merupakan wujud dari perubahan zaman yang menghasilkan karya. Adapun Malioboro dari sisi filosofi merupakan tempat paling tinggi godaannya.

“Sumbu Filosofi merupakan kawasan dengan batas tertentu yang masuk dalam urusan cagar budaya. Kawasan ini diapit oleh Sungai Code dan Sungai Winongo, kemudian ada zona inti, zona penyangga. Jika Sumbu Filosofi ini sudah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya dunia maka dampaknya lebih ke internasional, akan menjadi berbagai tujuan, mulai penelitian, wisata," ujarnya.

Oleh karena itu generasi muda harus disiapkan sebagai pewaris ke depannya. Generasi muda perlu menggali proses budaya yang sudah ada kemudian dituangkan ulang melalui ide kreatif ekspresi budaya sehingga menjadi nuansa baru dalam pengembangan budaya. “Anak muda banyak memiliki ide kreatif, sehingga menjadi hal baru dalam pengembangannya,” katanya.