Sekolah Makin Adaptif dengan Pembelajaran Jarak Jauh

SMA N 8 Yogyakarta tampak depan. - Harian Jogja/Sunartono
27 Agustus 2021 09:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pelaksanaan pembelajaran jarah jauh (PJJ) atau daring selama pandemi membuat guru dan sekolah makin adaptif dalam menggunakan teknologi informasi. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara teknis sebagian besar sekolah tidak mendapati kendala yang signifikan terkait pembelajaran daring. Namun butuh komunikasi intens dengan orangtua agar siswa menjadi disiplin.

Kepala SMA Negeri 8 Jogja Sri Suyatmi mengatakan, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh di sekolahnya menggunaan media yang bervariasi. Menggunakan sejumlah platform seperti Google Classrom, akunbelajar.id, Zoom, Google Meet hingga jurnalpembelajaran serta lainnya.

“Kalau kelasnya pakai akunbelajar.id, sedangkan untuk medianya bervariasi seperti membuat video pembelajaran, selain itu ada PPT yang dibuat guru. Tetapi untuk komunikasi awal menggunakan WA Grup setiap kelas,” katanya, Rabu (25/8/2021).

Kemampuan penggunaan teknologi informasi dari para pengajar pun semakin bertambah seiring dengan tuntutan keadaan pandemi yang mengharuskan pembelajaran daring. Ia mengatakan selain melalui pelatihan, guru juga mendapatkan pengetahuan dari berbagai sumber.

“Bapak ibu guru sangat adaptif selain itu sekolah memberikan fasilitasi, ada tim e-learning yang siap membantu guru yang masih kesulitan dengan teknologi informasi. Kami ada tim khusus untuk IT,” katanya.

Ia mengatakan salah satu kendala yang masih terus diupayakan adalah menjadikan siswa agar disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran serta mengerjakan tugas. Hal ini terus diupayakan melalui kerja sama dengan orangtua serta membuat aplikasi secara mandiri bernama jurnalpembelajaran. Aplikasi ini dibuat melalui kerja sama dengan vendor, namun semua substansi isi disusun oleh tim guru SMAN 8 Jogja.

“Di aplikasi Jurnal Pembelajaran ini bisa terdeteksi, guru memberikan materi apa, di jam itu siswa yang tidak hadir, tidak ikut KBM siapa, itu terlihat dan kami sampaikan laporannya ke orangtua,” ucapnya.

Kepala SMA 1 Pakem Sleman Kristya Mintarja menambahkan secara teknis, sekolah daring tidak ada kendala yang signifikan. Karena pemerintah telah banyak menyediakan fasilitasi seperti kuota internet. Bahkan untuk mengantisipasi jika siswa kesulitan kuota maupun perangkat pembelajaran online, sekolahnya menyediakan sebanyak 180 tablet yang sewaktu-waktu bisa dipakai siswa dengan datang ke sekolah. Bahkan guru membuka konsultasi kepada siswa selama 24 jam terkait kesulitan materi yang disampaikan kepada siswa secara daring. Konsultasi itu dilakukan secara individu antara guru dengan siswa.

“Kalau dari teknis peralatan dan kemampuan guru yang sekarang makin adaptif juga, jadi tidak ada kendala. Kami ada tim IT yang secara khusus memberikan pendampingan kepada guru yang dulunya tidak familiar dengan IT, tim ini dari guru-guru muda, internet juga kecepatan tinggi. Tetapi saat ini memasuki tahun kedua pandemi, semua bisa berjalan lancar,” katanya.

Namun Kristya tidak menampik ada hal yang tidak bisa digantikan secara daring, yaitu nuansa emosional antara siswa dan guru seperti tercipta saat pembelajaran tatap muka. Timnya belum menemukan pola secara daring dapat menciptakan kedekatan emosional antara siswa dengan guru.

“Jadi yang belum tercipta itu nuansa psikologis ada kedekatan emosional, ini kami belum menemukan polanya kalau secara daring seperti apa. Kalau dari perangkat IT kami sudah lancar,” ucapnya.

Segera PTM

Dirjen PAUD dan Dikdasmen Kemendibud Jumeri mendorong wilayah yang sudah memasuki level 1, level 2 dan level 3 PPKM sesuai instruksi Mendagri segera memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Meski pun sebenarnya masih ada alternatif pembelajaran jarak jauh, namun disarankan untuk mengupayakan secara maksimal melalui koordinasi dengan kepala daerah untuk bisa membuka pembelajaran tatap muka.

Ia menilai PTM ini sangat ditunggu untuk memastikan tidak terlalu tertinggal dalam belajar serta dapat meminimalisasi berbagai persoalan saat PJJ. Proses PTM tentunya harus dilakukan sesuai kondisi, jika belum memungkinkan dilakukan 50% maka bisa dikurangi hanya dengan 25%. Terutama untuk siswa yang tidak memiliki atau mengalami keterbatasan perangkat pembelajaran online bisa didatangkan ke sekolah dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Risiko di rumah, saat anak-anak lemahnya pembelajaran kemudian ada risiko tutupnya satuan pendidikan swasta serta risiko lain yang menimpa bidang pendidikan. Mari kita berikhtiar segera membuka pembelajaran tatap muka terbatas untuk wilayah level 1 sampai level 3. kalau tidak bisa satu wilayah satu kabupaten maka bisa dimulai, terutama pada basis kecamatan yang dinilai sudah aman,” katanya.