Dispar DIY Siapkan Layanan Pendukung Pariwisata

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo - Istimewa
09 September 2021 07:47 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Dinas Pariwisata (Dispar) DIY tengah mengoptimalkan sejumlah layanan dalam mendukung penyelenggaraan wisata di masa pandemi dan PPKM level 3. Persiapan meliputi sarana dan prasarana protokol kesehatan, penggunaan aplikasi untuk menapis wisatawan, serta kelengkapan informasi diupayakan demi jalannya industri pariwisata dengan tetap memperhatikan keselamatan.

Kepala Dispar DIY, Singgih Raharjo menyatakan, ada berbagai kelengkapan yang saat ini tengah dipersiapkan pihaknya dalam pembukaan destinasi wisata di masa pandemi. Untuk sarana dan prasarana, Dispar memastikan bahwa setiap destinasi wajib menyediakan kelengkapan pendukung, tak terkecuali pula bagi sumber daya manusianya.

BACA JUGA : Tiga Objek Wisata DIY Boleh Buka, Ini Langkah Pemda

"Kemudian untuk Tourism Information Center [TIC] itu kan sifatnya sangat dibutuhkan oleh wisatawan, jadi basic kita menyediakan informasi itu adalah mengacu pada keinginan dan kebutuhan wisatawan, kita berusaha untuk memberikan itu. Sekarang ini karena sedang pandemi, tentu informasi itu lebih banyak ke digital, sehingga layanan online dan ofline kita kedepankan," ucap Singgih, Rabu (8/9/2021).

Singgih menyebut, TIC yang disediakan bagi wisatawan itu menyediakan beragam informasi berkaitan dengan peta wisata, informasi kuliner, hotel, maupun destinasi wisata baru yang unik di wilayah Jogja. TIC yang ditempatkan di Malioboro, stasiun, bandara, atau daerah lain juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas demi membuat wisatawan nyaman dan berasa disambut di tempat itu.

"Seperti yang di Malioboro, mereka bisa rehat sejenak sambil mencari informasi, kita kan menyediakan semacam lounge, mereka bisa duduk atau bersantai, ruangannya juga nyaman. Jadi bukan sekedar buat mencari informasi, banyak kegunaan lah. Kalau layanan informasi secara digital itu disana ada LED touchscreen yang akan menjelaskan informasi tadi, mereka juga bisa akses dari Visiting Jogja," kata Singgih.

BACA JUGA : Wisata Taman Pintar Jogja Akan Segera Dibuka

Di sisi lain, kelengkapan persyaratan bagi usaha pariwisata seperti CHSE dipastikan dipegang oleh masing-masing pengelola. Mereka wajib menjalankan Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) dalam operasionalnya di masa pandemi. Sampai dengan 2021 ini ada sebanyak 331 usaha pariwisata di DIY yang telah mengantongi sertifikat CHSE.

"Kita sebenarnya mendorong semuanya bisa memiliki itu, tapi kan ada kuota dan kemampuan melakukan audit itu terbatas soalnya seluruh Indonesia. Kita juga harus dan pastikan bahwa indikator yang ditetapkan dalam CHSE benar dijalankan karena ini kan sebenarnya penguat dari Pranatan Anyar Plesiran Jogja yang sebelumnya kita terapkan," ujarnya.

Tak hanya itu, Singgih mengungkapkan bahwa penapisan kepada wisatawan nantinya juga bakal diterapkan melalui dua aplikasi secara daring, yakni lewat Pedulilindungi dan Visiting Jogja. Dalam pelaksanaannya, Visiting Jogja akan berperan untuk reservasi wisatawan dan Pedulilindungi untuk menapis kondisi kesehatan serta kelengkapan dokumen lain dari wisatawan.

"Makanya saya berharap bahwa Visiting Jogja ini bisa disinkronkan dengan Pedulilindungi, jadi si pengguna akan otomatis menginfokan. Tapi dalam pelaksanaan dua-duanya harus jalan, sambil menunggu apakah ini bisa diintegrasikan, jadi Pedulilindungi dipakai untuk menapis dan Visiting Jogja untuk reservasi. Itu bagus kok penggunaannya dan mesti memang berdampingan, bayangan saya memang cukup hanya Visiting Jogja tapi itu bisa membaca QR Code dari Pedulilindungi lalu data dikirim ke pusat, syukur daerah juga bisa mengakses," jelasnya.

Kabid Pemasaran Dispar DIY, Marlina Handayani menyebut, TIC sangat berperan dalam mempromosikan wisata Jogja kepada para wisatawan. Para garda depan TIC yang melayani wisatawan dituntut untuk mengetahui seluk beluk kebutuhan yang diinginkan agar optimal dalam pelayanan. Namun di masa pandemi, pihaknya memilih sosial media sebagai sarana penyampai informasi kepada khalayak.

"Pemanfaatan TIC ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan tapi juga masyarakat umum, artinya mereka yang mau tanya soal apa saja pasti ke sana, memang tidak semuanya mengenai wisata, tapi menyeluruh. Misalnya soal hal tertentu yang ingin dilihat wisatawan di suatu daerah itu langsung ditanyakan, makanya kita berharap dan memastikan bahwa SDM-nya itu mengetahui secara benar dan menyeluruh soal semuanya, tidak sekedar pariwisata saja, jadi kalau di garda depan pelayanan itu kita harus pastikan bahwa hospitality, pelayan prima dan lain sebagainya itu harus diutamakan," katanya.

Sampai saat ini, dominasi wisatawan Prancis dan Belanda yang dulunya kerap berwisata ke DIY perlahan tergeser oleh wisatawan asal Malaysia, Singapura dan Jepang karena akses penerbangan yang kian mudah. Kehadiran TIC pun kian dipercantik di area bandara.