Di Jogja, Panggung Kafe Pindah ke Banyak Perempatan

Jogja Acoustic Management saat tampil di Perempatan Pojok Beteng Barat, Jogja, Senin (20/9/2021). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
25 September 2021 18:27 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAAnak-anak muda yang tergabung dalam Jogja Acoustic Management (JAM) akhir-akhir ini tampil di sejumlah persimpangan jalan di Jogja. Mereka menghibur pengendara jalan dengan alat musik lengkap layaknya di panggung kafe. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Ujang Hasanudin.

Sejumlah pengendara sepeda motor menoleh ke arah kiri di simpang empat Pojok Beteng Barat, Jogja, Senin (20/9/2021) siang lalu. Saat itu lampu pengatur lampu lalu lintas menyala merah tanda berhenti.

BACA JUGA: Ini Syarat Kampus Boleh Adakan Pembelajaran Tatap Muka

Mereka mencari arah suara yang lumayan keras terdengar tembang-tembang jawa dan lagu band-band terkenal yang terdengar di kiri jalan. Tidak lama ada dua orang yang menyodorkan kotak meminta sumbangan kepada para pengendara.

Nyanyian itu masih terdengar meski lampu lalu lintas menyala hijau tanda kendaraan harus jalan. Sepintas mereka seperti pengamen jalanan biasa. Namun dilihat dari alat musiknya cukup lengkap, mulai dari gitar listrik, mikrofon, stand mic, kajon, dan dilengkapi sound system. Peralatan tersebut jamak ditemui di kafe-kafe.

Peralatan musik tersebut disalurkan melalui aki sebagai tenaga listrik.  “Kami memang kumpulan orang yang senang musik,” kata Ristono alias Rei di sela-sela menyanyi.

Rei merupakan vokalis. Di sampingnya ada Akbar (backing vocal), Lantip Rilos (drum). Sementara Gofala Christian Samson dan Bayu Putra Aditya bertugas membawa kotak uang yang disodorkan kepada para pengendara kendaraan. Di JAM, Bayu Putra Aditya menjadi manajer.

JAM belum lama dibentuk. Sebelumnya para personel JAM sudah sering kumpul karena disatukan dengan hobi yang sama: bermusik. Ada penyanyi jalanan ada juga yang biasa tampil di kafe.

BACA JUGA: Jadi Pesepak Bola Terkaya Sejagat, Ini Sumber Kekayaan Cristiano Ronaldo

Sebelum terbentuk nama JAM, mereka sering mengisi atau ngamen dari kafe ke kafe atas permintaan pengelola kafe maupun atas permohonan sendiri. Namun sejak pandemi Covid-19 melanda, dan sejumlah kafe di Jogja tutup, mereka kehilangan penghasilan dan sarana berekspresi karena tidak ada tempat buat manggung.

Akhirnya diputuskan bersama turun ke jalan dengan skema dan alat musik yang sama standar kafe. Terdapat delapan grup JAM dalam manajemen yang sama yang tersebar di sejumlah persimpangan jalan di Jogja, di antaranya di simpang empat Wirobrajan, Jalan Godean, Pojok Beteng Timur, Pojok Beteng Wetan, simpang Pingit, simpang Patangpuluhan, dan simpang Ngabean.

Masing-masing grup terdiri dari 3-5 orang. Mereka “Paling sekitar tiga jam sudah. Tergantung cuaca juga,” kata Bayu.

Waktunya terkadang pagi, terkadang sore tergantung situasi agar tidak bertabrakan dengan pengamen lainnya. Meski mengamen hanya beberapa jam, tetapi dalam sekali “manggung” mereka bisa mendapat uang lebih dari satu juta, bahkan dalam sejam pernah mendapatkan Rp1,7 juta. Hasil mengamen tersebut tidak semua dibagikan ke tiap personel, tetapi ditabung untuk memperbarui alat musik dan membuat kostum. “Kami juga modal jutaan untuk membeli alat musik dan kostum,” ucap Bayu.

Bayu mengatakan JAM tidak ingin sekadar mengamen, tetapi menyalurkan hobi dan menghibur. Ia tidak ingin orang yang memberikan uang hanya karena kasihan tetapi memang orang tersebut merasa terhibur.  Tidak heran dengan aksinya tersebut banyak masyarakat yang merasa terhibur dengan memberikan uang. Bahkan akhir-akhir ini mulai ada kafe lagi yang memanggilnya tampil.

“Kemarin sudah kalaborasi live streaming sama Yosi. Rencana 2 Oktober jadi pembuka launching single di sebuah kafe,” ujar Bayu.

BACA JUGA: Desak Jokowi Batalkan Pemecatan Pegawai KPK, BEM SI Ancam Turun ke Jalan

Reza Aditya, salah satu vokalis JAM menambahkan awalnya dia pengamen jalanan, tetapi ikut bergabung sejak beberapa bulan lalu. Dia senang dengan grup tersebut karena punya hobi yang sama. Selain mengamen di jalan, dia juga kerap dilibatkan manggung di kafe. Soal penghasilan dia enggan menyebutkan. “Ya lumayan lah,” ucapnya berkelakar.

Meski mengamen dengan alat musik yang lengkap. Tidak jarang terkadang didatangi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang melarang mereka mengamen di perempatan. Namun akhir-akhir ini sudah tidak ada lagi razia. “Kalau razia, kami menghargai. Berhenti dulu,” ucap Reza.