Banyak Jalur Menuju Destinasi Wisata, Pemda DIY Sulit Halau Pelancong

Suasana di Jalan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (5/9/2021). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
27 September 2021 16:27 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pemda DIY mengaku kesulitan menghalau rombongan wisatawan yang masuk ke sejumlah objek wisata di DIY terutama destinasi yang belum dibolehkan untuk beroperasi di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 ini. Alasannya karena jalur menuju destinasi cukup banyak.

Sekedar diketahui, DIY baru membuka tujuh destinasi sesuai rekomendasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), yakni Tebing Breksi Sleman; Kawasan Wisata Candi Ratu Boko; Gembira Loka Zoo Jogja; Pinus Sari, Pinus Pengger, Seribu Batu Mangunan Bantul, dan Taman Wisata Merapi Park. Namun faktanya di lapangan sejumlah destinasi yang belum boleh buka dipadati wisatawan setiap akhir pekan.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan dari hasil evaluasi tujuh destinasi wisata yang sudah boleh buka secara resmi sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, mulai dari menjaga jarak, infrastruktur pendukung protokol kesehatan, hingga menerapkan aplikasi PeduliLindungi sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 di Gunungkidul Sasar 9.000 Warga Per Hari

“Ya justru yang kita khawatirkan itu adalah tempat-tempat yang justru belum ditunjuk jadi destinasi tetapi sudah menerima tamu yang kemudian tamu itu tidak disaring sama sekali ya tentu ini jadi perhatian serius,” kata Baskara Aji, di Kompleks Kepatihan, Senin (27/9/2021).

Oleh karena pihaknya memohon kepada pengelola destinasi supaya tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat. Sebab ada kemungkinan yang beersangkutan atau pengelola destinasi itu tidak bisa menolak wisatawan datang karena tempatnya terbuka, seprti destinasi wisata pantai itu pintunya terbuka karena menjadi satu dengan jalan keluar masuk masyarakat setempat.

Kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga supaya tetap ada prokes di lokasi destinasi wsiata, “Wisatawan untuk dihalau sudah sangat sulit dengan kondisi seperti ini walaupun saya melihat jalan-jalan utama menuju destinasi masih disekat ya misalnya menuju Parangtritis tapi toh masih banyak jalan lain dilewati apalagi sekarang ada google map, gampang mencari itu,” ujar Baskara Aji.

Solusinya, kata dia, adalah penerapan ganjil genap yang perlu ditegakkan supaya wisatawan merata dan tidak terkonsentrasi di suatu tempat yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Selain itu, mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) ini juga meminta pengelola destinasi untuk bertanggung jawab. Jangan buka terlebih dahulu sebelum ada rekomendasi untuk beroperasi.

Baca juga: Kabar Baik untuk Insan Pariwisata, Alokasi Hibah Pariwisata Jadi Rp3,7 Triliun Tahun Ini

Sementara bagi destinasi yang terbuka atau jalur masuknya menjadi satu dengan masyarakat sekitar destinasi wisata perlu waspada dengan menjaga protokol kesehatan yang ketat.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana juga mengaku saat ini aktivitas masyarakat sudah mulai ramai di tempat-tempat umum dan di destinasi wisata. Dia juga tidak menyalahkan masyarakat karena masyarakat juga didorong oleh kebutuhan ekonomi. Namun jangan sampai seolah Covid-19 sudah normal karena ketika kasus Covid-19 naik lagi dan tempat umum ditutup akan merugikan semua pihak.

“Yang penting penjagaan prokes diberbagai tempat umum harus disiplinkan. Kalau prokes tidak dijaga sangat khawatir lonjakan kasus kita terpaksa menutup lagi seperti PPKM lalu. Berharap masyarakt patuh prokes betul-betul disiplin agar jangan sampai terjadi peningkatan kasus lagi,” kata Huda.