Pemkot Jogja Gelorakan Permainan Tradisional Rakyat

Heroe Poerwadi (paling kanan) dan Yetti Martanti (keempat dari kanan) saat memberikan hadiah bagi pemenang lomba Festival Permainan Rakyat di di Hotel Harper, Jogja, Selasa (5/10/2021). - Ist/Pemkot Jogja
06 Oktober 2021 11:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) menggelar Festival Permainan Rakyat. Kegiatan ini termasuk rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kota Jogja Ke-265.

Peserta yang terdiri dari 14 kemantren se-Kota Jogja mengirimkan video yang berisi aktivitas permainan rakyat. Video ini diunggah di Youtube Dinas Kebudayaan Kota Jogja sejak 1 Oktober 2021.

Setelah mendapat penilaian, juara satu sampai tiga Festival Permainan Rakyat yaitu Kemantren Kraton, Kemantren Mantrijeron, dan Kemantren Kotagede. Adapula juara favorit dengan jumlah penonton terbanyak diperoleh Kemantren Jetis.

Menurut Kepala Disbud Kota Jogja, Yetti Martanti, Festival Permainan Rakyat menampilkan permainan anak tradisional secara kelompok maupun individu. Permainan tradisional merupakan salah satu permainan anak-anak yang berbentuk secara tradisional dan diwariskan secara turun temurun. Permainan ini juga memiliki banyak variasi.

"Tujuan diselenggarakan festival ini adalah sebagai bentuk pembinaan, pelestarian, serta pengembangan kebudayaan. Permainan rakyat merupakan salah satu aset budaya yang mempunyai ciri khas kebudayaan suatu bangsa dan mempunyai nilai-nilai pendidikan karakter," kata Yetti dalam acara pemberian hadiah bagi pemenang di Hotel Harper, Jogja, Selasa (5/10/2021).

Baca juga: Pemkot Membuka Pekan HUT Kota Jogja ke-265, Ini Sederet Agendanya...

Masyarakat Kota Jogja memiliki banyak permainan rakyat dan cukup popular. Sayangnya eksistensi permainan ini mulai pudar. Sehingga perlu upaya pelestarian yang sistematis dan terencana, salah satunya dengan menghidupkan kembali permainan rakyat.

Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, permainan tradisional merupakan warisan budaya bangsa dan warisan dari nenek moyang. Keberadaannya harus dilestarikan. Keberadaan dolanan atau permainan tradisional saat ini bisa dikatakan mengkhawatirkan dan hampir terlupakan. Kondisi yang demikian membuat pemerintah terus berupaya memberikan yang terbaik dalam mempertahankan warisan budaya bangsa.

"Kondisi susah ternyata memberikan kami kekuatan untuk menghadapinya bersama-sama. Di dalam seni budaya, kalau kami berfikir positif selalu ada jalan untuk bangkit,” kata Heroe.

“HUT tahun lalu punya tema Tan Mingkuh Tumapak ing Jaman Anyar [dengan harapan] terus berkarya mencapai sesuatu. Untuk tahun ini Tanggap, Tanggon, Tuwuh merupakan bentuk pencapaian sekarang yang memang luar biasa. Semoga ke depannya akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi," lanjut dia.

Tema ini mengandung harapan untuk selalu Tanggap dalam menuntaskan kasus Covid-19, Tanggon agar masyarakat Kota Jogja bisa menyelesaikan berbagai masalah dan menjadi pribadi yang tangguh, serta Tuwuh agar anak-anak bisa belajar di sekolah lagi, wisatawan berdatangan, dan pandai menjaga pertumbuhan lebih baik.

Di masa seperti ini, adaptasi juga menjadi suatu keharusan, termasuk penampilan seniman dalam mengekspresikan karyanya. "Salah satu tantangan bagi seniman dan budayawan ngelawak di depan kamera atau main musik tanpa ditonton [secara langsung]. Bagaimana para seniman dan budayawan harus bisa keluar auranya untuk membuat imajinasi bagi para penontonnya. Ini merupakan hal yang baru karena panggung hiburan di masa pandemi ini tidak sama lagi seperti biasanya," kata Heroe.