Disperindag Buka Diskusi Penerapan Peduli Lindungi  

Kepala Disperindag Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono dalam Focus Group Discussion (FGD) Kesiapan Pasar Rakyat untuk Penerapan Peduli Lindungi, Jumat (8/10). (Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo)
09 Oktober 2021 07:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja akan membuka ruang diskusi dengan para pedagang terkait rencana penerapan aplikasi Peduli Lindungi di pasar tradisional.

Kepala Disperindag Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono mengatakan terkait rencana penerapan aplikasi Peduli Lindungi di pasar, jawatannya akan membuka ruang diskusi, tidak serta merta akan menerapkan. Ia memahami banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

“Jadi karena memahami pasar tempat berkumpulnya banyak orang. Selalu kami komunikasikan, kami minta pendapat dari perwakilan paguyuban. Artinya kami semangat untuk menjaga protokol kesehatan [prokes]. Nanti jika memang benar-benar sudah diterapkan kami lihat juga, evaluasi,” ucap Yunianto, dalam Focus Group Discussion (FGD) Kesiapan Pasar Rakyat untuk Penerapan Peduli Lindungi, Jumat (8/10).

Yunianto juga mengatakan Disperindag Kota Jogja terus mendorong penerapan prokes termasuk percepatan vaksinasi. “Dari 13.000 pelaku di pasar, sudah tervaksin 90 persen lebih, hanya kurang sekitar 800an. Akan segera kami lakukan vaksinasi. Sudah ada komitmen pedagang,” ujar Yunianto.

Ketua Paguyuban Pasar Kota Jogja, Budi Kusuma mengatakan selama pandemi Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kondisi pedagang memang terpukul. Adanya pelonggaran beberapa waktu terakhir sedikit membantu para pedagang.

Budi menyinggung terkait penerapan prokes, para pedagang berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga.

“Kami selalu gembor-gemborkan untuk mengingatkan menerapkan prokes. Kami imbau untuk tidak berkerumun. Membuat jalur masuk dan keluar yang berbeda,” ucapnya.

Terkait dengan rencana penerapan aplikasi Peduli Lindungi, Budi mengharapkan adanya diskusi terlebih dahulu dengan pedagang. “Itu niat baik, pasti kami mendukung, tetapi ada sejumlah hal yang perlu jadi perhatian juga ketika diterapkan. Kami harapkan ada diskusi terlebih dahulu,” ujar Budi.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian menurut Budi, yaitu belum semua menggunakan ponsel pintar. Kemudian, SDM yang heterogen, kemungkinan memiliki ponsel pintar tetapi tidak memahami penggunaan aplikasi. “Ada ketakutan pedagang juga semakin sepi, kemudian siapkah tenaga menjaga di pintu-pintu masuk juga?” ujarnya.