Mengenal Jamu Ginggang Resep Asli Abdi Dalem Pakualaman

Rudi Supriyadi, pengelola kedai jamu tradisional Jamu Ginggang yang juga merupakan generasi penerus kelima. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
09 Oktober 2021 19:17 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah warung jamu yang memungkinkan pembeli minum di tempat ada di tengah Kota Jogja. Resepnya pun asli dari abdi dalem Pakualaman. Berikut laporan dari wartawan Harian Jogja, Lajeng Padmaratri.

Berkunjung ke warung Jamu Ginggang seolah membawa kita kembali ke masa lampau. Warung jamu itu menempati sebuah kios di barat Puro Pakualaman, tepatnya di Jalan Masjid No. 32, Gunungketur, Pakualaman, Kota Jogja.

Di sana, sebuah bangunan bergaya klasik menghadap utara dengan papan nama bertuliskan "Ginggang". Dari luar, tampak interior warung jamu tersebut ala tempo dulu.

Melintasi pintu masuknya, pengunjung langsung disuguhi deretan menu yang ditawarkan Jamu Ginggang. Mulai dari beras kencur, kunir asem, temulawak, galian singset, sehat pria, sehat wanita, paitan, dan lain-lain. Harganya mulai dari Rp4.000 untuk satu gelas jamu.

Pengunjung bisa menyebutkan menu yang diinginkan maupun menyampaikan keluhan kesehatan pada penjualnya. Setelah itu, Anda tinggal duduk manis dan menikmati sajian minuman rempah tradisional itu di rumah bergaya lawas itu.

Warung jamu yang buka sejak pagi hingga malam itu selalu ramai dikunjungi oleh beragam kalangan. Ada yang datang sendiri dan minum di tempat lalu pulang setelah jamunya habis. Ada pula yang bertahan sejenak untuk mengobrol bersama sejumlah rekannya. Kebanyakan dari mereka adalah pelanggan setia warung jamu itu selama puluhan tahun.

Beberapa tahun lagi, Jamu Ginggang akan mencapai usianya yang seabad. Resepnya masih asli dari abdi dalem Pura Pakualaman yang khusus meracik jamu untuk keluarga Kadipaten. Saat ini, resep jamu itu telah diturunkan ke generasi kelimanya.

Hari itu, penulis beruntung bisa bertemu dengan Rudi Supriyadi, 57, pengelola Jamu Ginggang saat ini. Ia bercerita bahwa Jamu Ginggang diawali oleh seorang abdi dalem khusus tabib yaitu Mbah Joyo yang sudah meracik jamu sejak 1927.

"Saat itu, simbah saya meracik jamu hanya untuk keluarga Kadipaten. Lalu KGPAA Paku Alam VII memperbolehkan menjual ke masyarakat umum. Jangan dibayangkan warung seperti sekarang, dulu hanya emplek-emplek di pinggir jalan. Tapi dulu malah yang minum banyak dari kalangan sinyo-sinyo [orang Belanda] itu," ungkap Rudi kepada Harian Jogja, akhir pekan lalu.

Ia beranggapan para sinyo itu justru berpikiran maju lantaran menggemari jamu. Sebab, menurutnya rutinitas minum jamu ialah pola hidup sehat yang justru banyak dipraktikkan oleh orang-orang yang berwawasan luas dan menjaga kesehatan.

"Orang yang cerdas dan paham kesehatan itu pasti minum jamu. Soalnya pencegahan penyakit yang baik dilakukan dengan minum jamu. Jamu bukan penyembuh, tapi upaya preventif. Memang enggak instan, tapi kalau rutin diminum, badan terjaga imunnya, jadi tidak gampang sakit," ujarnya.

Kini, kedai jamunya yang buka setiap hari itu dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari remaja perempuan yang mulai menstruasi, anak kuliahan, turis, hingga orang tua yang sudah lama berlangganan Jamu Ginggang.

 

Sebelum pandemi, pemandangan bule datang ke Jamu Ginggang menjadi hal yang biasa. Kini, hal itu tidak ada lagi. "Sekarang yang datang lokalan saja. Malah semenjak pandemi ini yang datang banyak anak mudanya. Saya mengapresiasi mereka sudah paham manfaat jamu tradisional," kata anak keenam dari 7 bersaudara ini.

Jangan Ada Jarak

Nama Jamu Ginggang berasal dari istilah "tansah renggang". Rudi menjelaskan artinya agar tidak ada jarak antara Kraton dengan masyarakat. Hal itu terwujud dari diperbolehkannya masyarakat umum di luar keraton untuk mengonsumsi resep ramuan tradisional tersebut.

Meski zaman berganti, resep jamu ala Ginggang juga tidak berubah. Rudi bahkan menggunakan catatan resep jamu dari simbahnya sebagai patokan meracik jamu hingga saat ini. Cara pengolahannya pun masih tradisional dengan cara ditumbuk manual. Meski demikian, citarasanya tetap autentik meski sudah sampai generasi kelima.

"Bikin jamu itu harus steril dan bersih. Jadi proses produksinya dikerjakan sejak pagi hari, habis subuh yang meracik harus sudah mandi dulu, lalu peralatan dibersihkan. Semuanya harus bersih, karena ini akan masuk langsung ke tubuh, jadi harus higienis," terang Rudi.

Sementara itu, bahan-bahan yang digunakan juga masih mudah diperoleh di Jogja dan sekitarnya. Salah satunya, ia menggunakan kencur yang ditanam di lahan pertanian di Kulonprogo karena kualitasnya dirasa paling bagus dibandingkan wilayah lainnya.

Jika semuanya dipastikan baik, mulai dari bahan bakunya, proses pengolahannya, hingga penyajiannya, hasilnya diyakini Rudi akan menjadi baik pula bagi tubuh. "Saya enggak bilang jamu saya yang terbaik. Mangga saja bisa minum jamu yang lain, yang penting minum jamu," kata dia.

Untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman, Rudi pun membuat inovasi ramuan siap seduh di kedainya. Bahkan, jamunya pun bisa dipesan dengan layanan pengiriman ojek daring yang saat ini digandrungi anak muda.

"Kalau untuk inovasi resep, kencur campur susu itu juga disenengi anak muda. Tapi itu untuk pancingan saja biar mereka mau coba jamu yang lain," kata dia.

Kepada pembaca, Rudi menganjurkan untuk minum jamu tradisional setiap hari secara rutin. Alangkah baiknya jamu diminum sebelum berangkat tidur, sehingga keesokan harinya badan segar. Selain itu, momen yang tepat untuk minum jamu yaitu seusai berolahraga.